Friday, July 12, 2013

POOR ECONOMICS: Cara Lain Mengatasi Kemiskinan Global


Majalah  Financial Times Goldman Sachs menganugerahi dua ekonom muda dari MIT sebuah penghargaan untuk buku mereka, Poor Economics: A Radical Rethinking ofthe Way to Fight Global Poverty, sebagai Buku Bisnis Terbaik 2011. Buku hasil penelitian sosial itu tiba-tiba banyak dilirik para penentu keputusan di perusahaan. Adakah cara lain mengatasi kemiskinan global?

Mengapa seorang maroko yang tidak punya cukup uang untuk makan bisa membeli sebuah televisi? Mengapa anak-anak di daerah miskin punya kesulitan untuk belajar, termasuk bila mereka telah bersekolah? Mengapa orang-orang yang paling miskin di propinsi Maharashtra di India menghabiskan 7% dari anggaran belanja mereka untuk makanan dan membeli gula?

Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, dua ekonom dari MIT (Massachusetts Institute of Technology), Cambridge, mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit tadi dalam investigasi mereka. Sebuah buku yang mereka tulis, Poor Economics: ARadical Rethinking of the Way to Fight Global Poverty, mengurai secara detail tema besar tentang kemiskinan dan alternatif baru mengatasi kemiskinan dunia.

Sebuah Strategi Radikal

Berbeda dari ekonom-ekonom lain yang berkonsentrasi pada pertanyaan-pertanyaan makro, seperti bantuan pada yang memerlukan, mereka membahas tema kemiskinan dengan cara yang sangat mirip dengan bagaimana para peneliti medis membuat penemuan penanganan sebuah penyakit: melalui percobaan-percobaan klinis. Duflo yang berbicara tentang tema itu pada wawancara TED Talks Februari 2010 menjelaskan, bahwa efek-efek bantuan itu umumnya sulit diukur, tetapi adalah “mungkin mengetahui apa saja dari bantuan-bantuan itu yang membantu dan apa saja yang tidak, melalui solusi yang dipilih lewat eksperimen acak”.

Dalam metode yang diterapkan, para peneliti medis memasukkan proyek-proyek sosial pada percobaan-percobaan ilmiah mereka yang teliti dalam penggunaan obat-obatan. Demikian, politik-politik manajemen terlihat bebas diperkirakan, kata Duflo, ketika jelas “apa yang berfungsi dan apa yang tidak dan mengapa”. Tidak ada solusi yang sifatnya mujizat, tetapi solusi khusus yang terukur—seperti, misalnya, memasukkan makanan sebagai cara mendorong imunisasi, atau tempat-tempat tidur subsidi yang berkelambu untuk mengurangi penyakit malaria—bisa memiliki pengaruh yang berarti dalam mengurangi kemiskinan, demikian observasi dari Banerjee dan Duflo.

Sebenarnya, Banerjee dan Duflo tidak pernah berharap “Poor Economics” menjadi akhirnya sebuah buku bisnis yang dinilai baik. “Kami tak pernah tahu persis secara ilmiah kalau buku kami ini merupakan sebuah buku bisnis”, kata Duflo. Namun perhatian publik ekonomi merebak ketika buku itu diberi penghargaan sebagai Buku Bisnis Terbaik 2011 versi majalah  Financial Times Goldman Sachs.

Bagi Duflo, penghargaan itu memang membuatnya sangat puas, namun juga mengejutkan. “Kami tak mengerti bagaimana buku kami bisa dipertimbangkan sebagai buku bisnis kalau tujuannya sebenarnya adalah menemukan media dan memikirkan usulan-usulan yang berkaitan dengan kemiskinan di dunia. Tetapi kami merasa puas ketika tahu bahwa beberapa pengusaha dan orang-orang dari kalangan bisnis tertarik pada penelitian kami.”

Cara Terbaik Menghadapi Kemiskinan?

Menurut Abhijit Banerjee, tesis utama buku mereka adalah bahwa tidak ada cara yang satu-satunya dalam menghadapi kemiskinan. Artinya, pertanyaan di atas pada dirinya sendiri salah. Tidak ada satu tindakan yang tunggal yang mampu mengatasi masalah kemiskinan. Yang ada, mungkin, ratusan cara yang bisa diadopsi, yang setiap cara akan punya sebuah pengaruh, yang dengan cara demikian kita akan dapat menentukan cara yang tepat.

Tak ada bukti bahwa cara tertertu bisa lebih penting dari yang lain. Maka, “resep universal untuk semua masalah kemiskinan, untuk saya hanyalah sebuah ilusi.” Namun ilusi ini merupakan ilusi yang menantang, karena membawa kita pada sebuah keyakinan bahwa kemiskinan bisa diatasi dengan satu cara saja. Namun demikian, data-data tidak mendukung pemikiran seperti itu.

Sejumlah Hal Penting

Duflo dan Banerjee meyakini bahwa dalam berbagai cara memberantas kemiskinan, ada beberapa hal yang fundamental. Tidak dibicarakan di sini bahwa hal-hal itu yang paling penting, tetapi sejauh para penulis tahu sampai sekarang, itu yang paling efektif. Namun, itu tidak berarti bahwa di masa depan tidak ada ukuran lain yang jauh lebih efektif.

Pengetahuan yang kita paparkan sekarang menunjukkan kalau ada satu wilayah abu-abu yang kita tidak tahu dengan baik bagaimana menanganinya. Tetapi, ada hal-hal yang kita tahu dan yang bisa berlaku di sektor-sektor lain. Mendidik anak-anak, misalnya, yang adalah salah satu dari hal tersebut, menyeimbangkan pendidikan yang bermutu sejak usia dini. Pemikiran dari sektor kesehatan juga punya kemungkinan pengaruh sosial dan politik terhadap penduduk-penduduk miskin. Dalam kasus ini menyangkut kebutuhan-kebutuhan yang terukur seperti akses terbaik dalam hal kesehatan, seperti menemukan cara memasukkan zat besi, vitamin dan lain-lain ke dalam makanan yang dikonsumsi orang-orang miskin, yang hasilnya akan positif dari sudut pandang medis. Menyuplai penduduk miskin sebuah aset, seekor sapi, misalnya, dan kemudian membantu mereka dalam memelihara sapi itu juga merupakan hal yang baik. Hal-hal tersebut, menurut pendapat kami, adalah sejumlah cara yang efektif yang bisa dijalankan kalau kita ingin mengakhiri kemiskinan.

Dalam sebuah presentasi konferensi di Goa, India, Banerjee menekankan pentingnya mutu pendidikan, kurikulum dan lain-lain. Untuk kasus orang-orang miskin, pendidikan anak-anak biasanya dianggap sebagai paspor tunggal untuk memberantas kemiskinan, tapi apakah penting di sini bicara soal mutu pendidikan? Tentu saja. Kalau tidak tahu membaca,  atau tidak memiliki pengetahuan dasar tentang matematika, di umur 13-14 tahun—dan banyak jumlahnya pelajar-pelajar yang tidak memiliki kemampuan ini—semua usaha yang akan dilakukan untuk memberantas kemiskinan bisa sia-sia saja.

Demikian juga, kalau anak-anak masuk dalam pendidikan yang tidak bermutu, sebenarnya itu bisa dimasukan dalam sebuah tindakan kriminal. Sekolah dengan situasi tak seorang pun yang berbicara dengan para murid, kelas jalan terus meski mereka tidak mengerti apa-apa. Tak ada yang lebih jelek dari pendidikan ini. Kita tidak akan percaya bahwa kita sedang mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang baik bila demikian.

Bagi Duflo, meskipun tidak benar mengatakan tidak pergi sekolah lebih baik daripada pergi ke sekolah yang jelek, kenyataan pendidikan yang diwarnai dengan ketidaktahuan dan ketertinggalan adalah sebuah penderitaan yang sebenarnya.

Definisi Kemiskinan, Sebuah Kesewenangan

Banerjee berpendapat, tak ada cara tunggal mendefinisikan kemiskinan yang bisa memuaskan semua. Definisi kemiskinan itu  kesewenangan. Ketika kemiskinan itu didefinisikan, kita perlu memutuskan yang perlu diuraikan dengan kemiskinan itu.  Kalau Anda mencoba memasukkan sekelompok orang yang putus asa yang memerlukan bantuan langsung, itu hanyalah satu hal. Kalau Anda ingin menjelaskan tipe sponsor dana hidup apa yang tidak bisa diterima, dan yang negara perlukan untuk, dengan cara tertentu, mengatasi masalah, situasinya berbeda-beda.

Tidak ada definisi yang independen dari pertanyaan tentang apa kemiskinan itu. Kalau pertanyaannya dari sudut pandang politis, maka: “bagaimana seharusnya saya menangani bantuan darurat?”  Definisinya akan mengikuti garis yang sama. Sangat berbeda, misalnya, kalau kita menetapkan satu tujuan di 15 tahun ke depan. Garis kemiskinan bagi orang-orang yang sungguh miskin harus lebih rendah daripada tujuan kita membagikan ke semua setidaknya sejumlah “X” setelah 15 tahun. Semua tergantung pada pertanyaan politis yang kita coba jawab.

Menurut Duflo, secara umum ada banyak orang miskin, maka mereka merupakan sebuah pasar. Ada beberapa bentuk perusahaan sosial yang telah melakukan itu dengan baik di aspek ini, dan mereka ada di situ agar kita semua bisa melihat. Banyak orang yang terinspirasi C.K Prahalad mengatakan sangat mungkin mendapatkan uang dengan membantu orang miskin. Namun demikian, dalam hal ini kita perlu sangat berhati-hati. Kita tidak mengatakan kalau kesempatan itu tidak ada. Kadang, benar bahwa ada sebuah pasar dan bisa mungkin mengolahnya dengan cara kreatif. Namun demikian, ada juga banyak hal yang orang miskin perlukan dan pasar tidak bisa memberikannya. Salah bila menganggap pasar bisa memberikan semua pada orang miskin. Itu jelas gagasan yang salah. (Bersambung di sini)

* Artikel diterjemahkan dan diolah dari hasil wawancara redaksi portal manajemen Wharton, Knowledge@Wharton dengan Abhijit Banerjee dan Esther DufloLas recetas para acabar con la pobreza de los autores de "Economía de los pobres" di http://www.wharton.universia.net

0 comments:

Post a Comment

Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda