Majalah
Financial Times Goldman Sachs menganugerahi dua ekonom muda dari MIT sebuah
penghargaan untuk buku mereka, Poor Economics: A Radical Rethinking ofthe Way to Fight Global Poverty, sebagai Buku Bisnis Terbaik 2011. Buku hasil penelitian sosial itu tiba-tiba banyak dilirik para penentu keputusan di perusahaan. Adakah cara lain mengatasi kemiskinan global?
Mengapa seorang maroko yang tidak punya cukup
uang untuk makan bisa membeli sebuah televisi? Mengapa anak-anak di daerah
miskin punya kesulitan untuk belajar, termasuk bila mereka telah bersekolah?
Mengapa orang-orang yang paling miskin di propinsi Maharashtra di India
menghabiskan 7% dari anggaran belanja mereka untuk makanan dan membeli gula?
Abhijit Banerjee
dan Esther Duflo, dua ekonom dari MIT (Massachusetts Institute of Technology),
Cambridge, mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit tadi dalam
investigasi mereka. Sebuah buku yang mereka tulis, Poor Economics: ARadical Rethinking of the Way to Fight Global Poverty, mengurai secara
detail tema besar tentang kemiskinan dan alternatif baru mengatasi kemiskinan
dunia.
Sebuah Strategi Radikal
Berbeda dari
ekonom-ekonom lain yang berkonsentrasi pada pertanyaan-pertanyaan makro,
seperti bantuan pada yang memerlukan, mereka membahas tema kemiskinan dengan
cara yang sangat mirip dengan bagaimana para peneliti medis membuat penemuan
penanganan sebuah penyakit: melalui percobaan-percobaan klinis. Duflo yang
berbicara tentang tema itu pada wawancara TED Talks Februari 2010 menjelaskan,
bahwa efek-efek bantuan itu umumnya sulit diukur, tetapi adalah “mungkin
mengetahui apa saja dari bantuan-bantuan itu yang membantu dan apa saja yang
tidak, melalui solusi yang dipilih lewat eksperimen acak”.
Dalam metode yang
diterapkan, para peneliti medis memasukkan proyek-proyek sosial pada
percobaan-percobaan ilmiah mereka yang teliti dalam penggunaan obat-obatan.
Demikian, politik-politik manajemen terlihat bebas diperkirakan, kata Duflo,
ketika jelas “apa yang berfungsi dan apa yang tidak dan mengapa”. Tidak ada
solusi yang sifatnya mujizat, tetapi solusi khusus yang terukur—seperti,
misalnya, memasukkan makanan sebagai cara mendorong imunisasi, atau
tempat-tempat tidur subsidi yang berkelambu untuk mengurangi penyakit
malaria—bisa memiliki pengaruh yang berarti dalam mengurangi kemiskinan,
demikian observasi dari Banerjee dan Duflo.
Sebenarnya,
Banerjee dan Duflo tidak pernah berharap “Poor Economics” menjadi akhirnya
sebuah buku bisnis yang dinilai baik. “Kami tak pernah tahu persis secara ilmiah
kalau buku kami ini merupakan sebuah buku bisnis”, kata Duflo. Namun perhatian
publik ekonomi merebak ketika buku itu diberi penghargaan sebagai Buku Bisnis Terbaik
2011 versi majalah Financial Times
Goldman Sachs.
Bagi Duflo,
penghargaan itu memang membuatnya sangat puas, namun juga mengejutkan. “Kami
tak mengerti bagaimana buku kami bisa dipertimbangkan sebagai buku bisnis kalau
tujuannya sebenarnya adalah menemukan media dan memikirkan usulan-usulan yang
berkaitan dengan kemiskinan di dunia. Tetapi kami merasa puas ketika tahu bahwa beberapa pengusaha dan
orang-orang dari kalangan bisnis tertarik pada penelitian kami.”
Cara Terbaik Menghadapi Kemiskinan?
Menurut Abhijit Banerjee, tesis utama buku mereka adalah bahwa tidak ada cara
yang satu-satunya dalam menghadapi kemiskinan. Artinya, pertanyaan di atas pada
dirinya sendiri salah. Tidak ada satu tindakan yang tunggal yang mampu
mengatasi masalah kemiskinan. Yang ada, mungkin, ratusan cara yang bisa
diadopsi, yang setiap cara akan punya sebuah pengaruh, yang dengan cara demikian
kita akan dapat menentukan cara yang tepat.
Tak ada bukti bahwa cara tertertu bisa lebih
penting dari yang lain. Maka, “resep universal untuk semua masalah kemiskinan,
untuk saya hanyalah sebuah ilusi.” Namun ilusi ini merupakan ilusi yang menantang,
karena membawa kita pada sebuah keyakinan bahwa kemiskinan bisa diatasi dengan satu
cara saja. Namun demikian, data-data tidak mendukung pemikiran seperti itu.
Sejumlah Hal Penting
Duflo dan Banerjee meyakini bahwa dalam berbagai
cara memberantas kemiskinan, ada beberapa hal yang fundamental. Tidak dibicarakan
di sini bahwa hal-hal itu yang paling penting, tetapi sejauh para penulis tahu sampai
sekarang, itu yang paling efektif. Namun, itu tidak berarti bahwa di masa depan
tidak ada ukuran lain yang jauh lebih efektif.
Pengetahuan yang kita paparkan sekarang
menunjukkan kalau ada satu wilayah abu-abu yang kita tidak tahu dengan baik
bagaimana menanganinya. Tetapi, ada hal-hal yang kita tahu dan yang bisa
berlaku di sektor-sektor lain. Mendidik anak-anak, misalnya, yang adalah salah
satu dari hal tersebut, menyeimbangkan pendidikan yang bermutu sejak usia dini.
Pemikiran dari sektor kesehatan juga punya kemungkinan pengaruh sosial dan
politik terhadap penduduk-penduduk miskin. Dalam kasus ini menyangkut
kebutuhan-kebutuhan yang terukur seperti akses terbaik dalam hal kesehatan,
seperti menemukan cara memasukkan zat besi, vitamin dan lain-lain ke dalam
makanan yang dikonsumsi orang-orang miskin, yang hasilnya akan positif dari
sudut pandang medis. Menyuplai penduduk miskin sebuah aset, seekor sapi,
misalnya, dan kemudian membantu mereka dalam memelihara sapi itu juga merupakan
hal yang baik. Hal-hal tersebut, menurut pendapat kami, adalah sejumlah cara
yang efektif yang bisa dijalankan kalau kita ingin mengakhiri kemiskinan.
Dalam sebuah presentasi konferensi di Goa, India, Banerjee
menekankan pentingnya mutu pendidikan, kurikulum dan lain-lain. Untuk kasus
orang-orang miskin, pendidikan anak-anak biasanya dianggap sebagai paspor
tunggal untuk memberantas kemiskinan, tapi apakah penting di sini bicara soal
mutu pendidikan? Tentu saja. Kalau tidak tahu membaca, atau tidak memiliki pengetahuan dasar tentang
matematika, di umur 13-14 tahun—dan banyak jumlahnya pelajar-pelajar yang tidak
memiliki kemampuan ini—semua usaha yang akan dilakukan untuk memberantas
kemiskinan bisa sia-sia saja.
Demikian juga, kalau anak-anak masuk dalam
pendidikan yang tidak bermutu, sebenarnya itu bisa dimasukan dalam sebuah tindakan
kriminal. Sekolah dengan situasi tak seorang pun yang berbicara dengan para
murid, kelas jalan terus meski mereka tidak mengerti apa-apa. Tak ada yang
lebih jelek dari pendidikan ini. Kita tidak akan percaya bahwa kita sedang
mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang baik bila demikian.
Bagi Duflo, meskipun
tidak benar mengatakan tidak pergi sekolah lebih baik daripada pergi ke sekolah
yang jelek, kenyataan pendidikan yang diwarnai dengan ketidaktahuan dan ketertinggalan
adalah sebuah penderitaan yang sebenarnya.
Definisi Kemiskinan, Sebuah Kesewenangan
Banerjee berpendapat, tak ada cara tunggal mendefinisikan kemiskinan yang bisa memuaskan semua.
Definisi kemiskinan itu kesewenangan.
Ketika kemiskinan itu didefinisikan, kita perlu memutuskan yang perlu diuraikan
dengan kemiskinan itu. Kalau Anda
mencoba memasukkan sekelompok orang yang putus asa yang memerlukan bantuan
langsung, itu hanyalah satu hal. Kalau Anda ingin menjelaskan tipe sponsor dana
hidup apa yang tidak bisa diterima, dan yang negara perlukan untuk, dengan cara
tertentu, mengatasi masalah, situasinya berbeda-beda.
Tidak ada definisi yang independen dari pertanyaan
tentang apa kemiskinan itu. Kalau pertanyaannya dari sudut pandang politis,
maka: “bagaimana seharusnya saya menangani bantuan darurat?” Definisinya akan mengikuti garis yang sama.
Sangat berbeda, misalnya, kalau kita menetapkan satu tujuan di 15 tahun ke
depan. Garis kemiskinan bagi orang-orang yang sungguh miskin harus lebih rendah
daripada tujuan kita membagikan ke semua setidaknya sejumlah “X” setelah 15
tahun. Semua tergantung pada pertanyaan politis yang kita coba jawab.
Menurut Duflo,
secara umum ada banyak orang miskin, maka mereka merupakan sebuah pasar. Ada
beberapa bentuk perusahaan sosial yang telah melakukan itu dengan baik di aspek
ini, dan mereka ada di situ agar kita semua bisa melihat. Banyak orang
yang terinspirasi C.K Prahalad mengatakan sangat mungkin mendapatkan uang
dengan membantu orang miskin. Namun demikian, dalam hal ini kita perlu sangat
berhati-hati. Kita tidak mengatakan kalau kesempatan itu tidak ada. Kadang, benar bahwa ada sebuah pasar dan
bisa mungkin mengolahnya dengan cara kreatif. Namun demikian, ada juga banyak
hal yang orang miskin perlukan dan pasar tidak bisa memberikannya. Salah bila
menganggap pasar bisa memberikan semua pada orang miskin. Itu jelas gagasan
yang salah. (Bersambung di sini)
* Artikel diterjemahkan dan diolah dari hasil wawancara redaksi portal manajemen Wharton, Knowledge@Wharton dengan Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, Las recetas para acabar con la pobreza de los autores de "EconomÃa de los pobres" di http://www.wharton.universia.net.
* Artikel diterjemahkan dan diolah dari hasil wawancara redaksi portal manajemen Wharton, Knowledge@Wharton dengan Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, Las recetas para acabar con la pobreza de los autores de "EconomÃa de los pobres" di http://www.wharton.universia.net.

0 comments:
Post a Comment
Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda