Ketika
kekuatan marketing media sosial tumbuh, tak lagi masuk akal memperlakukannya sebagai percobaan.
Jika pengguna Facebook merupakan sebuah negara, jumlah penduduknya akan menjadi terbesar ketiga di dunia, setelah Cina dan India. Para eksekutif tahu apa yang membuat media sosial begitu ampuh: kemampuannya untuk menyebarluaskan efek kata-tular (word-of-mouth effects). Namun sebagian besar eksekutif tidak tahu bagaimana memanfaatkan kekuatan media sosial itu.
Belajar dari pelanggan. PepsiCo menggunakan jaringan sosial untuk mengumpulkan wawasan pelanggan melalui promosi yang mereka sebut DEWmocracy, yang telah menyebabkan penciptaan varietas baru pada merek Mountain Dew. Sejak tahun 2008, perusahaan itu telah menjual lebih dari 36 juta kaleng minuman mereka.
Menargetkan pelanggan: Levi Strauss menggunakan media sosial untuk menawarkan tawaran lokasi-khusus mereka. Satu contoh, interaksi langsung dengan hanya 400 konsumen menyebabkan 1.600 orang muncul di took-toko perusahaan mereka—contoh pengaruh word of mouth sosial media. (Bersambung)
Jika pengguna Facebook merupakan sebuah negara, jumlah penduduknya akan menjadi terbesar ketiga di dunia, setelah Cina dan India. Para eksekutif tahu apa yang membuat media sosial begitu ampuh: kemampuannya untuk menyebarluaskan efek kata-tular (word-of-mouth effects). Namun sebagian besar eksekutif tidak tahu bagaimana memanfaatkan kekuatan media sosial itu.
Ada dua alasan yang saling
terkait mengapa media sosial tetap merupakan teka-teki terbungkus bagi para eksekutif. Yang pertama, sifatnya yang tampaknya samar-samar (nebulous nature). Sulit dilihat di mana dan bagaimana mempengaruhi dinamika percakapan di media sosial, yang berlangsung terus dan meningkat melintasi berbagai platform, antar masyarakat yang beragam, tersebar dan terjadi secara cepat. Kedua, tidak ada ukuran tunggal terhadap
pengaruh finansial media sosial dan banyak perusahaan masih sulit
mengerahkan sumber daya—keuangan atau manusia—ke suatu kegiatan yang jelas efeknya masih belum jelas.
Demistifikasi Sosial Media
Sebuah
penelitian mengidentifikasi empat fungsi
utama media sosial—memonitor, merespon, memperluas dan mengendalikan
perilaku konsumen—dan hubungannya dengan perjalanan konsumen ketika
membuat sebuah keputusan pembelian. Kemampuan mengidentifikasi secara tepat bagaimana, kapan dan di mana media sosial mempengarui konsumen membantu para eksekutif merancang strategi pemasaran, dengan memanfaatkan kemampuan yang unik dari media sosial untuk terlibat dengan pelanggan.
Singkatnya, para pemangku
perusahaan sekarang bisa memperlakukan media sosial sebagai kerangka
yang jelas untuk membantu mengevaluasi investasi di dalam perusahaannya,
rencana membangun infrastruktur pendukung, dan sistem
performansi manajemen yang membantu para pemimpin secara
cerdas mengukur kehadiran sosial mereka.
Mengantar Proses Keputusan Konsumen
Perusahaan terbukti cepat belajar bahwa media sosial memang sedang bekerja: 39 persen perusahaan yang disurvei McKinsey sudah menggunakan media sosial sebagai alat utama layanan digital mereka demi meraih pelanggan, dan persentase itu diperkirakan akan meningkat menjadi 47 persen dalam empat tahun ke depan.
Perusahaan terbukti cepat belajar bahwa media sosial memang sedang bekerja: 39 persen perusahaan yang disurvei McKinsey sudah menggunakan media sosial sebagai alat utama layanan digital mereka demi meraih pelanggan, dan persentase itu diperkirakan akan meningkat menjadi 47 persen dalam empat tahun ke depan.
Menciptakan buzz. Delapan belas
bulan sebelum masuknya kembali Ford ke pasar mobil AS dengan model Fiesta, dimulailah
suatu kampanye pemasaran yang disebar dengan jargon Fiesta Movement. 100
pengguna media sosial membantu tercapainya "misi" itu, dan dari
mereka didokumentasikan pengalaman-pengalaman
berharga pada saluran-saluran sosial. Video-video
terkait dengan kampanye Fiesta itu disaksikan 6,5 juta pemirsa di YouTube, dan
Ford menerima 50.000 permintaan informasi tentang kendaraan yang dipromosikan,
terutama dari mereka yang tidak mengendarai mobil Ford. Saat akhirnya diluncurkan penjualannya
pada publik, di akhir tahun 2010, sekitar 10.000 mobil terjual dalam enam hari
pertama.
Belajar dari pelanggan. PepsiCo menggunakan jaringan sosial untuk mengumpulkan wawasan pelanggan melalui promosi yang mereka sebut DEWmocracy, yang telah menyebabkan penciptaan varietas baru pada merek Mountain Dew. Sejak tahun 2008, perusahaan itu telah menjual lebih dari 36 juta kaleng minuman mereka.
Menargetkan pelanggan: Levi Strauss menggunakan media sosial untuk menawarkan tawaran lokasi-khusus mereka. Satu contoh, interaksi langsung dengan hanya 400 konsumen menyebabkan 1.600 orang muncul di took-toko perusahaan mereka—contoh pengaruh word of mouth sosial media. (Bersambung)

