Thursday, June 14, 2012

Demistifikasi Media Sosial di Marketing (1)

Ketika kekuatan marketing media sosial tumbuh, tak lagi masuk akal  memperlakukannya sebagai percobaan. 
 
Jika pengguna Facebook merupakan sebuah negara, jumlah penduduknya akan menjadi terbesar ketiga di dunia, setelah Cina dan India. Para eksekutif tahu apa yang membuat media sosial begitu ampuh: kemampuannya untuk menyebarluaskan efek kata-tular (
word-of-mouth effects). Namun sebagian besar eksekutif tidak tahu bagaimana memanfaatkan kekuatan media sosial itu. 

Ada dua alasan yang saling terkait mengapa media sosial tetap merupakan teka-teki terbungkus bagi para eksekutif. Yang pertama, sifatnya yang tampaknya samar-samar (nebulous nature). Sulit dilihat di mana dan bagaimana mempengaruhi dinamika percakapan di media sosial, yang berlangsung terus dan meningkat melintasi berbagai platform, antar masyarakat yang beragam, tersebar dan  terjadi secara cepat. Kedua, tidak ada ukuran tunggal terhadap pengaruh finansial media sosial dan banyak perusahaan masih sulit mengerahkan sumber daya—keuangan atau manusia—ke suatu kegiatan yang jelas efeknya masih belum jelas.

Demistifikasi Sosial Media

Sebuah penelitian mengidentifikasi empat  fungsi utama media sosial—memonitor, merespon, memperluas dan mengendalikan perilaku konsumen—dan hubungannya  dengan perjalanan konsumen ketika membuat sebuah keputusan pembelian. Kemampuan mengidentifikasi secara tepat bagaimana, kapan dan di mana media sosial mempengarui konsumen membantu para eksekutif merancang strategi pemasaran, dengan memanfaatkan kemampuan yang unik dari media sosial untuk terlibat dengan pelanggan. 

Singkatnya, para pemangku perusahaan sekarang bisa memperlakukan media sosial sebagai  kerangka yang jelas untuk membantu mengevaluasi investasi di dalam perusahaannya,  rencana membangun infrastruktur pendukung, dan sistem performansi manajemen yang membantu para pemimpin secara cerdas mengukur kehadiran sosial mereka. 

Mengantar Proses Keputusan Konsumen

Perusahaan terbukti cepat belajar bahwa media sosial memang sedang bekerja: 39 persen perusahaan yang disurvei McKinsey sudah menggunakan media sosial sebagai alat utama layanan digital mereka demi meraih pelanggan, dan persentase itu diperkirakan akan meningkat menjadi 47 persen dalam empat tahun ke depan.

Menciptakan buzz. Delapan belas bulan sebelum masuknya kembali Ford ke pasar mobil AS dengan model Fiesta, dimulailah suatu kampanye pemasaran yang disebar dengan jargon Fiesta Movement.  100 pengguna media sosial membantu tercapainya "misi" itu, dan dari mereka  didokumentasikan pengalaman-pengalaman berharga pada saluran-saluran sosial. Video-video terkait dengan kampanye Fiesta itu disaksikan 6,5 juta pemirsa di YouTube, dan Ford menerima 50.000 permintaan informasi tentang kendaraan yang dipromosikan, terutama dari mereka yang tidak mengendarai mobil Ford. Saat akhirnya diluncurkan penjualannya pada publik, di akhir tahun 2010, sekitar 10.000 mobil terjual dalam enam hari pertama.

Belajar dari pelanggan. PepsiCo menggunakan jaringan sosial untuk mengumpulkan wawasan pelanggan melalui promosi yang mereka sebut DEWmocracy, yang telah menyebabkan penciptaan varietas baru pada merek Mountain Dew. Sejak tahun 2008, perusahaan itu telah menjual lebih dari 36 juta kaleng minuman mereka.

Menargetkan pelanggan: Levi Strauss menggunakan media sosial untuk menawarkan tawaran  lokasi-khusus mereka. 
Satu contoh, interaksi langsung dengan hanya 400 konsumen menyebabkan 1.600 orang muncul di took-toko perusahaan mereka—contoh pengaruh word of mouth sosial media. (Bersambung)

Dewan Direksi Era Facebook (1)

Facebook sedang dan terus membuat sebuah revolusi sosial dewasa ini. Dan revolusi itu hampir niscaya merasuk pada sendi-sendi penting perusahaan di mana pun.

Sejak pengumuman penawarannya ke publik 1 Februari lalu, Facebook menjadi pusat perhatian. Pendapatan Silicon Valley 1 miliar dolar AS (per tahun) menakjubkan. Bersama dengan LinkedIn, GroupOn dan Twitter, Facebook lagi-lagi mengingatkan kita akan pengaruh dramatis dari revolusi-revolusi media sosial, mobile dan komputasi awan terhadap komunikasi pelanggan dan minat para pemegang saham. Barangkali sudah waktunya Dewan Direksi dan para direktur sebuah perusahaan mereinvensi diri untuk mengikuti strategi bisnis aktual saat ini.

Dewasa ini dunia bisnis terus berubah dan berkembang, sayangnya dewan direksi perusahaan umumnya tidak terus berpacu dengan perubahan-perubahan itu. Bagaimana kita bisa tahu? Dari banyak survey, dewan direksi umumnya tidak memantau dan mengukur bagaimana  organisasi mereka berjalan. Yang mereka pantau dan ukur umumnya hasil keuangan, kepatuhan dan risiko hukum. Dampak teknologi baru pada operasional perusahaan, termasuk komunikasi sosial antara karyawan dan pelanggan serta para pemegang saham, umumnya terabaikan. Tentang risiko apa dan mahalnya biaya yang bisa ditanggung karena tidak menggunakan teknologi-teknologi dewasa ini dalam berkomunikasi dan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan, juga tentang pentingnya memiliki wawasan yang perlu berkaitan dengan jejaring bisnis para pemangku kepentingan perusahaan, umumnya juga tak sering diperhatikan para direktur.

Yang mengherankan, para direktur sadar bahwa keputusan yang tepat dan kuat atas dasar pertimbangan informasi yang jelas dan detail merupakan hal sangat penting untuk mengurangi risiko dan menjamin kelangsungan hidup usaha mereka. Tentu saja ini ironis dengan kenyataan bahwa sebagian dari mereka tidak memiliki pegangan pada nilai operasional teknologi-teknologi yang ditawarkan saat ini, atau kritis akan adanya "data besar" di sekitar sentimen pelanggan, keterlibatan karyawan dan wawasan investor. Ternyata itu terjadi karena mereka masih menggunakan perangkat tata kelola perusahaan dan strategi yang dikembangkan di zaman yang baik media sosial maupun mobile belum ada. Bahkan, bisa dipastikan bahwa kebanyakan dari mereka tak sadar akan adanya "awan" (cloud computing) yang patut dipertimbangkan.

Singkatnya, banyak direksi perusahaan saat ini memiliki keterampilan yang “perlu” dalam hal keteraturan dan kinerja keuangan, tapi tidak memiliki keterampilan yang "cukup" dalam hal yang  strategis atau melek teknologi. Mengapa? Karena selama bertahun-tahun para direksi perusahaan yang cerdik percaya, bahwa perangkat teknologi yang perusahaan seperti Facebook dan Twitter tawarkan itu tidak penting. Dalam pandangan mereka, sarana komunikasi baru itu hanyalah untuk anak-anak, hanya sedikit memiliki nilai bisnis, atau jika ada, tak berpengaruh pada risiko strategis, operasional atau keuangan. Sejauh mana mereka salah?

Sekarang mungkin Anda adalah bagian dari mayoritas anggota dewan direksi yang tidak menggunakan media sosial. Mungkin Anda percaya forum Anda dan organisasi tidak memerlukan keterampilan baru untuk menggunakan teknologi baru karena perangkat-perangkat itu tidak berlaku untuk industri Anda. 
Atau mungkin, Anda percaya pelanggan Anda, karyawan dan pemegang saham tidak memiliki media sosial atau tidak mobile. Bila demikian, mari dikaji lebih dalam.

Ketika Anda membaca ini, ada kemungkinan pelanggan dan karyawan Anda sedang berbagi pengetahuan mereka tentang organisasi Anda dan produk, layanan, penelitian dan budaya perusahaan, dengan pelanggan dan karyawan di perusahaan lain. Jika Anda tidak percaya, periksa feedback karyawan pada Glassdoor.com atau toko online Amazon sebagai pembanding. Dan ingat, para direktur perusahaan sekaliber Kodak, Blockbuster dan Borders juga mulai akrap dengan perangkat-perangkat yang diperlukan itu, meski belum cukup memiliki keterampilan untuk bersaing dalam dunia jejaring sosial. Selanjutnya, bertanyalah pada mereka bagaimana dampak negatif dari kurangnya keahlian mereka dalam teknologi digital.

Kabar baiknya, bila Anda salah satu mayoritas pemimpin perusahaan yang merasa kurang siap menghadapi realitas teknologi saat ini—sebagaimana ditunjukkan di banyak survei terbaru—, langkah yang sebaliknya belum terlambat untuk dilakukan dalam tata kelola perusahaan dan dewan direksi Anda. Jika Anda tidak ingin perusahaan Anda bangkrut seperti Borders dan sejenisnya, Anda dan sesama direksi masih memiliki kesempatan untuk memperbarui keterampilan dan membangun sebuah dewan direksi dengan kinerja yang lebih baik. Tetapi untuk mencapai tujuan ini, direksi perusahaan perlu menambah kelengkapan teknologi dan pengetahuan strategis menurut Oxley Sarbanes dan keahlian pelaporan keuangan. Untuk memulainya, ada tujuh langkah alternatif yang bisa dipertimbangkan. (Bersambung)

Gurita Social Media di Korporat (1)

Survei tahunan McKinsey yang dilakukan baru-baru ini—tentang cara organisasi menggunakan perangkat sosial dan teknologi—makin menguatkan keyakinan umum bahwa perangkat sosial media merupakan hal tak terhindarkan dalam organisasi. Sosial media dan segala perangkatnya yang berkembang tiada henti mengubah proses bisnis dan meningkatkan kinerja sebuah organisasi.


Alhasil, salah satu ‘keharusan’ yang mendesak banyak perusahaan yang tak mau tertinggal dengan pesaing-pesaingnya sekarang adalah meningkatkan penguasaan  teknologi-teknologi sosial dan menggunakan perangkat-perangkat tersebut untuk meningkatkan jalannya perusahaan dan mengeksploitasi peluang-peluang pasar baru.
 Temuan kunci dari survei McKinsey tentang penggunaan perangkat-perangkat dan teknologi sosial pada lebih dari 4.200 responden eksekutif global mengungkapkan hal yang mengesankan;  teknologi-teknologi sosial yang diadopsi pada cakupan yang menyeluruh pada segala bidang dalam jaringan perusahaan dan diintegrasikan ke dalam proses kerja karyawan, dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan dan pangsa pasarnya.

Namun demikian, dunia teknologi sosial adalah lingkungan yang sangat dinamis, sehingga keuntungan-keuntungan yang dicapai dari pemanfaatan teknologi sosial kadang-kadang tidak bertahan begitu lama. Hal ini juga bisa mungkin akibat dari begitu cepatnya teknologi berkembang, sehingga dibutuhkan begitu banyak usaha untuk mencapai posisi yang paling up date dalam pemahaman dan penggunaan segala perangkat teknologi tersebutSementara itu, dari responden yang muncul, beberapa perusahaan yang sedikit memanfaatkan teknologi untuk membangun jaringan, sedikit pula keuntungan yang dicapai dalam perusahaan. Singkatnya, siapa menabur banyak, ia menuai hasil yang lebih banyak pula dan sebaliknya. Survey juga menunjukkan sedikit saja perusahaan yang masih belajar menggunakan teknologi-teknologi sosial untuk membangun jaringan dalam perusahaannya. Para eksekutif mengatakan,  perusahaan menggunakan perangkat teknologi sosial untuk meningkatkan kelincahan dan mengelola kompleksitas organisasi. Banyak yang percaya bahwa jika hambatan-hambatan dalam penggunaan teknologi sosial berkurang, perusahaan bisa menciptakan bisnis inti dari sebuah proses bisnis yang sama sekali baru yang secara radikal dapat meningkatkan kinerja perusahaan.


Penggunaan dan Manfaat Berkelanjutan

Teknologi-teknologi sosial, sebagai kelompok, telah mencapai skala yang penting di organisasi-organisasi yang disurvei McKinsey. Tujuh puluh dua persen responden melaporkan bahwa perusahaan menggunakan setidaknya satu teknologi, dan lebih dari 40 persen lainnya mengaku bahwa jaringan sosial dan blog sekarang telah digunakan di perusahaan mereka (infografis 1).

Teknologi-teknologi itu sedang digunakan di semua sektor, persentase tertinggi, 86 persen responden perusahaan menggunakannya di bidang teknologi tinggi dan telekomunikasi, tetapi pada 62 persen lainnya bahkan di industri energi (infografis 2)

Tingkat-tingkat manfaat yang dilaporkan dalam survey tidak hanya tetap pada posisi tinggi ketika responden-responden organisasi menggunakan perangkat teknologi sosial untuk tujuan internal mereka, tetapi juga meningkat posisinya di antara mereka yang menggunakannya untuk berkomunikasi dengan pelanggan atau untuk berintegrasi dengan mitra dan pemasok (infografis 3).



(Bersambung)

Wednesday, June 13, 2012

From 'Eco-luxury' to 'E-luxury' ; Redefinisi Konsep Kemewahan (1)

Dunia kemewahan telah berubah. Saat ini, lebih dari sebelumnya, perusahaan mendefinisikan kembali nilai-nilai mereka dalam mencari sebuah model ritel yang lebih menghormati lingkungan.

Tiffany & Co, perusahaan perhiasan Amerika, telah menghilangkan line-up produk karang karena tidak mungkin untuk menumbuhkan karang secara berkelanjutan. Cartier, pembuat jam tangan dan perhiasan Perancis, hanya berinvestasi di tambang emas yang tidak menggunakan merkuri untuk menyepuh logam. Produser busana Loro Piana dan Ermenegildo Zegna sedang  getol mempromosikan repopulasi dari vicuna di Andes Peru, yang juga membantu mengembangkan masyarakat lokal di daerah itu. 

Tren ini juga meluas ke mata rantai busana eksklusif seperti Inditex dari Spanyol, yang membuat semua toko lebih ramah lingkungan sebelum tahun 2020. Sementara itu, di Twitter, pengecer H & M membuat iklan terbuat dari poliester daur ulang. Umumnya, tren yang dipelopori oleh merek-merek mewah eksklusif itu kemudian diikuti oleh pasar.

Dalam waktu tiga tahun terakhir, penjualan di sektor mewah telah mencapai 221 miliar Euro, menurut perusahaan konsultan Bain & Co. Negara-negara Asia akan menjadi bintang besar pasar mewah di masa depan. Perusahaan seperti Prada, Jimmy Choo
and Coach tidak mengabaikan kesempatan untuk pergi ke Hong Kong Stock Exchange untuk menjangkau publik investasi Asia. Membuat kesepakatan perusahaan juga merupakan tawaran setiap harinya. Moet Hennessy Louis Vuitton (LVMH), perusahaan barang mewah Perancis, telah membeli Bulgari, yang mengkhususkan diri dalam produksi perhiasan dan barang-barang mewah lain hingga 3,7 miliar Euro, dan LVMH juga memiliki 20% saham Hermes, sebuah perusahaan mode. Sementara itu, Hermes baru saja dijual Jean Paul Gaultier (perusahaan parfum dan kosmetik) kepada Spain’s Puig (yang juga menjual parfum dan kosmetik), dan Pierre Cardin telah menggantung "for sale"-nya juga.

Dari ekologis ke e-commerce

Maria Eugenia Giron, seorang profesor di IE Business School dan penulis buku Secretos del Lujo (Rahasia Kemewahan), yang juga mengelola perusahaan investasi Megam Capital, yang mengkhususkan diri menjadi konsultan perencanaan strategis dan membangun merek perusahaan-perusahaan kelas atas menjelaskan dinamika yang mulai marak dengan eco-luxury dan e-luxury ini.

Eco-Luxury dan Dampaknya

Eco-luxury adalah istilah favorit untuk menggambarkan inisiatif perusahaan-perusahaan merek mewah yang mengintegrasikan nilai keberlanjutan (sustainability) dalam strategi bisnis mereka. Istilah ini mencakup berbagai macam inisiatif. 
Tiffany & Co telah menghilangkan karang dari line-up produknya, karena karang tidak dapat dipanen secara berkelanjutan. Zegna dan Loro Piana telah merepopulasi vicunas di Andes [Peru], yang sedang terancam punah. Mereka telah memberi kontribusi pada kesejahteraan masyarakat setempat, juga meningkatkan produksi wol.

Penelitian terbaru (penelitian dari Havas tahun 2008) menunjukkan bahwa arti dari "produk yang lebih baik" dalam benak konsumen sekarang terkait dengan dampak yang ditimbulkan dari pengembangan, produksi dan penjualan barang-barang terhadap planet bumi dan manusia. Asal-usul produk yang kita konsumsi merupakan salah satu perhatian generasi muda sekarang ini, yang ingin tahu tidak hanya di mana produk yang mereka beli berasal, tetapi juga apa dampak dari pabrikasi dan penjualan produk-produk itu pada dunia. Perusahaan-perusahaan barang merek mewah, dengan caranya yang beragam, kini menjadi sibuk menanggapi perhatian pelanggan mereka ini, berkaitan dengan isu-isu lingkungan hidup. (Bersambung)


*Artikel From 'Eco-luxury' to 'E-luxury' ;  Redefinisi Konsep Kemewahan ini diolah dari hasil wawancara redaksi Universia Knowledge@Wharton dengan penulis sendiri, Maria Eugenia Girón, Del 'ecolujo' al 'e-luxury': La redefinición del concepto del lujo tras la crisis di http://www.wharton.universia.net