Pemimpin yang Rendah Performansi
John Hollon, seorang wakil presiden di TLNT.com dan
mantan editor majalah WorkforceManagement dan workforce.com skeptis ada kantor tanpa pemimpin
bisa berjalan. "Kami telah dikenal lama ketika lapisan manajemen
menipis," terutama selama resesi saat ini, katanya. "Tapi hampir
mustahil perusahaan berjalan tanpa beberapa orang yang bertanggung jawab untuk
melakukan hal-hal seperti memastikan karyawan bisa bekerja tepat waktu,
memutuskan bahwa setiap orang akan mendapatkan 3% dan bukan 4% dari peningkatkan
profit perusahaan" dan, di atas semua, "menegur karyawan yang tidak
bekerja dengan baik sehingga perilaku itu tak menjadi ketidakadilan bagi yang
lain."
Selama beberapa dekade, menurut Hollon, organisasi
umumnya dibangun di atas komando militer dan model kontrol. "Organisasi
seperti ini menawarkan struktur yang membuat keputusan dari atas ke bawah dan ada
mata rantai komando yang jelas bila menyelesaikan sebuah pekerjaan. Hanya saja,
makin disadari banyak perusahaan, model ini makin terasa kurang pas untuk
sebuah organisasi bisnis dan lebih banyak justru merugikan, kecuali menyangkut
hidup dan mati sebagaimana biasa terjadi dalam lingkungan perang militer. Setelah
resesi ekonomi, "banyak perusahaan bangkit kembali dan merasa perlu
mengelola organisasinya dengan cara yang berbeda. Mereka tidak membutuhkan banyak
lapisan manajemen." Dan itu artinya mengikis cara militer dalam manajemen
perusahaan.
Dalam sebuah posting
blog beberapa bulan lalu berjudul, "The Bossless Office Trend: Don't Be Surprised If It
Doesn't Last Long” Hollon mengingatkan
pembaca-pembacanya sebuah drama komedi dari Inggris dalam film Monthy Python and the
Holy Grail. Dia menyitir sebuah dialog bahwa "manusia biasanya
tidak membuat keputusan yang baik dalam kelompok. Seseorang—siapa pun itu—perlu
wasit terakhir bila ingin membuat keputusan dan menjaga keputusan itu supaya
berlangsung terus." Bagi kebanyakan organisasi, ia menambahkan,
"lingkungan tanpa pemimpin itu akan segera berubah menjadi perusahaan versi
Lord of the Flies.
Para
pemimpin perusahaan, di sisi lain, tidak selalu mendapatkan penilaian yang baik
dari bawahan-bawahannya. Towers Watson Global Workforce Study awal tahun melakukan survei pada 32.000 karyawan di perusahaan
menengah dan besar berkaitan dengan masalah seperti stres kerja, pekerjaan /
keseimbangan hidup dan nilai pemimpin bagi mereka. Pemimpin tidak termasuk
dalam evaluasi yang baik. Hasil survey yang dilaporkan The Wall Street Journal
itu menyebutkan; kurang dari 50% karyawan memiliki kepercayaan pada manajer
senior mereka, dan hanya 44% yang percaya bahwa para manajer mereka peduli akan
kesejahteraan bawahannya. Selain itu, para manajer dipandang tidak bisa dipercaya,
tidak memberikan pedoman yang memadai dan "gagal menginspirasi sebuah pekerjaan
yang baik."
Thomas Davenport, seorang konsultan senior dari
Towers Watson dan rekan-penulis buku berjudul, Manager Redefined: The Competitive Advantage in the Middle of Your
Organization, mengatakan, bahwa
model otoritas organisasi belakangan ini berkembang menjadi apa yang ia
sebut sebagai "manajemen panggung. " Idenya adalah bahwa "di
abad 21 sekarang ini, tak seorang pun datang di tempat kerja dan mengatakan, 'Silahkan
mengelola saya.' Sebaliknya, mereka akan mengatakan, 'Ciptakan lingkungan di
mana saya bisa sukses.' "
Dalam skenario ini, para manajer menyediakan sumber
daya yang diperlukan, berurusan dengan politik kantor, membuat informasi yang
meyakinkan untuk disampaikan ke tempat dan orang yang tepat dan sebagainya.
Ketidakpuasan pada kinerja para manajer berasal dari apa yang Davenport sebut
sebagai "spiral kematian para manajer," yang terjadi ketika sebuah
organisasi mempromosikan seorang karyawan untuk posisi pemimpin didasarkan pada
penilaian bahwa dia sekarang ini melakukan pekerjaan tertentu lebih baik
daripada orang lain—bukan karena ia telah menunjukkan sikap kepemimpinan dan
kemampuan mentoring-nya bagi yang lain. Di saat yang sama, tidak ada pelatihan
untuk pemimpin baru ini karena program
pelatihan telah dieliminasi dan staf HRD telah dirampingkan. "Pada dasarnya, perusahaan telah mempromosikan orang
yang salah," kata Davenport. Tak heran bila kemudian muncul evaluasi yang
menyinggung pemimpin sebagai orang yang tidak peduli pada kepentingan karyawan.
Davenporti tidak
percaya bahwa lingkungan yang tanpa pemimpin, benar-benar memang tanpa pemimpin
sama sekali. Cukup membuktikan itu
dengan berjalan di sekitar dan mengamati bagaimana sebuah perusahaan beroperasi. Seseorang akan mengatakan "kepemimpinan
alami keluar dalam setiap pertemuan. Demikian cara manusia bekerja. Orang-orang mungkin tidak memiliki jabatan,
namun seseorang muncul untuk mengarahkan percakapan dan datang dengan ide-ide.
Ketika masalah tertentu menggerakkan organisasi dari sudut 'a' ke titik 'b',
sudah tentu di situ ada seseorang dengan visi tertentu menginspirasi orang lain
untuk sampai pada visi itu.
Ada sebuah studi
yang menganalisa perusahaan-perusahaan game
untuk mengetahui kelompok di perusahaan itu yang berperan besar dan bertanggung jawab menentukan
kesejahteraan perusahaan. Ternyata mereka adalah para produser berbakat, manajer proyek yang
berkualifikasi besar atau eksekutif-eksekutif besar. "Manajer
proyek besar adalah pivot point yang paling penting," kata Davenport.
"Kelompok-kelompok yang berkembang tanpa pemimpin" tidak membuat
keputusan yang penting tentang arah sumber daya manusia atau hal lain di perusahaan,
tidak menentukan harga produk dan isu-isu lainnya. Tetapi menangani masalah tentang cara yang
memungkinkan karyawan menjadi otonom dan mandiri. "Di situlah seorang
pemimpin biasanya secara historis terjatuh dan lemah," catatnya.
Elemen kunci lain
dalam lingkungan tanpa pemimpin yang bisa berhasil adalah adanya "budaya tertentu
yang sangat kuat didorong oleh nilai-nilai," tambah Rothbard. "Hal
ini, dalam arti tertentu, menggantikan pemimpin. Keputusan-keputusan kemudian
terinspirasi bukan oleh seseorang di atas para karyawan lain, melainkan oleh
kehadiran sekelompok karyawan yang cukup homogen dalam hal nilai-nilai yang
dianut. "Sekali lagi, kontrak adalah dasar. Perusahaan-perusahaan menyeleksi
para karyawan untuk memastikan bahwa nilai-nilai mereka konsisten dengan
perusahaan, dan kemudian "melakukan sosialisasi yang luar biasa" dari
karyawan setelah mereka bergabung.
Rothbard dan para
ahli lain menyebutkan kemiripan antara kantor tanpa otoritas dan dunia baru crowdsourcing, di mana perusahaan muncul
dengan ide-ide dan kemudian disampaikan ke publik yang lebih luas untuk mendapat
masukan. "Dulu, bagian R & D (research & development) benar-benar dilakukan di intern
perusahaan," kata Rothbard. "Sekarang, beberapa perusahaan sudah berusaha
menggunakan pertimbangan kolektif dari publik untuk membantu pengambilan
keputusan," mirip dengan cara beberapa perusahaan yang bergantung pada sekelompok
karyawan, bukan mempercayakan pada mekanisme top-down dari si pembuat keputusan.
Yoplait dan Southwest
Airlines
Selain mendorong kreativitas, lingkungan tanpa
pemimpin juga bisa meningkatkan efisiensi, demikian menurut Stephen Courtright,
seorang pengajar manajemen A&M'S Business School, Texas. Dia mengutip contoh
Southwest Airlines, yang memberi kebebasan kepada pegawai bagasi memutuskan
bagaimana mengatasi keluhan pelanggan di tempat, tanpa harus berkata: "'Tunggu sementara saya berkonsultasi
dengan bos saya." Dalam lingkungan yang berorientasi pada layanan, hal itu
dapat menumbuhkan kepuasan pelanggan yang lebih besar, "kata Courtright.
Menyanjung
organisasi juga menumbuhkan "motivasi intrinsik," tambahnya.
"Ketika karyawan memiliki tingkat manajemen diri yang baik, dan karenanya
memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar, itu berarti motivasi mereka
didasarkan ada tidaknya manajer atau atasannya, tetapi karena mereka
mengidentifikasi dengan pekerjaan."
Masalah bisa
muncul ketika pengelolaan mandiri/swakelola tim tidak diberi pedoman tentang
apa yang mereka harus lakukan. Sebuah perusahaan rekayasa besar yang didampingi
Courtright telah bereksperimen dengan swakelola tim, tetapi orang lupa
memberikan orientasi hasil yang perlu ditargetkan pada tim tersebut. Tim kala
itu sedemikian efisiennya sehingga berakhir dengan stok persediaan yang tidak
terpakai. "Tim-tim dengan kinerja tertinggi adalah mereka yang otonominya kuat
tetapi juga menerima feedback yang
banyak dari atasannya, termasuk dalam hal target dan tujuan yang hendak dicapai,"
katanya.
Lingkungan tanpa
otoritas akan bisa berjalan di organisasi yang benar-benar mementingkan kreativitas dalam pekerjaannya, tambah Courtright.
Penelitian
Courtright pada "Peer-based Control in Self-managing Teams: Linking
Rational and Normative Influence with Individual and Group Performance," yang
dipublikasikan The Journal of Applied
Psychology awal tahun ini, menyebut perusahaan makanan Yoplait,
misalnya, memiliki sejarah yang baik dalam mengelola tim swakelola saat meluncurkan
produk-produk barunya. Itu merupakan satu dari sekian banyak kemungkinan
kreativitas dalam sebuah bisnis.
Courtright ragu bahkan ketika para simpatisan tim swakelola
mengatakan bahwa "obat semua masalah organisasi adalah kelompok otonom”. Memang,
banyak penelitian menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan bawaan akan hak
bertindak secara otonom. Kebanyakan dari mereka tidak suka diawasi secara detil
semua yang dilakukan seorang pekerja. Salah satu hal yang disumbang oleh sistem
swakelola tim adalah membantu karyawan meningkatkan control diri atas apa yang
mereka lakukan. Banyak
perusahaan tampaknya telah banyak yang mengadopsi model swakelola ini. Survei menunjukkan
kurang dari 20% dari perusahaan yang masuk di Fortune 1000 memiliki struktur berbasis
tim pada tahun 1980, jumlah itu meningkat menjadi 50% pada tahun 1990 dan 80%
pada tahun 2000.
Model Demokrasi Ideal?
Bidwell
menunjukkan bahwa dalam kenyataannya tim swakelola tidak berlaku di perusahaan-perusahaan
jasa profesional dan akademisi, di mana banyak keputusan dibuat komite. Di universitas,
ada dekan, tetapi ketika mereka ingin membuat perubahan besar, mereka biasanya menyampaikan
pertimbangannya sampai ke fakultas untuk voting.
Jadi, menurutnya sudah sejak lama banyak organisasi telah membuat keputusan
tanpa hirarki yang jelas. Namun, mengejutkan baginya jika lingkungan tanpa
otoritas menjadi jalan untuk organisasi masa depan. Bagi Bidwell, dalam
beberapa situasi hal itu baru mungkin.
Lain halnya
dengan Cobb, baginya di AS, kebanyakan orang berpikir tentang individu sebagai
yang hidup dalam masyarakat demokratis, dengan gagasan bahwa setiap orang
diwakili, bahwa setiap orang punya hak mengungkapkan pendapat dan didengar. Jadi,
masalahnya di sini adalah bagaimana kita menciptakan struktur ekonomi yang
dapat memanfaatkan itu sistem demokratis tersebut. Menurutnya, dalam gradasi keberhasilan yang beragam,
kebanyakan orang telah bereksperimen lama dengan sistem itu. Alhasil, suka atau
tidak, ini ini merupakan kenyataan yang terus harus dibangun dan dikembangkan
dalam organisasi.*** (Heronimus Maryono)
0 comments:
Post a Comment
Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda