Siapapun yang telah mengunjungi Peru atau
menjadi penggemar masakan khas Peru—yang diperkenalkan beberapa di antaranya
oleh koki-koki ternama Gaston Acudio dan Pedro Miguel Schiafino—akan sadar betapa
masyarakat Peru sudah begitu akrap dengan minuman produk dalam negeri, Inca
Kola. Dengan kemasan warna kuning keemasan, rasa yang manis dan formula rasa
yang khas, minuman berkarbonasi ini adalah salah satu dari beberapa merek
lokal, yang bersama dengan Irn-Bru di Skotlandia, telah mampu mengalahkan
Coca-Cola di kancah pasar produk dalam negeri.
Persaingan antara Inca Kola dan merek
multinasional dari Atlanta, Coca-Cola, telah hampir setua sejarah merek produk
Peru itu. Merek lokal Inca Kola mulai ada sejak 1910, ketika sepasang
suami-istri Inggris dengan nama keluarga Lindsey menetap di Peru dan mendirikan sebuah perusahaan minuman bernama
Fábrica de Aguas Gaseosas de la Santa Rosa. Produk pertama Inca Kola dipasarkan
tahun 1935.
Sejak saat itu, dan tahun demi tahun, perusahaan
"membangun citra merek yang terkait dengan identitas nasional," catat
Pablo Nano Cortez, ketua Studi Ekonomi di Scotiabank Peru. Teresa Serra, dosen
pemasaran di IE Business School, menambahkan bahwa hal itu tergambar jelas dengan
"hubungan merek dan budaya Inca melalui nama dan desain logonya [ikon
merek Inca pada label dan warna nasional Peru pada truk pengiriman produk pertama],"
bersama dengan kampanye iklan yang intens sepanjang sejarahnya yang menggunakan
slogan-slogan seperti “La bebida del
sabor nacional”, “El sabor del Perú” atau “Celebra el Perú”
(minuman dengan rasa nasional, Rasa Peru,
Rayakan Peru). Selain itu, minuman ini didukung oleh sistem distribusi dan
tenaga penjualan yang meluas di seluruh negeri, sedemikian rupa sehingga Inca
Kola telah menjadi "minuman nasional, yang tersedia untuk konsumen semua kalangan," kata Serra.
Keberhasilan Inca Kola juga mencerminkan
keunikan konsumen Peru, yang cenderung memiliki hubungan sangat kuat dengan produk-produk
yang mereka kaitkan dengan identitas pribadi dan nasional, demikian pengamatan Renato
Peñaflor Guerra, profesor pemasaran sekolah bisnis ESAN di Peru. "Inca
Kola berhasil terlibat dalam pencarian identitas ini sedemikian rupa dan itu ditrima
sebagai salah satu unsur khas orang Peru. Hal yang positif adalah bahwa
perusahaan tidak pernah kehilangan aspek ini dalam promosi produk mereka,"
catat Guerra.
Saat ini, Guerra menambahkan, merek ini terus
dikaitkan "dengan apa yang membedakan kita sebagai Peru, kreativitas dan
kecerdikan." Ini diwujudkan dalam slogan iklan yang digunakan Inca Kola beberapa
kali: "Dengan kreativitas, semua
mungkin". Dalam pandangan Guerra, ini "memperkuat hubungan
orang Peru dengan merek ini... Itu menjadi lebih kuat terkait dengan kekuatan utama
Peru dalam hal makanan. Serasa tak mungkin ada makanan khas Peru, tanpa
dilengkapi dengan minuman Inca Kola."
Cortez
menunjukkan bahwa Inca Kola selalu lebih diuntungkan dengan hidangan khas Peru, yang merupakan perpaduan makanan Asia
dan tradisi indian yang dikenal dengan sebutan chifa,"yang kami orang-orang Peru sangat bangga karenanya. Dan
itu memperkuat gambaran identitas nasional dari merek ini, yang posisinya
menjadi terkuat di kancah pasar nasional,
meskipun Coca-Cola adalah merek terkuat kedua dalam hal popularitas.”
Sekarang, Inca Kola memiliki pangsa pasar
lokal sebesar 26%, diikuti oleh Coca-Cola, yang memasuki pasar Peru tahun 1936,
25,5%. Menurut laporan oleh
Scotiabank Peru, sekitar 50 merek bersaing dalam pasar minuman ringan di Peru,
dengan tingkat penetrasi 74,4% ke sektor rumah tangga. Popularitas Inca
Kola telah menjadi sumber kebanggaan nasional, di hadapan dominasi jelas
Coca-Cola di seluruh benua Amerika Selatan.
Bahkan di tahun 1980, perbedaan pangsa
pasar antara kedua merek ini jauh lebih besar. Inca Kola saat itu berhasil
menguasai pasar 35% lebih kuat, dibanding pasar Coca-Cola yang hanya 21%. Kedua
merek selalu bersaing ketat di depan konsumen, namun Inca Kola memperoleh dua
keuntungan bisnis yang penting di tahun 1995, ketika perusahaan makanan cepat
saji Bembos memperkenalkan minuman Inca Kola sebagai pengganti Coca-Cola di semua
restorannya dan McDonald mendobrak eksklusivitas
kesepakatannya dengan Coca-Cola dengan menjual kedua produk minuman, baik
Coca-Cola maupun Inca Kola di semua lokasi restorannya di Peru.
Bila Tak Mampu Bersaing, Beli Saja…
Pada tahun 1999, Coca-Cola membeli 50%
saham Inca Kola sebesar 200 juta dolar AS, kemudian mengambil kendali pemasaran
ke luar negeri dan produksinya. Namun Lindley Corporation diizinkan
untuk mempertahankan kepemilikan minuman ringan itu di Peru.
Menurut Serra, langkah Coca-Cola itu
menunjukkan bagaimana mereka telah mengadopsi strategi defensif terhadap Inca
Kola. Dengan mengakuisisi kepemilikan saham Inca Kola, perusahaan "mengakuisisi
bisnis distribusi, di satu sisi, dan mempertahankan diri terhadap kebangkrutan,
di sisi lain. Alih-alih mencoba merombak merek atau menyingkir dari Peru, Coca
Cola bersekutu dengan Inca Kola," catat Serra. Sebaliknya, menurut Peñaflor,
pada kenyataannya Coca-Cola mengambil kesempatan besar yang ditawarkan produk
Inca Kola. "Bahkan jika Coca-Cola menang
dan bisa menghapus Inca Kola dari peta sekalipun, kemungkinan tetap akan ada kekosongan yang kemudian akan diisi oleh
pemain lain," kata Peñaflor. "Coca-Cola melihat kesempatan untuk
melanjutkan pengembangan merek itu, dan membawanya adalah kesempatan besar
untuk menciptakan portofolio yang tak ada duanya."
Gerard Costa, dosen marketing dan direktur
Observasi Konsumen di ESADE, mencatat bahwa perkembangan persaingan Inca Kola dan
Coca-Cola menunjukkan "pertempuran melawan merek multinasional yang membutuhkan
sumber daya." Upaya Lindley untuk bersaing dengan Coca-Cola memaksanya "untuk
melakukan investasi besar-besaran di tahun 1990-an, yang Lindley akhirnya
mengalami kerugian dan kemudian perlu menjual sebagian sahamnya." Terlepas
dari kenyataan bahwa penjualan Inca Kola membaik pada tahun 1998, perusahaan ini
kehilangan 9,6 juta dolar AS selama
sebelas bulan pertama tahun itu, demikian catatan Pasar Saham di Lima. Situasi
ini memaksa perusahaan mencari mitra yang dapat memanfaatkan aset perusahaan
dan, di saat yang sama, bisa membantu mengeksplorasi pasar internasional.
Sebenarnya ada perusahaan lain yang
digadang Lindley kala itu, antara lain Cervecerias Unidas, pembuat bir terbesar
di Chile, dan Grupo Polar, produsen bir terkemuka di Venezuela. Tapi Lindley
berkomitmen memilih Coca-Cola "karena mencari sesuatu yang tampaknya bisa mempermudah
ekspansi produk ke pasar luar negeri pada waktu itu," catat Serra. Namun
demikian, waktu membuktikan bahwa Inca
Kola ternyata "hanya mampu menembus pasar ke luar perbatasan, di wilayah yang
populasinya sebagian besar kelompok imigran Peru, seperti di negara tetangga Chile,"
tambah Serra. Di Chile, Embotelladora Andina, sebuah perusahaan bir lokal,
baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka telah mulai memproduksi Inca Kola dengan
tujuan memenuhi permintaan "orang-orang Peru yang tinggal dan bekerja di
daerah metropolitan Santiago," kata Carlos Romero, manager pemasaran Coca-Cola
Chile, kepada majalah bisnis Amerika Latin, America Economía.
Inca Kola juga hadir di Ekuador, tetangga
utara Peru, serta di Amerika Tengah dan beberapa negara bagian AS. Namun
demikian, kehadiran Inca Kola yang semakin berkurang bahkan di pasar tersebut
menunjukkan maksud sebenarnya dari akuisisi Coca-Cola dengan perusahaan Peru, kata
Costa. Bahkan meski perusahaan multinasional itu meningkatkan manajemen portofolio
merek, termasuk merek lokal, mereka harus memutuskan "jika merek-merek lokal
itu harus dikelola sebagai merek 'uni-budaya' [diarahkan hanya pada target awal
mereka] atau sebagai merek multikultural [menggunakan kekuatan keuangan dan
tenaga pemasaran untuk menargetkan penjualan ke masyarakat lain], " tambahnya.
Menurut Costa, dalam kasus ini Coca-Cola memutuskan menggabungkan perusahaan minuman
itu hanya sebagai "portofolio lokal dan sedikit lebih dari itu.
Satu-satunya hal yang mungkin mengubah strategi ini adalah peningkatan aliran
imigrasi di Amerika Selatan. Faktanya, Coca-Cola tidak mengembangkan produk di
negara target baru, seperti di Spanyol misalnya di mana ada cukup imigran
Amerika Latin, yang benar-benar menunjukkan strategi yang dasar di balik itu".
Serra tidak melihat banyak cara Coca-Cola
mempromosikan ekspansi internasional Inca Kola. "Meskipun Coca-Cola ingin
mempromosikan merek mereka, perusahaan itu tidak akan pernah melakukan kampanye
pemasaran yang besar karena itu akan berarti kanibalisasi merek sendiri."
Dia mencatat, cara yang ditempuh Coca-Cola adalah kampanye distribusi yang terikat
dengan makanan khas Peru, tapi bukan sebuah inisiatif untuk mendistribusikan
minuman pada skala besar. "Karena meskipun produk itu dijual dengan sangat
baik di tempat-tempat tertentu, pada akhirnya harus memenuhi selera lokal di
mana Anda ingin menjual produk itu.
Kasus Inca Kola dan buntutnya ini
tampaknya menjadi sebuah tantangan tersendiri. Costa masih mempertanyakan jika
keberhasilan produk lokal itu karena kekhasan
bau, rasa dan fungsionalnya, kalau itu dihubungkan dengan rasa ideal
untuk makanan orang Peru. Penulis
Argentina Jorge Luis Borges bahkan pernah menyindir kalau produk itu "hanyalah
sebuah minuman tak masuk akal." Salah satu indikasi dari kurang
berhasilnya pemasaran produk ini ke luar adalah lemahnya ekspansi produk ini di
Asia. Selain itu, penjualan di Amerika Serikat dan Jepang juga hanya terbatas
pada imigran Peru dan kelompok etnis dari Amerika Latin. "
Nano Cortez menambahkan, sementara Inca
Kola secara luas dikonsumsi sebagai minuman ringan yang disandingkan dengan makanan
khas Peru di negara asalnya, potensi "konsumsi minuman koka kuning ini di
negara-negara Asia masih belum konkrit." Sebenarnya, inisiatif
internasionalisasi yang dilakukan oleh Grupo Añaños, kompetitor lain di sektor
ini, telah melibatkan "Big Cola", yang justru boleh dikata lebih
berhasil daripada Inca Cola.
Peñaflor setuju akan sulit bagi Inca Kola
dan produsen minuman sejenis untuk bisa bersaing di luar negeri, bila mereka
masih menghubungkan minuman itu dengan masakan khas Peru. Andai terjadi sebaliknya,
produk pertama minuman ini akan perlu dianggap sebagai minuman khas Peru.
Asosiasi ini akan perlu dicapai pada tingkat persepsi kedua dan di bidang logistik,
tambahnya, yakni bekerja bergandengan tangan dengan restoran-restoran Peru untuk
membuka pintu mereka di luar negeri dan dengan Promperú, organisasi untuk
promosi ekspor dan wisata di Peru.
Model-model
Tiruan
Pertempuran minuman ringan di Peru tidak
berakhir dengan terjalinnya aliansi Coca-Cola dengan Inca Kola. Merek lain,
seperti Kola Real, memenangkan ruang berkat pasar domestik dengan harga yang lebih rendah
dan kualitas yang relatif baik, dan mereka mengambil keuntungan dari fakta
bahwa Inca Kola tampaknya bergerak, sedikit demi sedikit, jauh dari posisi
aslinya.
Menurut Costa, Inca Kola tidak konsisten setia
pada formula kemenangan pemasarannya, yang "dalam artian, tidak
mempertahankan posisinya; mengembangkan posisi yang khas sebelumnya dan orientasi
pada generasi baru, di tengah dekade tahun 2000an, berevolusi ke arah
identifikasi diri dengan nilai-nilai generasi baru, yang adalah proses sangat
profesional, tapi dengan tidak mempertahankan citra emosionalnya. "
Kepasifan terang-terangan Coca-Cola
sehubungan dengan ekspansi internasional Inca Kola juga berdampak pada merek
lain, yang berusaha mengisi kesenjangan pasar. Di Spanyol, misalnya, Cristal
Cola mencoba menarik sejumlah besar warga Ekuador di negara itu, dengan rasa
yang mengingatkan mereka Inca Kola.
Menurut Costa, kasus Inca Kola ini dapat terjadi
di setiap negara di mana "globalisasi, selama situasi ekonomi lemah—seperti
di Peru selama tahun 1980 dan 1990—telah membawa konsumen-konsumennya untuk
mengidentifikasi diri dengan produk local." Dalam strategi ini, merek tidak hanya harus
memperhitungkan budaya konsumen, tambah Peñaflor, tetapi "juga menjadi
bagian dari budaya mereka dengan mengubah diri dari sebuah produk yang
dikaitkan hanya dengan tempat, kesempatan atau peristiwa tertentu, menjadi produk
yang juga terkait dengan identitas masyarakat tertentu."
Akhirnya, sektor
minuman ringan semestinya berurusan juga dengan tantangan lain: pentingnya
kategori minuman lain, seperti jus dan air botolan. “Ke depannya, minuman sehat
akan mempengaruhi tingkat konsumsi," catat Peñaflor. Apalagi, tambahnya,
setelah laporan terbaru di AS tentang konsumsi minuman ringan yang membuat tingkat
obesitas meninggi dan kondisi tidak sehat lainnya. Pada akhirnya, "peluang
di sektor ini akan melibatkan pengelola portofolio produk minuman untuk mengatasi tuntutan yang sangat beragam dari
konsumen." ***

0 comments:
Post a Comment
Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda