Thursday, June 13, 2013

Masyarakat Tanpa Uang: Mungkinkah?

Ada beberapa hal yang harus dibayar dengan uang tunai. Setidaknya itulah aturan yang dulu berlaku. Sekarang? Maaf ya, itu sudah usang.

Lupa uang tunai untuk parkir? Jangan khawatir, sekarang sudah semakin banyak kota-kota di dunia menerima pembayaran lewat mesin otomatis cukup dengan kartu kredit. Atau, bisa dibayar lewat perangkat telepon selular pintar yang  dimungkinkan oleh fitur-fitur pembayarannya yang semakin canggih.

Perlu uang tunai untuk bayar tol? Tak usah bila Anda punya E-Z Pass (‘jalan mudah’) atau sistem pembayaran elektronik lain yang mengurangi saldo pra-bayar Anda otomatis begitu Anda melintasi gerbang tol. Ada bahkan pedagang jalanan (benar, pedagang jalanan! tapi di luar negeri-ed) yang bekerja dengan mesin pembaca kartu kredit yang terhubung dengan telepon selular atau sabak elektronik pintar mereka. Berkat alat itu dan sejumlah inovasi elektronik lain, agaknya banyak konsumen tak ada alasan lagi membayar sesuatu dengan uang tunai. Kenyataannya, banyak para bankir, para ekonom dan banyak pihak di bidang lain yang mempertahankan ide ini sudah membuktikan bahwa melewati hari-hari tanpa uang dalam kantong itu memang mungkin. Masalahnya adalah, apakah benar semua pihak siap dengan masyarakat tanpa uang tunai? Bahkan di AS pun, pertanyaan ini masih sangat relevan diajukan.

Sebagian besar pengamat agaknya percaya bahwa meski sudah ada banyak teknologi yang memungkinkan suatu kehidupan tanpa uang tunai, masyarakat masih harus melewati jalan panjang sampai semua pembayaran memang bisa dilakukan dengan cara seperti itu. “Bukan tidak mungkin, tapi tidak akan terwujud dalam waktu semalam. Tapi saya percaya kita sedang menuju sebuah masyarakat yang tidak perlu uang untuk membayar,” kata Shawndra Hill, dosen manajemen operasional dan Informasi di Wharton School.

Alasan satu-satunya mengapa para konsumen tidak mau mempraktikkan pembayaran tanpa uang adalah karena takut kalau bank-bank dan toko-toko bisa menakses informasi pribadi dan informasi mereka lainnya, demikian pengamatan dari Hill. “Banyak orang tidak ingin semua yang dilewatinya harus selalu terdokumentasi,” kata Ron Shevlin, seorang analis senior dari Aite Group di Boston, yang menambahkan bahwa profil demografi penduduk juga alasan lain yang menyebabkan uang masih akan beredar dalam kurun waktu yang masih lama. “Orang-orang tua tidak mau pantang uang tunai, tak pula mau bagi para generasi baby boomers (orang-orang Amerika yang lahir pasca perang).”

Kenyataannya, banyak konsumen, terlepas dari berapa usia mereka, sekarang ini lebih terbuka daripada dulu dalam menjamin kepemilikan uang tunai dalam jumlah yang besar. Menurut data terakhir dari transaksi kas di ATM yang disediakan Federal Reserve (Fed), tahun 2009 konsumen menarik total 629 ribu dolar AS, naik 3% disbanding tahun 2006. Fed juga mengabarkan bahwa penggunaan kartu kredit sedang menurun: tahun 2011 konsumen punya 803.8 juta dolar AS di dalam kredit, dan sebagian besar jumlah itu ada di dalam kartu kredit. Ini mengindikasikan adanya penurunan drastis sebanyak 15% dibanding tahun 2007. Namun demikian, bisa ditambahkan pada statistik tersebut, kenyataan bahwa konsumen sedang mencari cara untuk mengencangkan pinggang dan menghemat pengeluaran akibat krisis yang terjadi selama ini. 

Meski kita masih jauh dari masyarakat tanpa uang, para spesialis memperkirakan penggunaan uang akan berkurang di tahun-tahun mendatang. Kenyataannya, penggunaan uang telah menurun sampai 3% setiap tahunnya, demikian menurut laporan Aite Group dalam  "The Less-Cash Society: Forecasting Cash Usage in the United States" (Sebuah Masyarakat dengan Sedikit Uang: Perkiraan Penggunanaan Uang Tunai di AS).

Konsumen; Sebuah Teka-Teki

Komunitas, tak diragukan lagi adalah keuntungan besar untuk pada konsumen saat bicara tentang sebuah hidup tanpa uang tunai. Mereka tak perlu mencari bank atau ATM sebelum berbelanja. Dalam kenyataannya, aplikasi-aplikasi pembayaran mobil memungkinkan terjadinya pembelian meski klien tidak punya kartu kredit di tangan. Di samping membayar dengan kartu kredit atau telepon pintar, ada juga keuntungan lain dengan bisa memiliki transaksi yang terdaftar.

Namun demikian, konsumen memang selalu harus menanggung sejumlah biaya untuk bisa menikmati layanan-layanan seperti itu. Di satu sisi, ada godaan untuk menghabiskan banyak dengan kartu kredit, karena pembelian dengan tipe ini adalah “beli sekarang, bayar kemudian”. Di sisi lain, mencuri data kartu kredit atau informasi debit sekarang ini jauh lebih mudah daripada mengambil uang tunai dari seseorang. “Ekstrak kartu datang setiap bulan, dan setiap bulan perlu merevisinya, sebab selalu ada risiko kehilangan kartu atau seseorang bisa jadi mencuri nomernya,” kata Jack Guttentag, seorang profesor emeritus tentang Bank Internasional di Wharton.

Hidup tanpa uang juga membawa beban financial yang lain yang tidak tampak secara langsung. Praktisnya, semua kartu debit prabayar, misalnya, menanggung tarif aktivasi dan pemeliharaan. Meski orang membayar kartu kreditnya setiap bulan untuk menghindar dari beban bunga, sangat mungkin ada suatu tarif tahunan, terlebih bila termasuk bagian dari sebuah promosi “poin” atau suatu rencana bonus lain. Kartu debit memberlakukan sanksi berkaitan dengan penemuan-penemuan transaksi tertentu. “Dengan uang tunai, tak ada semua itu,” kata Jeremy Tobacman, pengajar di Politik Publik dan Bisnis di Wharton. “Kita sering lupa tentang itu, tapi perbedaannya juga bukan soal sepele. Di sebagian besar transaksi elektronik, konsumen hampir selalu membayar sejumlah tarif.”

Institusi-institusi perbankan dan administrator kartu kredit bergerak karena keuntungan-keuntungan pribadi dari usaha-usaha mereka menarik konsumen untuk tidak menggunakan uang tunai. Di 2011, administrator-administrator kartu melaporkan pemasukan mereka sebesar 154,9 juta dolar AS, menurut data dari R.K Hammer, perusahaan konsultan sektor ini. Penelitian terakhir dari perusahaan yang sama melaporkan kalau pada tahun 2011, pendapatan sebelumnya dari tarif telah melampaui pendapatan bunga sebelumnya dari seluruh administrasi kartu (termasuk kartu kredit, debit dan prabayar). Meski tarif-tarif atas yang terkafer menunjukkan penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya, disebabkan karena regulasi-regulasi federal, total penghasilan adalah 31.6 juta dolar AS di 2011, menurut data perusahaan riset Moeb Services.

Dalam kasus perbankan, semakin kurang ketergantungan konsumen pada uang kertas dan koin, maka semakin besar kemungkinan biaya tarif atas penghasilan, semakin kurang kemungkinan adanya cabang-cabang fisik, semakin berkurang pula pekerja yang dibutuhkan untuk menangani masalah uang. “Untuk institusi-institusi finansial, semua inovasi dalam bentuk pembayaran merupakan sumber penghasilan,” kata Guttentag. “Pembayaran-pembayaran yang dilakukan dengan uang tunai kurang menguntungkan, di samping sangat tak nyaman”.

Keuntungan lain untuk bank dan toko-toko minor yang menerima pembayaran melalui media elektronik adalah akses berharga pada data-data klien di setiap transaksi. Shevlin mengatakan toko-toko yang menyimpan daftar kebiasaan pembelian konsumen bisa mereka manfaatkan secara tersendiri. “Ini penting untuk perusahaan tahu bagaimana orang-orang menghabiskan uangnya,” kata Shevlin.

Hidup Tanpa Uang Tunai?

Gagasan akan sebuah masyarakat tanpa uang tunai tidak terbatas pada negara AS. Sebenarnya sudah banyak negara yang jauh lebih maju dalam mengembangkan teknologi pembayaran mobil dan yang menghindari uang kertas ini. Contohnya adalah Swedia, yang hanya 3% dari ekonominya menggunakan  uang, menurut data Bank Kompensasi Internasional (BIS: Bank of International Settlements). Di AS persentasi ini hanya 7%. Banyak toko di Stockholm, Swedia, sudah tidak menerima uang, banyak gereja juga telah memasang peralatan kartu kredit daripada mengedarkan kantong-kantong kolekte, dan bahkan kota-kota yang sangat kecil sudah tidak bekerja lagi dengan uang.

Meski akses ke teknologi terkini dan penduduknya yang relatif kecil membantu Swedia masuk dalam situasi di mana uang semakin berkurang dipakai, Hill meyakini, diperlukan suatu motivasi yang besar agar orang-orang AS meninggalkan uang dolar mereka. “Bisa jadi biaya pajak atau setipe insentif yang mengurangi transaksi uang tunai,” katanya. Sejauh ini belum ada perubahan apapun yang dilakukan pihak pemerintah untuk mendorong konsumen menggunakan media pembayaran elektronik, meski regulasi yang ditetapkan pemerintah untuk suku bunga antar bank, yang berlaku efektif akhir tahun lalu, mungkin bisa mendorong perusahaan-perusahaan mempromosikan pembayaran tipe ini.

Kartu-kartu prabayar juga merupakan sebuah komponen fundamental menuju masyarakat tanpa uang, kata Hill. Kartu-kartu seperti itu biasanya tidak berhubungan dengan sebuah akun bank atau suatu rincian informasi personal, yang bisa diterima secara lebih luas oleh mereka yang kuatir tentang privasi personal dan karena itu selalu membayar dengan uang. Sebenarnya kartu prabayar, yang semula diperkenalkan untuk menjangkau pelanggan berpenghasilan rendah, justru meluas ke semua kelas sosial. Pada tahun 2011, kartu-kartu prabayar memiliki dana sekitar 57 milyar dolar AS, dan jumlah ini bisa jadi meningkat secara substansial sampai 167 milyar dolar AS di tahun 2014, menurut sebuah analisa dari Mercator Advisory Group.  “Kartu-kartu prabayar sekarang ini bukan lagi produk bagi konsumen berpenghasilan rendah dan kurang beruntung,” kata Shevlin. “Sekarang ini adalah produk keuangan yang meluas digunakan di pasar”.

Di Mana Gerangan Recehan Beredar?

Sementara US Mint (Percetakan Uang Negara AS) akan terus mencetak dolar kertas dan membuat uang koin, yang akan digunakan oleh orang-orang Amerika untuk segala jenis pembayaran. Salah satu segmen yang bekerja dengan lebih banyak uang, misalnya, dan sedikit informasi mengenai transaksi resmi adalah pasar gelap dan perdagangan narkoba, di mana pihak yang terlibat tidak ingin dengan cara apapun tercatat transaksinya. "Saya pikir yang paling menarik dari semua itu adalah di mana Anda sekarang menggunakan uang," kata Guttentag "Industri obat adalah salah satu pengguna utama dari uang tunai".

Guttentag menambahkan bahwa banyak dari uang yang beredar di Amerika juga sampai negara-negara seperti Zimbabwe, yang beralih menggunakan dolar AS ketika mata uang lokal runtuh karena inflasi. Departemen keuangan AS melaporkan peredaran uang sekitar 1.030 miliar dolar AS  di tahun 2011,  meningkat sebesar 9,8% dibanding tahun sebelumnya, tetapi diperkirakan sekitar setengah dari jumlah itu berada di luar negeri. Total volume uang dicetak pada tahun 2011 adalah 165 milyar dolar AS, atau 22% lebih sedikit dari tahun lalu.

Berkenaan dengan dolar yang digunakan oleh orang Amerika rata-rata (yang, karena peraturan, tidak terlibat dalam kegiatan keuangan ilegal atau internasional), pembayaran yang dilakukan antar individu merupakan segmen terbesar dari transaksi,  yang penggunaan uangnya terus berlanjut. Sekitar 53% dari semua pembayaran antar individu dilakukan secara tunai (27% dilakukan dengan cek), demikian laporan Aite dalam "The Less-Cash Society". Lalu pertanyaanya sekarang, sama yang diungkapkan Shevlin; "Bagaimana lagi membayar tukang kebun yang memotong rumput?". Di tangan keputusan Andalah jawabannya. *** (Heronimus Maryono)


Diterjemahkan dan disadur dari Sin efectivo: ¿Lo que es bueno para los bancos es bueno para la gente?, di www.wharton.universia.net.

0 comments:

Post a Comment

Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda