Sebuah
perusahaan yang besar, dengan segala modernitas sistemnya, aktual, kontemporer
dan kompetitif sekali pun, tak akan bisa bertahan lama bila tanpa visi yang
membimbing ke arah tujuan yang telah ditentukan.
Visi itu, bisa kita sebut mimpi, adalah
segala-galanya dan merepresentasikan semua yang terjadi dalam perusahaan. Misi
perusahaan tergantung pada hal itu, baik kebijakan, norma, aturan, strategi,
taktik, tujuan perusahaan semua mengorbit pada visi dengan rencana pasti untuk
merealisasikannya secara nyata, konkrit dan mengesankan.
Tanpa visi, perusahaan tidak akan punya
"rencana terbang" (flight plan) atau sebuah tujuan yang akan
tercapai, atau setidaknya, tempat di mana usaha akan "mendarat"
dengan layak dan selamat. Andai tidak ada pertanyaan "di mana" atau
"mengapa" dalam sebuah perusahaan, yang terjadi hanyalah
ketidakpastian, penyalahgunaan kesempatan, anarki dan ketidakteraturan. Visi
itu merupakan sebuah akhir dan awalan sekaligus. Tanpa visi Anda tidak dapat
memulai sebuah bisnis, dan tanpanya sulit akhirnya Anda bisa menentukan pewaris
yang bisa meneruskan usaha yang sudah dirintis.
Visi Pribadi vs Visi Perusahaan?
Berpikir bahwa hanya sebuah bisnis yang
memerlukan visi adalah sebuah utopia. Semua orang dan segala hal membutuhkan
sebuah titik pencapaian, tujuan untuk
mencapai suatu puncak. Adalah hal yang sangat biasa dalam konsep
tradisional bahwa perusahaan meminta karyawan mengetahui dan mengerti dengan
baik visi perusahaan tempat ia bekerja, tentang ke mana perusahaan mengarah dan
apa yang perusahaan harapkan, juga apa yang ingin dicapai.
Dalam praktiknya, bahkan, mereka tidak hanya mengetahui dan mengertinya, tetapi juga mengadopsi visi itu sebagai visi mereka sendiri dan berkomitmen untuk melaksanakannya selama mereka menjadi bagian dari organisasi. Hal itu bisa sangat dimengerti, karena untuk mencapai suatu visi-misi yang baik dalam perusahaan memang diperlukan kerjasama dan keterlibatan dari semua pihak yang menjalankan perusahaan..
Dalam praktiknya, bahkan, mereka tidak hanya mengetahui dan mengertinya, tetapi juga mengadopsi visi itu sebagai visi mereka sendiri dan berkomitmen untuk melaksanakannya selama mereka menjadi bagian dari organisasi. Hal itu bisa sangat dimengerti, karena untuk mencapai suatu visi-misi yang baik dalam perusahaan memang diperlukan kerjasama dan keterlibatan dari semua pihak yang menjalankan perusahaan..
Yang tidak biasa dan bahkan bisa kita sebut
salah adalah bahwa perusahaan sering hanya berkutat pada tuntutannya pada
karyawan untuk mengerti visinya, namun tidak peduli dengan apa yang diimpikan
atau diharapkan dari masing-masing karyawan secara personal.
Memang benar bahwa perusahaan dirancang dan
dibentuk tidak melulu atau belum tentu bertujuan untuk merealisasikan impian
karyawan-karyawannya. Perusahaan-perusahaan itu dibentuk misalnya dengan tujuan
komersil, untuk menghasilkan produk dan pelayanan yang punya nilai tambah bagi
masyarakat dan keuntungan bagi para pemegang saham dan pemilik-pemiliknya.
Namun demikian, sebuah perusahaan adalah juga
seperti kendaraan, perangkat, atau instrumen yang memberikan kontribusi pada
pencapaian mimpi setiap karyawan atau asosiasi. Kalau tidak demikian, kita tak
dapat bicara tentang perusahaan dalam konsep modern, tetapi semacam perbudakan
modern di mana karyawan, atau dalam hal ini, budak model baru, hanya melakukan
pekerjaan mereka dan hanya itu, dengan terpaksa.
Jika Anda telah memahami konsep co-esteem, jelas bahwa mimpi merupakan bahan bakar yang memungkinkan motivasi dan tujuan setiap individu tergabung dan diarahkan untuk memberikan substansi praktis dengan harapan kolektif, yang tidak keluar kurang dari harapan mereka sendiri.
Bila karyawan
tidak melihat kemungkinan mencapai harapan dan impian mereka dalam sebuah
organisasi, biasanya ia memang akan
tetap tinggal dalam organisasi tersebut, namun hanya sampai saat ia menemukan
pekerjaan yang lebih baik, yang akan memberikan kemungkinan yang jauh lebih
baik dari yang sekarang. Ia hanya akan menganggap pekerjaannya di perusahaan
saat ini sebagai batu loncatan saja untuk menuju perusahaan yang ia harapkan
dapat memberi kondisi dan situasi yang lebih nyaman di masa depan. Ketika
kenyamanan itu ia temukan, meski dengan beban pekerjaan yang sama sekali pun,
ia akan berpindah dan keluar dari perusahaan terdahulu.
Jadi, seperti
bila kita bicara tentang kompetensi setiap individu, pengetahuan dan
keahliannya sebagai bagian dari nilai tak berwujud (intangible assets)
perusahaan, sebagai bagian dari "modal manusia" yang bernilai,
demikian pula mimpi-mimpi karyawan.
Mimpi-mimpi harus dilihat sebagai elemen penting untuk menjaga
perusahaan agar tetap hidup, karena dari mereka, dari semua mimpi yang mereka
miliki, perusahaan itu diciptakan dan dibangunlah jiwa perusahaan yang
sebenarnya.
Tak
Cukup dengan Seorang Visioner
Salah satu
kesalahan yang sering muncul, dari sejak zaman revolusi industri sampai sekarang,
adalah seringnya orang menganggap bahwa visi sebagai jiwa perusahaan itu
terlahir dari seorang pencipta (creator) atau seorang penggagas tertentu
(ideolog). Parahnya, orang-orang seperti itu sering didewakan sebagai sosok
visioner yang mampu melihat apa yang tidak dilihat banyak orang di perusahaan,
yang memungkinkan perusahaan sukses dan berkembang. Dalam kenyataannya, bisa
jadi gagasan seorang visioner tersebut penting dan berarti. Namun demikian, itu
semua baru akan mendapat tempat dan terealisasi dengan sejumlah penting manusia
yang bekerja dan terlibat di dalamnya, yang tidak hanya melihat kemungkinan
mendukung visi tersebut, tetapi juga mewujudkan impian-impian mereka.
Mengabaikan
ide-ide atau konsep-konsep, impian-impian karyawan dengan tanpa membuka
komunikasi dengan semua pihak dalam perusahaan adalah tindakan yang menyangkal
entitas perusahaan sendiri. Mimpi-mimpilah, hubungan antar mereka, pertukaran
ide-ide mereka dan kemungkinan perhatian pada yang mereka pikirkan adalah yang
membuat terbangunnya perusahaan yang sebenarnya.
Umumnya orang
bekerja dalam sebuah organisasi atau perusahaan, karena ada unsur yang
mendukung kebutuhan dasar mereka, kebutuhan sosial dan ekonomi. Itu memang benar, namun demikian,
sebagian besar dari mereka bekerja juga karena harapan bahwa mereka bisa mewujudkan mimpi-mimpi
mereka sesuai visi organisasi tersebut.
Bila
Tak Pandai Merajut Mimpi
Bila yang ideal itu bisa terwujud, maka yang terjadi adalah baik karyawan dan perusahaan sama-sama merasa beruntung. Hubungan segaris karyawan-perusahaan-kepuasan, kinerja seperti yang diharapkan, komitmen-komitmen yang setingkat derajatnya dan menciptakan selalu win-win solution itu niscaya merupakan kondisi yang nyaman, baik bagi karyawan maupun perusahaan. Tetapi, ketika perusahaan bukan merupakan tempat yang ideal untuk menabur benih-benih mimpi, maka yang akan dipanen adalah dua skenario berikut.
Yang pertama, adanya pergantian konstan, yang didahului dengan kinerja yang buruk dan lingkungan kerja yang berat. Yang kedua, terkait dengan kinerja yang rata-rata, staf pasif dan tidak tertarik pada yang terjadi dalam perusahaan, pesan-pesan konstan yang sering diabaikan akhirnya menimbulkan pengunduran diri. Dalam situasi kedua ini, sering orang bekerja dengan motivasi hanya karena kebutuhan dasar, sosial dan ekonomi, bukan karena passion atas pekerjaan yang digelutinya, apalagi yang sesuai dengan harapan dan impiannya.
Ketika mimpi
menghilang dari kumpulan gagasan kolektif, perusahaan menjadi sebuah organisme
dengan hidup yang vegetatif, atau singkatnya, kehilangan jiwanya. Perusahaan boleh
memiliki visi, bahkan mimpi khusus, tetapi kurangnya hubungan antara mimpi itu
dengan mereka yang memungkinkan terwujudnya, hanyalah sama dengan gangguan
sistem limbik pada tubuh manusia pada bagian organ-organnya, sehingga mencegah
memberikan respon pada rangsangan emosional yang dimaksukkan kepadanya. Meski
sekilas terlihat tubuh memiliki semua bagian dan organ-organnya untuk
beroperasi, tetapi semua itu tak berfungsi karena sakit.
Perusahaan yang
membuat frustrasi mimpi-mimpi karyawannya atau menurunkan derajatnya pada tingkat ketiga setelah visi perusahaan
dan unit-unit yang bertanggung jawab menafsirkannya, punya ciri-ciri yang mudah
dikenali: situasi lingkungannya berat, kurangnya kecepatan dalam proses
produksi, kekacauan secara fisik dan emosional dari daerah di tempat mereka
bekerja dan masalah konstan yang muncul di semua tingkat dan cabang-cabangnya.
Situasi lain, kurangnya perencanaan atau kurangnya rencana pemantauan membuat
rendahnya kualitas produk dan layanan, bahkan jika mereka memiliki kebijakan
dan mekanisme yang seharusnya menjamin sekali pun. Di samping itu, kurangnya identifikasi yang
jelas dan ikatan emosional dengan perusahaan akan sangat tampak. Sederhananya,
orang bekerja di sana karena merasa belum ada penawaran lain yang lebih menarik
dan, seperti yang dilakukan organisasi, mereka telah menempatkan mimpi-mimpinya
pada langkah lain sejak awal.
Perusahaan-perusahaan seperti ini beroperasi di
pasar sebagai "organisasi drakula",
yang fungsi dasarnya hanyalah mencari makan (memberikan apa yang mereka
buat dan meminta bayar untuk itu), tanpa memberikan nilai bagi masyarakat,
kehidupan manusia dan bahkan diri mereka sendiri. Seperti drakula, hidupnya hanya menghisap darah yang lain.
Tidaklah perlu menjelaskan perusahaan yang
bagaimana yang bisa membuat karyawannya merasa puas; yang mampu melaksanakan
tugas mereka sekaligus memenuhi impian-impian mereka, baik impian pribadi,
profesi maupun keluarga. Karakteristiknya jelas; tidak hanya karyawan, namun
juga pelanggan dan pemasok, yang hampir secara alami merasakan dorongan untuk
berhubungan dengan perusahaan seperti itu dan memaparkannya sebagai contoh dan
sumber kekaguman.
Mimpi karyawan itu bervariasi, bisa sangat
sederhana atau sangat rumit. Memang perusahaan tidak wajib membuat mimpi-mimpi
itu menjadi realitas, namun adalah hal yang baik bila perusahaan menyediakan
mekanisme, fasilitas, kesempatan dan cara untuk membantu karyawan dan mitra
mencapainya. Sederhananya, bila karyawan merasa puas dan bahagia, ia akan
bekerja dengan kenyamanan dan perawatan, yang kemudian ini akan diterjemahkan
ke dalam penjualan produk dan layanan yang berkualitas tinggi, yang pada
gilirannya menarik dan mempertahankan pelanggan. Selanjutnya, pendapatan naik,
ketahanan dan kepemimpinan perusahaan
yang stabil dan sebagainya. Semua itu pada gilirannya menjadi sarana bagi
banyak pihak untuk mencapai mimpi-mimpi mereka, yang tidak merugikan perusahaan
sedikit pun.
Sebuah ungkapan
populer berbunyi "bermimpi itu tak perlu biaya,". Tetapi, ketika kita
berhenti bermimpi, kita kehilangan segalanya, karena mimpi adalah harapan yang
mengarah pada perilaku yang lebih kreatif dan emosional dalam diri manusia.
Jika perusahaan tidak dapat memahami bahwa mereka harus bisa mengelola dengan
bijaksana impian-impian karyawan-karyawannya, dengan menggunakan energi
potensial yang dikandungnya dan memanfaatkan
bahan bakar yang ada, tetap terbuka dan senang berbagi pada karyawan;
jika perusahaan gagal memahami hal ini, ia akan gagal pula dalam menata sistem,
proses produksi dan kebijakan-kebijakannya. Secara materi masih mungkin
tampak baik, namun apa pun yang perusahaan lakukan, tanpa memperhatikan
mimpi-mimpi, akan selalu mengarah pada penyakit-penyakit yang sama yang telah
melanda organisasi lebih dari seratus tahun dan bahwa hanya sedikit yang
berhasil mengatasi sukses keluar dari masalah itu. Perusahaan bisa memiliki
semua yang diperlukan untuk membentuk tubuh organisasi, namun ketika menolak
mimpi-mimpi para pekerjanya yang berkolaborasi, sama dengan mengutuk dirinya
sendiri dan hidup tanpa jiwa. Selamat Bermimpi!* (dari berbagai sumber)
Terima kasih buat tulisannya.
ReplyDelete