Siapa
mau disebut underperformer, tak kompeten? Label
negatif itu tentu dihindari oleh siapa pun yang bekerja di sebuah perusahaan
atau institusi. Bila itu menimpa seorang karyawan, biasanya menjadi hal yang
memalukan dan mengecewakan.
Andi, sebut saja demikian namanya, baru-baru
ini bergabung dengan sebuah perusahaan telekomunikasi terkenal di Jakarta sebagai sales executive
senior. Di awal masa kerjanya, ia mendapat gaji yang cukup besar sesuai
keinginannya. Beberapa bulan kemudian, sama dengan karyawan lain, ia memperoleh
kenaikan gaji dari perusahaan. Hanya saja, masalah mulai muncul ketika
diketahui bahwa tingkat kinerjanya menurun drastis dan bahkan nyaris tidak
mampu memenuhi tuntutan kebutuhan perusahaan. Bosnya mulai melakukan monitoring
secara ketat pada semua pekerjaannya, membimbingnya di setiap titik masalah,
untuk membantu meningkatkan kinerjanya. Tetapi, masalahnya seperti justru makin
tambah memburuk. Itu membuatnya makin rendah diri dan tak percaya diri. Karena
tak tahan menanggung beban dan malu, ia memutuskan untuk berhenti dari
pekerjaannya, meski perusahaan masih
memberinya kesempatan.
Tak bisa disangkal, ada banyak sebab yang membuat
seseorang kadang gagal memenuhi harapan tempat ia bekerja. Kalau sudah
demikian, ia masuk dalam kelompok pekerja yang underperformance, tak punya performansi baik, tidak kompeten, kemampuan di bawah rata-rata. Lalu, apakah
itu artinya akhir dari karir seseorang? Tentu saja tidak. Alih-alih berarti
kiamat sebuah karir, bagi orang yang tertantang untuk menjadikan itu titik
tolak bagi perbaikan kinerjanya secara menyeluruh, status underperformer itu
justru bisa menjadi cambuk yang baik untuk sebuah evaluasi diri yang penting.
Tak
Penting Siapa yang Tahu
J. Richard
Hackman, seorang profesor dari Harvard University, mengatakan, "Biasanya
seseorang tidak menyadari bahwa ia underperformer," (J.Richard Hackman,
Leading Teams: Setting the Stage for Great Performances, HBR Press Book, 2002).
Maka tak seorang pun dengan sukarela mau menyatakan dirinya underperformer.
Karena itu kadang-kadang seorang atasan, kadang rekan, atau yang sewajarnya
seorang perwakilan HR-lah yang biasanya akan memberitahu seorang karyawan,
bahwa ia tak memenuhi standar kinerja yang ditetapkan perusahaan. Namun
demikian, menurut Hackman, yang semestinya terjadi bukan yang prosedural
seperti itu.
Tidak penting
bagaimana kinerja seseorang yang kurang itu diidentifikasi oleh dirinya sendiri
atau orang lain. Menyadari kenyataan itu terjadi pada diri seseorang adalah
langkah penting pertama agar seseorang bisa memperbaiki performansinya.
"Jika performansi Anda buruk, kemungkinan semua orang memang tahu itu.
Jika semua orang tahu itu, maka mari kita mengakui itu dengan tenang, karena
setidaknya kita semua hidup di dunia yang sama," kata Jean-Franois
Manzoni, Profesor Kepemimpinan dan Pengembangan Organisasi di IMD international
(Jean-Francois Manzoni, Jean-Louis Barsoux, The Set-Up-to-Fail Syndrome: HowGood Managers Cause Great People to Fail, HBR Press Book, 2007). Langkah
pertama itu menentukan langkah-langkah berikutnya untuk memperbaiki performance
seseorang.
Apa
yang Bisa Kuubah, Apa yang Tidak?
Menurut Hackman,
kita semua memiliki kemampuan luar biasa untuk retrospeksi diri secara logis,
yang memungkinkan kita merasionalisasi kesulitan sebagai bukan salahku. Kita
sering begitu mudah menjadi defensif demi mengelak terbebani sesuatu, terutama
karena alasan-alasan yang mendasar untuk membela diri seringkali sederhana.
Biasanya ada banyak alasan yang kompleks berkaitan dengan kekurangan yang sulit
kita akui. Sementara itu,
benar mungkin bahwa kita berada pada manajemen yang buruk atau karena mewarisi tim yang lemah. Entah itu menyangkut
data konkret, seperti angka penjualan, atau feedback yang konsisten dari atasan
kita, sesama teman, atau laporan langsung dan sebagainya, adalah hal-hal yang
memang selalu penting untuk menyeimbangkan informasi tentang penilaian diri
kita. Bagi orang-orang yang tak mau mengalah, kecenderungannya adalah memberi
atribut yang terlalu banyak pada kegiatan-kegiatan eksternal," kata
Manzoni. Hal ini terjadi terutama karena bias melayani diri sendiri. Misalnya,
kita mungkin merasa yakin bahwa kita memang memiliki wilayah penjualan atau tim
lebih sulit dari yang orang lain punyai.
Meskipun ada kemungkinan alasan-alasan itu
memang benar, bisa jadi ada juga aspek perilaku kita sendiri yang menyebabkan
sebuah kegagalan, yang menyebabkan kita menjadi underperformer. Manzoni
merekomendasikan kita mengambil sikap tegas melihat kinerja kita sendiri dan
membedakan antara apa yang kita bisa ubah dan apa yang tidak bisa. Hackman
menyarankan kita agar tak segan meminta masukan rekan sekerja, untuk lebih
memahami bagaimana kita bisa salah sasaran dalam pekerjaan. Tapi, jangan hanya
bertanya: "Bagaimana pekerjaan yang kulakukan?"
Cara-cara seperti ini umumnya jauh lebih
membangun dan membantu untuk mencari konfirmasi, dibandingkan meminta seseorang
untuk menanggapi sebuah pertanyaan terbuka tentang kinerja seseorang," kata
Hackman.
Usaha,
Strategi dan Bakat
"Jika Anda membuat kekacauan, Anda harus
terbuka dengan atasan Anda," desak Manzoni. Banyak bos menilai lebih baik bersikap terbuka mengatakan "aku butuh bantuan", daripada melakukan
berbagai rasionalisasi dan penjelasan yang sering menyertai kinerja yang buruk.
Nyatakanlah secara konkrit apa yang Anda minta. "Orang lain akan lebih
terbuka membantu jika Anda menunjukkan
kepada mereka bagaimana mereka dapat membantu, dan Anda menunjukkan pada mereka
bahwa Anda bertanggung jawab untuk apa yang ada dalam kendali Anda," kata
Manzoni.
Melibatkan orang lain rekan, mentor, bahkan
informasi-informasi langsung juga dapat membantu. Mintalah evaluasi tentang
bagaimana Anda melakukan sesuatu dan nasihat mengenai bagaimana Anda dapat
meningkatkan kualitasnya. Pertimbangan-pertimbangan ini punya dua tujuan. Pertama, agar mereka
membantu Anda mendapatkan wawasan yang bermanfaat tentang perilaku Anda
sendiri. Kedua, agar mereka juga tahu bahwa Anda bekerja pada masalah ini. Jika
mereka tahu, mereka lebih cenderung menguntungkan dalam menilai kinerja masa
depan Anda.
Menurut Hackman ada tiga hal penting yang perlu
kita lihat untuk menilai secara obyektif penyebab kinerja kita yang memburuk:
- Usaha. Apakah saya menempatkan cukup waktu dan tenaga untuk itu?
- Strategi. Apakah saya bekerja cerdas dan tidak hanya mengandalkan yang rutin-biasa?
- Bakat. Apakah saya memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan saya dengan baik?
Cukup dengan hanya bertanya dan menjawab tiga
pertanyaan sederhana itu, seseorang akan
menemukan beberapa hal konkrit yang bisa dilakukan untuk memperbaiki
diri. Gunakanlah jawaban-jawaban yang Anda
ungkapkan secara jujur dan tepat itu untuk memutuskan di mana Anda harus memfokuskan
upaya-upaya Anda.
Mengembalikan Reputasi
Setelah Anda membuat beberapa kemajuan,
berbagilah keberhasilan dengan orang lain. Mintalah evaluasi untuk
mengonfirmasi bahwa sungguh mereka telah melihat perbaikan pada kinerja Anda.
Bertanyalah dengan pernyataan seperti ini: "Aku telah melakukan beberapa
pekerjaan untuk meningkatkan derajat kinerjaku. Apakah Anda melihat adanya
perubahan? Apakah ada hal-hal tambahan yang Anda ingin sarankan pada
saya?"
Setelah semua itu, kita harus ingat bahwa akan
selalu ada reputasi yang kurang, karena pemulihannya memang memakan waktu. Reputasi baru akan terbukti pulih, bila Anda
mulai dilibatkan dalam pekerjaan-pekerjaan yang penting dalam perusahaan Anda.
When
You Find It Too Difficult to Restore
Harus diakui, ada saatnya kita mungkin merasa
terlalu sulit memperbaiki performansi kita. Bahkan jika kita sebenarnya telah
membuat kemajuan objektif, orang lain mungkin tidak mengakui seperti itu. Ada
juga kemungkinan kita menjadi sadar bahwa kinerja kita yang buruk itu
disebabkan karena kita memang tidak tertarik atau menjadi kurang berminat dalam
pekerjaan yang saat ini kita jalani. Dalam kedua situasi tersebut, pertimbangan
untuk pindah posisi pekerjaan merupakan hal yang bijaksana dan bisa dimengerti,
baik dipindah dengan tim baru atau karyawan yang lain. Menurut Hackman,
kadang-kadang menarik diri dari pekerjaan yang tidak diminati atau yang tidak
sukai seseorang, benar-benar merupakan pilihan terbaik.*
(Sumber utama:
http://blogs.hbr.org. Artikel ini diterbitkan pertama kali oleh Forum Manajemen
Prasetiya Mulya, November-Desember 2010, hal.120-124)

