Kesenjangan
gaji antara yang diterima laki-laki dan perempuan semakin menjadi labirin bias yang
disengaja dan jelas-jelas sebuah diskriminasi terang-terangan.
Kesenjangan itu bisa berupa peluang yang tidak sama
di tempat kerja, pada perspektif pendidikan dan norma-norma sosial yang berakar.
Dengan aksi sekuat apa pun di tempat kerja, sangat sulit—kalau tak bisa
dibilang mustahil—menemukan akar masalah yang menciptakan situasi yang
menghambat kemajuan karir wanita di perusahaan.
Janice Madden Fanning, seorang profesor Wharton bidang
Ilmu Real Estat dan Sosiologi Daerah dari The University of Pennsylvania, berkesempatan
mempelajari mekanisme kesenjangan upah antara pialang saham pria dan wanita,
saat bertindak sebagai ahli hukum pada gugatan tindakan kolektif yang diajukan terhadap
dua perusahaan pialang di awal 2000-an. Perempuan di perusahaan-perusahaan
tersebut mengeluhkan struktur upah yang tidak adil, yang menguntungkan pria. Perusahaan
pialang yang dituntut membela diri dengan argumen bahwa pria dan wanita di
perusahaan tersebut dibayar sesuai komisi yang berbasis sistem, dan bahwa perempuan
ternyata berpenghasilan rata-rata lebih rendah dari pria, karena memang kinerja penjualannya di bawah laki-laki.
Sistem
yang Bias Jender
Madden menemukan, ternyata wanita di perusahaan itu
umumnya ditugaskan untuk rekening-rekening yang kecil, yang tentu saja
menghasilkan komisi yang lebih rendah daripada yang diberikan dan
dihasilkan oleh para pialang pria. Menurut Madden dalam tesisnya berjudul Performance-Support
Bias and the Gender Pay Gap among Stockbrokers di http://gas.sagepub.com (versi lengkapnya bisa diunduh di http://repository.upenn.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1034&context=psc_working_papers), tindakan perusahaan semacam itu sama
dengan masuk lingkaran setan, karena
perusahaan di satu sisi menyediakan beberapa fasilitas yang sering membantu
pekerjanya agar memberikan hasil yang lebih baik, misalnya, kantor yang lebih
besar atau lebih menarik, staf pendukung dan mentor, berdasarkan catatan hasil penjualan
pekerja.
Di sisi lain, sebagai perempuan sering mereka tak memiliki kesempatan
berurusan dengan rekening-rekening yang menguntungkan, yang akibatnya menghapus kesempatan untuk memperoleh manfaat
yang akan memiliki dampak yang berarti bagi upaya penjualan mereka di masa
depan.
"Saya tidak bisa melihat sebuah
kantor yang dimiliki para wanita itu seperti apa, seperti apa
sekretaris-sekretarisnya dan titel-titel mereka," kata Madden. "Tapi
keputusan untuk memberikan semua fasilitas itu diambil oleh orang yang sama
yang menjauhkan para wanita itu dari kelompok orang yang menangani rekening-rekening
penting pada bursa saham. Para wanita pekerja itu kemungkinan kurang mendapat
dukungan pada wilayah ini, bahkan ketika mereka bekerja pada jenis rekening yang
sama yang ditangani pialang laki-laki."
Melalui "percobaan
alami" berdasarkan tawaran penjualan yang dihasilkan oleh
rekening-rekening yang telah ditransfer oleh manajer dari satu pialang atau broker
ke broker lain, Madden bisa menganalisis kinerja yang diperoleh pada situasi yang sama (ladang
permainan pada rekening-rekeningnya) untuk kedua jenis jender—saat broker perempuan
bekerja dengan klien yang memiliki potensi yang menghasilkan komisi tinggi, sama
dengan yang pernah dilakukan para broker pria pada klien sebelumnya. Penulis
menunjukkan bahwa para broker perempuan sebenarnya melakukan penjualan yang kurang
lebih setara dengan yang dilakukan oleh pria. "Saya terkejut dengan analisis
kinerja itu. Saya pikir memang perusahaan
benar, dan bahwa wanita memang tidak menghasilkan sebanyak penjualan para
broker pria. Itu tidak mungkin," katanya mengutip bukti yang menyatakan
bahwa wanita umumnya cenderung berinvestasi lebih konservatif dibandingkan pria
pada uang mereka. "Tapi mereka diberi insentif-insentif yang sama sebagaimana
pialang pria untuk melakukan penjualan pada rekening-rekening mereka, maka mereka
berperilaku dengan cara yang sama dengan pria."
Reaksi Naluriah
Dalam 15 tahun terakhir,
perempuan telah mengisi sekitar sepertiga dari posisi-posisi pialang perusahaan
dengan waktu penuh. Selama waktu itu, kata Madden, pendapatan perempuan
meningkat dari 54% menjadi sekitar dua pertiga upah laki-laki, tapi posisi
tersebut masih mencatat tingkat kesenjangan upah tertinggi antar jender dalam
segmen penjualan, meskipun di posisi itu seorang perempuan dibayar lebih baik
di sektornya. Kedua perusahaan yang diteliti Madden merupakan
perusahaan-perusahaan besar, perusahaan broker
nasional yang menjual produk-produk keuangan terutama untuk investor individu. Meski
demikian, perempuan merupakan pekerja dengan persentase yang relatif kecil di
kedua perusahaan, 11,2% di satu perusahaan dan 13,8% di perusahaan lain.
"Tapi kesenjanganupah
antara kedua jenis jender di kedua perusahaan jauh lebih kecil dibanding
kesenjangan yang diamatinya di antara para broker, demikian menurut data
sensus," kata Madden. "Ini bukan karena kedua perusahaan itu kurang diskriminatif,
tetapi karena para wanita lebih suka bekerja di perusahaan kecil, yang kurang
berhasil. Perusahaan-perusahaan seperti ini juga memiliki sedikit pekerja wanita
yang proporsional dengan jumlah posisinya, karena itu perbedaan itu terjadi karena
kesulitan untuk masuk ke sebuah perusahaan pialang besar. "
Pada kedua perusahaan itu, gaji
para broker ditentukan secara eksklusif oleh komisi di akhir tahun kedua
setelah melewati hasil ujian Seri 7, syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan
tugas-tugas seorang broker terdaftar. Pada saat pengajuan klaim, ada kesenjangan
yang “signifikan” pada kompensasi hasil penjualan yang dihasilkan antara pria
dan wanita, tulis Madden. "Hanya ada dua alasan mengapa terjadi
kesenjangan pemberian komisi penjualan di antara kelompok jender: [...] Wanita
menjual rata-rata kurang efektif dibandingkan pria; dan atau penilaian kinerja—yang
berhubungan dengan peluang yang mendukung penjualan, di antaranya termasuk
dalam soal kemampuan akuntansi dan berbagai media yang digunakan untuk
menghasilkan penjualan yang dipakai perempuan—, yang agaknya dianggap lebih
kecil dibandingkan yang ditunjukkan oleh pekerja pria. "
Madden menganalisa dua kemungkinan faktor itu menggunakan
data lebih dari satu miliar transaksi dalam rekening nasabah perusahaan antara
1994 dan 1996. Dia mengatakan, ada beberapa kemungkinan alasan mengapa perempuan
memiliki catatan penjualan yang lebih buruk dibanding pria: ketidakmampuan
bawaan, tetapi juga mungkin karena kinerja mereka tergantung dari faktor-faktor
sosial, misalnya, kenyataan bahwa pelanggan kadang tidak bersedia bekerja
dengan perempuan atau melakukan pembelian dengan para perempuan profesional.
"Percobaan alami" diciptakan dari
pengamatan terhadap pendapatan penjualan dari para pialang saham di kedua kelompok
jender, pada rekening dengan histori yang sama yang ditugaskan ke tiap pialang,
setelah pengawas asli rekening keluar dari perusahaan. Di satu perusahaan, pialang
wanita memiliki jauh lebih sedikit kesempatan pada rekening yang ditransfer. Namun,
ketika rekening tersebut diberikan kepada mereka, kinerja penjualan mereka
melampaui pialang pria. Di perusahaan lain, peluang pialang pria dan wanita
adalah sama, dan dalam kasus ini, kinerja pialang perempuan adalah seefisien kinerja
laki-laki.
Kurang
Diberi Kesempatan
Hasil ini menunjukkan bahwa perbedaan kinerja bukan berasal
dari kemampuan bawaan, kata Madden. Peneliti ini juga tidak menemukan bukti berarti
yang mendukung pada hipotesis bahwa prasangka pelanggan memainkan peran utama
dalam kesenjangan upah antara kedua jenis jender. Sebaliknya, Madden menemukan
bahwa wanita di kedua perusahaan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk
bekerja dengan tawaran komisi yang lebih tinggi. Hal itu, pada gilirannya, berpengaruh
buruk pada upah mereka dan kemampuan mereka untuk bersaing yang pada gilirannya
akan berpengaruh pada kinerja mereka.
"Kedua perusahaan pialang itu menyatakan bahwa mereka
memberikan transferan rekening yang lebih rendah pada pialang perempuan karena
mereka menghasilkan komisi penjualan lebih rendah di tahun sebelumnya, dan komisi-komisi
tahun sebelumnya itu digunakan untuk mengalokasikan rekening yang ditransfer,"
kata Madden. Namun, karyawan perempuan tidak memiliki kesempatan yang sama
dalam hal distribusi rekening nasabah. "Dampak dari perbedaan-perbedaan
kecil setiap tahun dalam distribusi rekening atau bentuk lain yang mendukung kinerja
akan terus bertambah selama masa kerja, sejauh perbedaan-perbedaan itu pada
awal karir memungkinkan para pialang memperoleh suatu tunjangan tambahan,
seperti jabatan dan ukuran kantor,
berdasarkan ukuran atau profitabilitas rekeningnya. "
Gugatan-gugatan hukum diselesaikan sebelum mencapai
pengadilan dan, karena merupakan bagian dari perjanjian, kedua perusahaan
sepakat untuk mengubah kebijakannya sehingga rekening dibagikan kepada pialang
melalui sistem standar. Madden mendengar dari para pengacara yang bekerja
dengan pihak-pihak pialang dari salah satu perusahaan tersebut sebuah komentar
berikut pada temuannya: "Tidak diragukan lagi kalau perusahaan salah waktu
menetapkan rekening [...] karena mereka tidak menyadari kiner ja yang sangat
baik dari para pialang wanita. "
Menurut Madden, studi ini adalah yang pertama yang menunjukkan
bagaimana bias gender mempengaruhi karyawan yang bekerja dalam sistem penggajian
yang mendasarkan pertimbangannya pada target kinerja para pekerja—melalui hasil
komisi, misalnya—, dan bukan dalam suatu sistem upah yang ditentukan oleh
penilaian subjektif kinerja. Madden mengatakan, penelitian ini menunjukkan
betapa penting perusahaan mengevaluasi bagaimana subjektivitas akhirnya masuk dalam
sistem dan merusak efektivitas sistem yang dibuat, yang maksudnya sebenarnya
untuk mendorong perlakuan yang sama di tempat kerja. "Dalam banyak peran,
perempuan atau kaum minoritas bisa jadi tertuduh, karena kebanyakan perempuan bertindak
tanpa berpikir," kata Madden. "Kaum wanita seharusnya tak boleh mendiskriminasi orang lain apalagi sesamanya, tetapi
kenyataannya mereka sering berperilaku lebih dengan naluri dan, sayangnya,
ketika kita melakukan itu, kita sering berdalih bahwa kita tidak sadar
melakukannya." ***
Artikel versi pra edit terbitan Forum Manajemen
Prasetiya Mulya, Juli-Agustus 2012. Diterjemahkan dan disadur dari artikel
Janice
Fanning Madden, La diferencia de salario entre hombres y
mujeres, un ciclo vicioso di http://www.wharton.universia.net.
0 comments:
Post a Comment
Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda