Thursday, June 13, 2013

The Gender Pay Gap: Sebuah Lingkaran Setan

Kesenjangan gaji antara yang diterima laki-laki dan perempuan semakin menjadi labirin bias yang disengaja dan jelas-jelas sebuah diskriminasi terang-terangan.

Kesenjangan itu bisa berupa peluang yang tidak sama di tempat kerja, pada perspektif pendidikan dan norma-norma sosial yang berakar. Dengan aksi sekuat apa pun di tempat kerja, sangat sulit—kalau tak bisa dibilang mustahil—menemukan akar masalah yang menciptakan situasi yang menghambat kemajuan karir wanita di perusahaan.

Janice Madden Fanning, seorang profesor Wharton bidang Ilmu Real Estat dan Sosiologi Daerah dari The University of Pennsylvania, berkesempatan mempelajari mekanisme kesenjangan upah antara pialang saham pria dan wanita, saat bertindak sebagai ahli hukum pada gugatan tindakan kolektif yang diajukan terhadap dua perusahaan pialang di awal 2000-an. Perempuan di perusahaan-perusahaan tersebut mengeluhkan struktur upah yang tidak adil, yang menguntungkan pria. Perusahaan pialang yang dituntut membela diri dengan argumen bahwa pria dan wanita di perusahaan tersebut dibayar sesuai komisi yang berbasis sistem, dan bahwa perempuan ternyata berpenghasilan rata-rata lebih rendah dari pria, karena memang  kinerja penjualannya di bawah laki-laki.

Sistem yang Bias Jender
Madden menemukan, ternyata wanita di perusahaan itu umumnya ditugaskan untuk rekening-rekening yang kecil, yang tentu saja menghasilkan komisi yang lebih rendah daripada yang diberikan dan dihasilkan oleh para pialang pria. Menurut Madden dalam tesisnya berjudul Performance-Support Bias and the Gender Pay Gap among Stockbrokers di http://gas.sagepub.com (versi lengkapnya bisa diunduh di http://repository.upenn.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1034&context=psc_working_papers), tindakan perusahaan semacam itu sama dengan masuk lingkaran setan,  karena perusahaan di satu sisi menyediakan beberapa fasilitas yang sering membantu pekerjanya agar memberikan hasil yang lebih baik, misalnya, kantor yang lebih besar atau lebih menarik, staf pendukung dan mentor, berdasarkan catatan hasil penjualan pekerja. 

Di sisi lain, sebagai perempuan sering mereka tak memiliki kesempatan berurusan dengan rekening-rekening yang menguntungkan, yang akibatnya  menghapus kesempatan untuk memperoleh manfaat yang akan memiliki dampak yang berarti bagi upaya penjualan mereka di masa depan.

"Saya tidak bisa melihat sebuah kantor yang dimiliki para wanita itu seperti apa, seperti apa sekretaris-sekretarisnya dan titel-titel mereka," kata Madden. "Tapi keputusan untuk memberikan semua fasilitas itu diambil oleh orang yang sama yang menjauhkan para wanita itu dari kelompok orang yang menangani rekening-rekening penting pada bursa saham. Para wanita pekerja itu kemungkinan kurang mendapat dukungan pada wilayah ini, bahkan ketika mereka bekerja pada jenis rekening yang sama yang ditangani pialang laki-laki."

Melalui "percobaan alami" berdasarkan tawaran penjualan yang dihasilkan oleh rekening-rekening yang telah ditransfer oleh manajer dari satu pialang atau broker ke broker lain, Madden bisa menganalisis kinerja yang  diperoleh pada situasi yang sama (ladang permainan pada rekening-rekeningnya) untuk kedua jenis jender—saat broker perempuan bekerja dengan klien yang memiliki potensi yang menghasilkan komisi tinggi, sama dengan yang pernah dilakukan para broker pria pada klien sebelumnya. Penulis menunjukkan bahwa para broker perempuan sebenarnya melakukan penjualan yang kurang lebih setara dengan yang dilakukan oleh pria. "Saya terkejut dengan analisis kinerja  itu. Saya pikir memang perusahaan benar, dan bahwa wanita memang tidak menghasilkan sebanyak penjualan para broker pria. Itu tidak mungkin," katanya mengutip bukti yang menyatakan bahwa wanita umumnya cenderung berinvestasi lebih konservatif dibandingkan pria pada uang mereka. "Tapi mereka diberi insentif-insentif yang sama sebagaimana pialang pria untuk melakukan penjualan pada rekening-rekening mereka, maka mereka berperilaku dengan cara yang sama dengan pria."

Reaksi Naluriah
Dalam 15 tahun terakhir, perempuan telah mengisi sekitar sepertiga dari posisi-posisi pialang perusahaan dengan waktu penuh. Selama waktu itu, kata Madden, pendapatan perempuan meningkat dari 54% menjadi sekitar dua pertiga upah laki-laki, tapi posisi tersebut masih mencatat tingkat kesenjangan upah tertinggi antar jender dalam segmen penjualan, meskipun di posisi itu seorang perempuan dibayar lebih baik di sektornya. Kedua perusahaan yang diteliti Madden merupakan perusahaan-perusahaan  besar, perusahaan broker nasional yang menjual produk-produk keuangan terutama untuk investor individu. Meski demikian, perempuan merupakan pekerja dengan persentase yang relatif kecil di kedua perusahaan, 11,2% di satu perusahaan dan 13,8% di perusahaan lain.

"Tapi kesenjanganupah antara kedua jenis jender di kedua perusahaan jauh lebih kecil dibanding kesenjangan yang diamatinya di antara para broker, demikian menurut data sensus," kata Madden. "Ini bukan karena kedua perusahaan itu kurang diskriminatif, tetapi karena para wanita lebih suka bekerja di perusahaan kecil, yang kurang berhasil. Perusahaan-perusahaan seperti ini juga memiliki sedikit pekerja wanita yang proporsional dengan jumlah posisinya, karena itu perbedaan itu terjadi karena kesulitan untuk masuk ke sebuah perusahaan pialang besar. "

Pada kedua perusahaan itu, gaji para broker ditentukan secara eksklusif oleh komisi di akhir tahun kedua setelah melewati hasil ujian Seri 7, syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan tugas-tugas seorang broker terdaftar. Pada saat pengajuan klaim, ada kesenjangan yang “signifikan” pada kompensasi hasil penjualan yang dihasilkan antara pria dan wanita, tulis Madden. "Hanya ada dua alasan mengapa terjadi kesenjangan pemberian komisi penjualan di antara kelompok jender: [...] Wanita menjual rata-rata kurang efektif dibandingkan pria; dan atau penilaian kinerja—yang berhubungan dengan peluang yang mendukung penjualan, di antaranya termasuk dalam soal kemampuan akuntansi dan berbagai media yang digunakan untuk menghasilkan penjualan yang dipakai perempuan—, yang agaknya dianggap lebih kecil dibandingkan yang ditunjukkan oleh pekerja pria. "

Madden menganalisa dua kemungkinan faktor itu menggunakan data lebih dari satu miliar transaksi dalam rekening nasabah perusahaan antara 1994 dan 1996. Dia mengatakan, ada beberapa kemungkinan alasan mengapa perempuan memiliki catatan penjualan yang lebih buruk dibanding pria: ketidakmampuan bawaan, tetapi juga mungkin karena kinerja mereka tergantung dari faktor-faktor sosial, misalnya, kenyataan bahwa pelanggan kadang tidak bersedia bekerja dengan perempuan atau melakukan pembelian dengan para perempuan profesional.

"Percobaan alami" diciptakan dari pengamatan terhadap pendapatan penjualan dari para pialang saham di kedua kelompok jender, pada rekening dengan histori yang sama yang ditugaskan ke tiap pialang, setelah pengawas asli rekening keluar dari perusahaan. Di satu perusahaan, pialang wanita memiliki jauh lebih sedikit kesempatan pada rekening yang ditransfer. Namun, ketika rekening tersebut diberikan kepada mereka, kinerja penjualan mereka melampaui pialang pria. Di perusahaan lain, peluang pialang pria dan wanita adalah sama, dan dalam kasus ini, kinerja pialang perempuan adalah seefisien kinerja laki-laki.

Kurang Diberi Kesempatan
Hasil ini menunjukkan bahwa perbedaan kinerja bukan berasal dari kemampuan bawaan, kata Madden. Peneliti ini juga tidak menemukan bukti berarti yang mendukung pada hipotesis bahwa prasangka pelanggan memainkan peran utama dalam kesenjangan upah antara kedua jenis jender. Sebaliknya, Madden menemukan bahwa wanita di kedua perusahaan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk bekerja dengan tawaran komisi yang lebih tinggi. Hal itu, pada gilirannya, berpengaruh buruk pada upah mereka dan kemampuan mereka untuk bersaing yang pada gilirannya akan berpengaruh pada kinerja mereka.

"Kedua perusahaan pialang itu menyatakan bahwa mereka memberikan transferan rekening yang lebih rendah pada pialang perempuan karena mereka menghasilkan komisi penjualan lebih rendah di tahun sebelumnya, dan komisi-komisi tahun sebelumnya itu digunakan untuk mengalokasikan rekening yang ditransfer," kata Madden. Namun, karyawan perempuan tidak memiliki kesempatan yang sama dalam hal distribusi rekening nasabah. "Dampak dari perbedaan-perbedaan kecil setiap tahun dalam distribusi rekening atau bentuk lain yang mendukung kinerja akan terus bertambah selama masa kerja, sejauh perbedaan-perbedaan itu pada awal karir memungkinkan para pialang memperoleh suatu tunjangan tambahan, seperti jabatan  dan ukuran kantor, berdasarkan ukuran atau profitabilitas rekeningnya. "
Gugatan-gugatan hukum diselesaikan sebelum mencapai pengadilan dan, karena merupakan bagian dari perjanjian, kedua perusahaan sepakat untuk mengubah kebijakannya sehingga rekening dibagikan kepada pialang melalui sistem standar. Madden mendengar dari para pengacara yang bekerja dengan pihak-pihak pialang dari salah satu perusahaan tersebut sebuah komentar berikut pada temuannya: "Tidak diragukan lagi kalau perusahaan salah waktu menetapkan rekening [...] karena mereka tidak menyadari kiner ja yang sangat baik dari para pialang wanita. "

Menurut Madden, studi ini adalah yang pertama yang menunjukkan bagaimana bias gender mempengaruhi karyawan yang bekerja dalam sistem penggajian yang mendasarkan pertimbangannya pada target kinerja para pekerja—melalui hasil komisi, misalnya—, dan bukan dalam suatu sistem upah yang ditentukan oleh penilaian subjektif kinerja. Madden mengatakan, penelitian ini menunjukkan betapa penting perusahaan mengevaluasi bagaimana subjektivitas akhirnya masuk dalam sistem dan merusak efektivitas sistem yang dibuat, yang maksudnya sebenarnya untuk mendorong perlakuan yang sama di tempat kerja. "Dalam banyak peran, perempuan atau kaum minoritas bisa jadi tertuduh, karena kebanyakan perempuan bertindak tanpa berpikir," kata Madden. "Kaum wanita seharusnya tak boleh mendiskriminasi  orang lain apalagi sesamanya, tetapi kenyataannya mereka sering berperilaku lebih dengan naluri dan, sayangnya, ketika kita melakukan itu, kita sering berdalih bahwa kita tidak sadar melakukannya." ***


Artikel versi pra edit terbitan Forum Manajemen Prasetiya Mulya, Juli-Agustus 2012. Diterjemahkan dan disadur dari artikel Janice Fanning Madden, La diferencia de salario entre hombres y mujeres, un ciclo vicioso di http://www.wharton.universia.net.

0 comments:

Post a Comment

Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda