Konsumen
Apple vs Konsumen Samsung?
Seperti banyak diketahui, siklus
hidup produk ponsel dan semacamnya sekarang ini cenderung cukup cepat. Kita
terbiasa dengan iPhone baru setiap tahun, sementara itu, perusahaan mengolah
produk mereka tidak sepenuhnya meninggalkan beberapa desain inti. Berbeda dari
dinamika produksi beberapa industri lain, di mana satu desain akan berkuasa selama
puluhan tahun dan bahkan dekade. Dalam konteks ini, konsumen bisa jadi bertanya-tanya
mengapa Apple dan Samsung mengajukan kasus ini sampai ke pengadilan, padahal besar
kemungkinan desain-desain itu beberapa tahun ke depan jelas akan menjadi usang.
Dalam ranah sentimen publik,
Apple memang harus sedikit berhati-hati. Hsu berpendapat, pasar bisa bekerja pada
dua arah. Di satu sisi, mungkin ada sedikit reaksi dari pengguna dengan mengatakan,
"Yah, sebenarnya saya lebih suka, misalnya, platform Android dan Apple
mencoba menegaskan hak-hak tentang bagaimana perangkat itu harus disusun, bentuk
fisik produk, dengan cara yang belum tentu baru sama sekali atau yang layak atas
perlindungan paten. " Dan dengan begitu konsumen bisa lebih
bereksperimen dengan beberapa platform lain, seperti Nokia, Microsoft, dll.
Di sisi
lain, Hsu melihat mungkin beberapa pengguna mengakui bahwa Apple telah cukup
banyak memasukkan detail ke dalam desain mereka, tetapi tidak pada aplikasi fungsional,
dan untuk itu mereka harus dihargai.
Apple
telah memiliki seperangkat hal yang mengejutkan dan besar dalam hal kinerja
mereka di pasar saham dan nilai perusahaan. Ada bahaya mereka dianggap, dalam
arti tertentu, seperti Microsoft berikutnya, yang mencoba datang dengan satu
inovasi dan kemudian memblokade pesaing-pesaingnya dalam hal berinovasi. Kasus ini memang bagi
Apple bisa berarti fenomena pedang bermata dua; Apple harus terus, karena
mereka telah melakukan, melanjutkan langkah berinovasi, dan itu adalah tindakan
yang harus penuh kehati-hatian, karena di satu sisi perlu menyeimbangkan antara mencoba melindungi dan mencoba
berinovasi, dan di sisi lain membiarkan orang lain juga berinovasi melakukan
hal yang sama.
Bahaya
yang menghadang sebuah perusahaan yang memimpin pasar, menurut Hsu, adalah semua
serba tiba-tiba, dan mereka menjadi sasaran dari semua jenis sentimen konsumen.
Memang benar kala itu Microsoft pernah menjadi raja di pasar. Apple adalah
perusahaan yang jelas menekankan desain industri, serta fungsi dan terobsesi
pada detail. Konsumen telah jelas menghargai itu. Bagi Hsu, bahwa Apple telah
begitu sukses di pasaran, lalu perusahaan seperti Samsung datang dan hanya pada
dasarnya mengambil segala sesuatu dari Apple, setelah banyak eksperimen yang
dilakukan Apple, adalah kenyataan yang tidak adil.
Di sisi
lain, dalam kasus ini, menjadi jelas di pengadilan penajaman akan arti
perlindungan dan tidaknya sebuah produk, juga apa yang diijinkan dan apa yang
tidak dalam sebuah produksi. Sebelum ini, belum begitu besar arti nilai tinggi
sebuah saham perusahaan. Sekarang, lanskap itu bergeser sedikit lebih tinggi.
Namun
terkait dengan citra perusahaan secara keseluruhan, jelas bahwa merek Apple dan
apa artinya sebagai merek bagi konsumen adalah hal yang cukup berharga. Dan bisa
jadi ini adalah legitimasi filosofi dari apa yang selalu ditanamkan oleh
pendiri Apple almarhum, Steve Jobs. Namun demikian, memang ada bahaya ini bagi
Apple dalam ‘peperangan’ itu; jika mereka menjadi dianggap terlalu legalistik,
atau bila bagian dari kerumunan perusahaan lain bisa mengeluarkan produk yang lebih
inovatif, kreatif, dan berorientasi pada desain. Memang dalam hal ini Apple tidak
ingin kehilangan apa yang menjadi inti dari identitas mereka dan nilai yang mereka
perjuangkan sebagai perusahaan paling berharga di dunia.
Perang
yang Terus Berlanjut
Dalam pandangan lain, kasus Apple
vs Samsung ini belum bisa ditafsirkan putusan finalnya seperti apa. Menurut
Andrea Matwyshyn, dosen Hukum dan Etika Bisnis Wharton, keputusan pihak mana
yang menang dan kalah dalam kasus ini masih terus ditentukan. Komentar
yang sudah berjalan di media massa dan di kalangan akademisi sedikit terbelah.
Di satu sisi, para komentator dan akademisi yang sangat mendukung hak-hak
pemegang paten melihat ini sebagai kemenangan yang kuat bagi Apple. Namun,
tentu saja, keputusan itu akan berhadapan dengan pengajuan banding. Maka hasil
akhir terkait dengan ganti rugi atas kerusakan dan ketelitian keputusan itu
sendiri bisa datang setelahnya pada tingkat penyelidikan yang lebih tinggi.
Di sisi
lain, ada beberapa komentar yang menunjuk Samsung telah mendapat semacam kemenangan
yang tidak langsung di pasar dasar, dengan keputusan yang menyoroti semacam
perbandingan de facto tentang
kemiripan antara produk Apple dan Samsung yang ditawarkan. Beberapa konsumen
dapat melihat hal ini pada dasarnya sebagai pengadilan, dengan mengatakan,
"Hei, inilah produk-produk yang secara fungsional setara." Dan
kemudian konsumen melihat harga-harganya dan mengakui bahwa yang satu secara
signifikan lebih murah daripada yang lain.
Namun, bagi
Andrea Matwyshyn, gambaran besar pertanyaan yang mungkin paling menarik
sehubungan dengan kasus ini adalah pertanyaan tentang krisis identitas yang ada
dalam sistem hak paten di AS, dan
percakapan yang kita perlu miliki sebagai masyarakat tentang hal ini adalah
bahwa kita telah sedang berusaha mencapai
suatu model inovasi dan berada dalam hukum kekayaan intelektual. Ada dasar yang
beragam terkait dengan tuduhan Apple bahwa Samsung telah melanggar hak kekayaan
intelektualnya: argumen tentang utilitas paten, argumen dagang, dan mereka
benar-benar melintasi semua itu. Dan cara bagaimana hak-hak legal itu dibangun,
agak bermasalah.
Saat
masyarakat bicara tentang reformasi paten—seperti akhir-akhir ini di Kongres AS
dan masyarakat pada umumnya—hal ini benar-benar semacam membawa kita ke depan
dan merangkum beberapa diskusi hukum dan kebijakan tentang model yang berbeda-beda
dari inovasi dan apa yang sedang kita coba capai ketika kita menjamin hak-hak
individu tertentu demi melindungi kreasi mereka. Di sisi lain, kita memiliki
perusahaan atau individu yang memanfaatkan pengetahuan yang ada—yang mungkin terlalu
agresif—untuk membawa produk baru ke pasar dan berpotensi menawarkan lebih
banyak pilihan kepada konsumen di pasar.
Kasus
Apple vs Samsung telah menjadi wacana sosial yang lebih luas yang harus
terjadi, dan itulah hal besar yang bisa kita ambil manfaatnya di sini; bahwa hukum,
kebijakan sosial dan inovasi sedang tidak sinkron. Ini hanyalah putaran pertama
dari pertempuran yang lebih luas yang akan berlangsung taunan dan meluas di
masa datang.
Tantangan vs Hambatan Inovasi
Perdebatan
besar yang perlu diwacanakan di masyarakat ada di dua sisi. Di satu sisi, tentu
dalam beberapa kasus, memberikan pemegang hak paten kesempatan membela produk yang
mereka ciptakan berarti, bahwa penelitian dan pengembangan produk itu mungkin
akan lebih banyak terjadi pada beberapa kasus ke depannya, karena perusahaan
dan individu akan termotivasi oleh keinginan untuk memperoleh keuntungan
finansial dan mampu mengontrol kreasi yang mereka buat.
Namun,
kita juga tahu dari penelitian-penelitian teori kreativitas bahwa banyak orang
menciptakan sesuatu bukan karena sedang mencari imbalan financial; mereka
menciptakan untuk alasan yang lain. Jadi pertanyaan ini lebih besar sebenarnya
terkait dengan apa yang ingin kita capai dengan rezim hukum kita dan apakah kita
bisa mencapainya, itulah yang benar-benar tersorot kuat dalam kasus ini.
Sistem pematenan
juga telah berkembang terus dengan memasukkan apa yang beberapa komentator
lihat sebagai pemain yang bermasalah. Misalnya, "patent trolls," atau
orang-orang yang tidak benar-benar menciptakan penemuan, tetapi merasa punya
hak paten dan berusaha menegakkan hak-hak yang berkaitan dengan paten yang mereka
berikan. Bagi kebanyakan orang kelompok ini menjadi masalah. Dan meskipun
mereka secara teknis memiliki hak hukum untuk menegakkan paten atas barang
tertentu, mereka tidak merasa perlu menambahkan nilai ke ruang bisnis, karena mereka memang tidak membawa produk baru
ke pasar; mereka tidak benar-benar aktif menggunakan hak-hak yang mereka pegang
untuk penelitian dan pengembangan produk ke arah yang baru.
Antara Kepentingan dan Kategori Hukum Paten
Masalahnya, dalam kasus tersebut,
kategori penafsiran hukum tumpang tindih dengan kepentingan yang dilindungi.
Dan hal itu tidak jelas mana dari kategori-kategori legal itu yang memang berkaitan langsung atau tidak dengan paten.
Ada perdebatan tentang bagaimana cara mempatenkan teknologi saat ini karena
kebanyakan tidak berlangsung dalam jangka panjang. Ada perdebatan apakah jenis paten yang dirujuk
dalam kasus ini lebih ke paten utilitas atau desain, atau apakah keduanya harus
dilindungi dalam hukum paten. Ada yang bilang hal itu bisa dilindungi dengan hak
cipta . Namun tetap saja tidak jelas apakah kita sudah mengoptimalkan
keseimbangan antara memberi inovator hak untuk membela produk mereka dan
sekaligus menawarkan pilihan pada pasar produk yang lebih banyak pilihan, saat
mengijinkan pengembangannya di luar produk tersebut.
Kedua rival ini, Apple dan
Samsung, masih mempunyai sekitar 50 putaran persidangan yang terjadi di forum-forum
yang berbeda di seluruh dunia. Tak heran kalau pertempuran ini disebut sebagai salah
satu epik antar benua, bukan hanya di
pengadilan AS. Hal lain yang menarik, ada beberapa produk teknologi—yang sudah
ada—keburu gagal dalam proses lisensi sebelum proses pengadilan berlangsung.
Diskusi seputar Apple vs Samsung
semestinya membawa kita pada pertanyaan; apakah selama ini kita banyak
mendorong pihak-pihak terkait untuk berkolaborasi dan berbagi dalam
pengembangan teknologi? Apakah tidak ada cara yang bisa merangsang penciptaan
lisensi teknologi, daripada bersitegang di pengadilan? Jelas, jalan pengadilan
bukan solusi yang efisien baik secara sosial maupun individual. Apalagi biaya
untuk pengacara selalu mahal. Untuk semua itu, kita membutuhkan waktu, terutama
untuk lebih memfokuskan diri pada penelitian lebih lanjut, pengembangan dan inovasi
sebuah produk daripada sibuk bertengkar di pengadilan.
Persepsi Konsumen terkait Kasus
Menurut Matwyshyn,
ada beberapa diskusi apakah proses hukum dalam kasus ini telah menyoroti
kesamaan antara produk Apple dan Samsung, dan mungkin beberapa konsumen akan,
pada kenyataannya, mempertimbangkan untuk membeli produk Samsung sekarang, yang
sebelumnya tidak punya.
Konsumen lain mungkin menganggap
Apple bertindak terlalu, dengan menggunakan pengadilan ketimbang laboratorium
penelitian dan pengembangan untuk terus berinovasi. Konsumen seperti ini bisa
jadi malah berpendapat bahwa sekalipun Apple punya peran penting dalam
mekanisme fungsional produk, seperti metode cubitan dan zoom pada produk, toh
mereka tetap ingin memiliki produk dari perusahaan lain yang mereka anggap
justru menang dalam pengembangan produk dan cara membawa produk ke pasar yang
lebih luas.
Sekarang ini tentu saja, ada dukungan
sangat kuat dari "Apple fan boy" yang dinamis di pasar konsumen, yang pasti
sangat senang dengan keputusan pengadilan yang memenangkan Apple. Namun
demikian, Matwyshyn meyakini, pasar akan berubah dalam kurun waktu sekitar dua
atau tiga tahun ke depan, untuk melihat bagaimana gambaran besar telah
berkembang di ruang ini.
Di bagian lain,
kita masih akan melihat pertarungan besar abad ini antara Apple dan Google
Android, yang terus akan mengasah kejelian kita dalam berinovasi. Seperti
setiap pengalaman selalu membawa pelajaran, di balik ‘pertarungan’ itu
terungkap begitu banyak pertanyaan yang membawa kita pada diskusi-diskusi yang
lebih dalam seputar arti hak paten dan inovasi sebuah produk. Artinya, inovasi adalah rumus yang tak bisa ditawar
lagi bagi perusahaan manapun kalau ingin produk-produknya bertahan di pasar dan
diminati konsumen. Singkatnya,
inovasi atau mati.*** (Heronimus Maryono)
0 comments:
Post a Comment
Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda