Thursday, June 13, 2013

Apple vs Samsung: Perang Inovasi Tiada Ujung (Bag.2-Habis)

Konsumen Apple vs Konsumen Samsung?

Seperti banyak diketahui, siklus hidup produk ponsel dan semacamnya sekarang ini cenderung cukup cepat. Kita terbiasa dengan iPhone baru setiap tahun, sementara itu, perusahaan mengolah produk mereka tidak sepenuhnya meninggalkan beberapa desain inti. Berbeda dari dinamika produksi beberapa industri lain, di mana satu desain akan berkuasa selama puluhan tahun dan bahkan dekade. Dalam konteks ini, konsumen bisa jadi bertanya-tanya mengapa Apple dan Samsung mengajukan kasus ini sampai ke pengadilan, padahal besar kemungkinan desain-desain itu beberapa tahun ke depan jelas akan menjadi usang.

Dalam ranah sentimen publik, Apple memang harus sedikit berhati-hati. Hsu berpendapat, pasar bisa bekerja pada dua arah. Di satu sisi, mungkin ada sedikit reaksi dari pengguna dengan mengatakan, "Yah, sebenarnya saya lebih suka, misalnya, platform Android dan Apple mencoba menegaskan hak-hak tentang bagaimana perangkat itu harus disusun, bentuk fisik produk, dengan cara yang belum tentu baru sama sekali atau yang layak atas perlindungan paten. " Dan dengan begitu konsumen bisa lebih bereksperimen dengan beberapa platform lain, seperti Nokia, Microsoft, dll.

Di sisi lain, Hsu melihat mungkin beberapa pengguna mengakui bahwa Apple telah cukup banyak memasukkan detail ke dalam desain mereka, tetapi tidak pada aplikasi fungsional, dan untuk itu mereka harus dihargai.

Apple telah memiliki seperangkat hal yang mengejutkan dan besar dalam hal kinerja mereka di pasar saham dan nilai perusahaan. Ada bahaya mereka dianggap, dalam arti tertentu, seperti Microsoft berikutnya, yang mencoba datang dengan satu inovasi dan kemudian memblokade pesaing-pesaingnya  dalam hal berinovasi. Kasus ini memang bagi Apple bisa berarti fenomena pedang bermata dua; Apple harus terus, karena mereka telah melakukan, melanjutkan langkah berinovasi, dan itu adalah tindakan yang harus penuh kehati-hatian, karena di satu sisi perlu  menyeimbangkan antara mencoba melindungi dan mencoba berinovasi, dan di sisi lain membiarkan orang lain juga berinovasi melakukan hal yang sama.

Bahaya yang menghadang sebuah perusahaan yang memimpin pasar, menurut Hsu, adalah semua serba tiba-tiba, dan mereka menjadi sasaran dari semua jenis sentimen konsumen. Memang benar kala itu Microsoft pernah menjadi raja di pasar. Apple adalah perusahaan yang jelas menekankan desain industri, serta fungsi dan terobsesi pada detail. Konsumen telah jelas menghargai itu. Bagi Hsu, bahwa Apple telah begitu sukses di pasaran, lalu perusahaan seperti Samsung datang dan hanya pada dasarnya mengambil segala sesuatu dari Apple, setelah banyak eksperimen yang dilakukan Apple, adalah kenyataan yang tidak adil.

Di sisi lain, dalam kasus ini, menjadi jelas di pengadilan penajaman akan arti perlindungan dan tidaknya sebuah produk, juga apa yang diijinkan dan apa yang tidak dalam sebuah produksi. Sebelum ini, belum begitu besar arti nilai tinggi sebuah saham perusahaan. Sekarang, lanskap itu bergeser sedikit lebih tinggi.

Namun terkait dengan citra perusahaan secara keseluruhan, jelas bahwa merek Apple dan apa artinya sebagai merek bagi konsumen adalah hal yang cukup berharga. Dan bisa jadi ini adalah legitimasi filosofi dari apa yang selalu ditanamkan oleh pendiri Apple almarhum, Steve Jobs. Namun demikian, memang ada bahaya ini bagi Apple dalam ‘peperangan’ itu; jika mereka menjadi dianggap terlalu legalistik, atau bila bagian dari kerumunan perusahaan lain bisa mengeluarkan produk yang lebih inovatif, kreatif, dan berorientasi pada desain. Memang dalam hal ini Apple tidak ingin kehilangan apa yang menjadi inti dari identitas mereka dan nilai yang mereka perjuangkan sebagai perusahaan paling berharga di dunia.

Perang yang Terus Berlanjut

Dalam pandangan lain, kasus Apple vs Samsung ini belum bisa ditafsirkan putusan finalnya seperti apa. Menurut Andrea Matwyshyn, dosen Hukum dan Etika Bisnis Wharton, keputusan pihak mana yang menang dan kalah dalam kasus ini masih terus ditentukan. Komentar yang sudah berjalan di media massa dan di kalangan akademisi sedikit terbelah. Di satu sisi, para komentator dan akademisi yang sangat mendukung hak-hak pemegang paten melihat ini sebagai kemenangan yang kuat bagi Apple. Namun, tentu saja, keputusan itu akan berhadapan dengan pengajuan banding. Maka hasil akhir terkait dengan ganti rugi atas kerusakan dan ketelitian keputusan itu sendiri bisa datang setelahnya pada tingkat penyelidikan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, ada beberapa komentar yang menunjuk Samsung telah mendapat semacam kemenangan yang tidak langsung di pasar dasar, dengan keputusan yang menyoroti semacam perbandingan de facto tentang kemiripan antara produk Apple dan Samsung yang ditawarkan. Beberapa konsumen dapat melihat hal ini pada dasarnya sebagai pengadilan, dengan mengatakan, "Hei, inilah produk-produk yang secara fungsional setara." Dan kemudian konsumen melihat harga-harganya dan mengakui bahwa yang satu secara signifikan lebih murah daripada yang lain.

Namun, bagi Andrea Matwyshyn, gambaran besar pertanyaan yang mungkin paling menarik sehubungan dengan kasus ini adalah pertanyaan tentang krisis identitas yang ada dalam sistem hak paten di AS,  dan percakapan yang kita perlu miliki sebagai masyarakat tentang hal ini adalah bahwa  kita telah sedang berusaha mencapai suatu model inovasi dan berada dalam hukum kekayaan intelektual. Ada dasar yang beragam terkait dengan tuduhan Apple bahwa Samsung telah melanggar hak kekayaan intelektualnya: argumen tentang utilitas paten, argumen dagang, dan mereka benar-benar melintasi semua itu. Dan cara bagaimana hak-hak legal itu dibangun, agak bermasalah.

Saat masyarakat bicara tentang reformasi paten—seperti akhir-akhir ini di Kongres AS dan masyarakat pada umumnya—hal ini benar-benar semacam membawa kita ke depan dan merangkum beberapa diskusi hukum dan kebijakan tentang model yang berbeda-beda dari inovasi dan apa yang sedang kita coba capai ketika kita menjamin hak-hak individu tertentu demi melindungi kreasi mereka. Di sisi lain, kita memiliki perusahaan atau individu yang memanfaatkan pengetahuan yang ada—yang mungkin terlalu agresif—untuk membawa produk baru ke pasar dan berpotensi menawarkan lebih banyak pilihan kepada konsumen di pasar.

Kasus Apple vs Samsung telah menjadi wacana sosial yang lebih luas yang harus terjadi, dan itulah hal besar yang bisa kita ambil manfaatnya di sini; bahwa hukum, kebijakan sosial dan inovasi sedang tidak sinkron. Ini hanyalah putaran pertama dari pertempuran yang lebih luas yang akan berlangsung taunan dan meluas di masa datang.

Tantangan vs Hambatan Inovasi

Perdebatan besar yang perlu diwacanakan di masyarakat ada di dua sisi. Di satu sisi, tentu dalam beberapa kasus, memberikan pemegang hak paten kesempatan membela produk yang mereka ciptakan berarti, bahwa penelitian dan pengembangan produk itu mungkin akan lebih banyak terjadi pada beberapa kasus ke depannya, karena perusahaan dan individu akan termotivasi oleh keinginan untuk memperoleh keuntungan finansial dan mampu mengontrol kreasi yang mereka buat.

Namun, kita juga tahu dari penelitian-penelitian teori kreativitas bahwa banyak orang menciptakan sesuatu bukan karena sedang mencari imbalan financial; mereka menciptakan untuk alasan yang lain. Jadi pertanyaan ini lebih besar sebenarnya terkait dengan apa yang ingin kita capai dengan rezim hukum kita dan apakah kita bisa mencapainya, itulah yang benar-benar tersorot kuat dalam kasus ini.

Sistem pematenan juga telah berkembang terus dengan memasukkan apa yang beberapa komentator lihat sebagai pemain yang bermasalah. Misalnya, "patent trolls," atau orang-orang yang tidak benar-benar menciptakan penemuan, tetapi merasa punya hak paten dan berusaha menegakkan hak-hak yang berkaitan dengan paten yang mereka berikan. Bagi kebanyakan orang kelompok ini menjadi masalah. Dan meskipun mereka secara teknis memiliki hak hukum untuk menegakkan paten atas barang tertentu, mereka tidak merasa perlu menambahkan nilai ke ruang bisnis,  karena mereka memang tidak membawa produk baru ke pasar; mereka tidak benar-benar aktif menggunakan hak-hak yang mereka pegang untuk penelitian dan pengembangan produk ke arah yang baru.

Antara Kepentingan dan Kategori Hukum Paten

Masalahnya, dalam kasus tersebut, kategori penafsiran hukum tumpang tindih dengan kepentingan yang dilindungi. Dan hal itu tidak jelas mana dari kategori-kategori legal itu yang memang  berkaitan langsung atau tidak dengan paten. Ada perdebatan tentang bagaimana cara mempatenkan teknologi saat ini karena kebanyakan tidak berlangsung dalam jangka panjang.  Ada perdebatan apakah jenis paten yang dirujuk dalam kasus ini lebih ke paten utilitas atau desain, atau apakah keduanya harus dilindungi dalam hukum paten. Ada yang bilang hal itu bisa dilindungi dengan hak cipta . Namun tetap saja tidak jelas apakah kita sudah mengoptimalkan keseimbangan antara memberi inovator hak untuk membela produk mereka dan sekaligus menawarkan pilihan pada pasar produk yang lebih banyak pilihan, saat mengijinkan pengembangannya di luar produk tersebut.

Kedua rival ini, Apple dan Samsung, masih mempunyai sekitar 50 putaran persidangan yang terjadi di forum-forum yang berbeda di seluruh dunia. Tak heran kalau pertempuran ini disebut sebagai salah satu epik antar benua, bukan hanya  di pengadilan AS. Hal lain yang menarik, ada beberapa produk teknologi—yang sudah ada—keburu gagal dalam proses lisensi sebelum proses pengadilan berlangsung.

Diskusi seputar Apple vs Samsung semestinya membawa kita pada pertanyaan; apakah selama ini kita banyak mendorong pihak-pihak terkait untuk berkolaborasi dan berbagi dalam pengembangan teknologi? Apakah tidak ada cara yang bisa merangsang penciptaan lisensi teknologi, daripada bersitegang di pengadilan? Jelas, jalan pengadilan bukan solusi yang efisien baik secara sosial maupun individual. Apalagi biaya untuk pengacara selalu mahal. Untuk semua itu, kita membutuhkan waktu, terutama untuk lebih memfokuskan diri pada penelitian lebih lanjut, pengembangan dan inovasi sebuah produk daripada sibuk bertengkar di pengadilan.

Persepsi Konsumen terkait Kasus

Menurut Matwyshyn, ada beberapa diskusi apakah proses hukum dalam kasus ini telah menyoroti kesamaan antara produk Apple dan Samsung, dan mungkin beberapa konsumen akan, pada kenyataannya, mempertimbangkan untuk membeli produk Samsung sekarang, yang sebelumnya tidak punya.

Konsumen lain mungkin menganggap Apple bertindak terlalu, dengan menggunakan pengadilan ketimbang laboratorium penelitian dan pengembangan untuk terus berinovasi. Konsumen seperti ini bisa jadi malah berpendapat bahwa sekalipun Apple punya peran penting dalam mekanisme fungsional produk, seperti metode cubitan dan zoom pada produk, toh mereka tetap ingin memiliki produk dari perusahaan lain yang mereka anggap justru menang dalam pengembangan produk dan cara membawa produk ke pasar yang lebih luas.

Sekarang ini tentu saja, ada dukungan sangat kuat dari "Apple fan boy"  yang dinamis di pasar konsumen, yang pasti sangat senang dengan keputusan pengadilan yang memenangkan Apple. Namun demikian, Matwyshyn meyakini, pasar akan berubah dalam kurun waktu sekitar dua atau tiga tahun ke depan, untuk melihat bagaimana gambaran besar telah berkembang di ruang ini.

Di bagian lain, kita masih akan melihat pertarungan besar abad ini antara Apple dan Google Android, yang terus akan mengasah kejelian kita dalam berinovasi. Seperti setiap pengalaman selalu membawa pelajaran, di balik ‘pertarungan’ itu terungkap begitu banyak pertanyaan yang membawa kita pada diskusi-diskusi yang lebih dalam seputar arti hak paten dan inovasi sebuah produk. Artinya, inovasi adalah rumus yang tak bisa ditawar lagi bagi perusahaan manapun kalau ingin produk-produknya bertahan di pasar dan diminati konsumen. Singkatnya, inovasi atau mati.*** (Heronimus Maryono)

Diolah dari wawancara El Caso Apple-Samsung: Implicaciones para las patentes y para la innovacion, di http://www.wharton.universia.net

0 comments:

Post a Comment

Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda