Ketika
kekuatan marketing media sosial tumbuh, tak lagi masuk akal memperlakukannya sebagai percobaan.
Di bagian 1, kita tahu bahwa pertumbuhan pengguna Facebook hampir mencapai jumlah dua negara yang penduduknya terbesar di dunia, Cina dan India. Kenyataan ini tak dapat dihindarkan dan dielakkan lagi dari dunia pemasaran. Di sisi lain, banyak perusahaan yang masih memitoskan manfaat dari perangkat baru pemasaran ini karena belum menemukan ukuran yang jelas mengenai pengaruhnya secara langsung pada profit perusahaan. Dari sebuah penelitian terungkap peran yang jelas dari sosial media yang dapat diukur efektivitasnya; memonitor, merespon, memperluas dan mengendalikan
perilaku konsumen. Untuk itu perlu demistifikasi sosial media dengan mengoptimalkannya dalam marketing dengan menciptakan buzz, belajar dari pelanggan dan menargetkan pelanggan.
Namun banyak usaha juga telah gagal dan
tak sesuai dengan kisah sukses tersebut; saat mengetahui bahwa sesuatu yang bekerja dan
memahami cara kerjanya adalah dua hal yang sangat berbeda.
Tujuan utama pemasaran adalah menjangkau konsumen pada saat-saat atau di titik-titik penting yang mempengaruhi perilaku pembelian mereka. Sebuah kerangka kerja diusulkan dalam "perjalanan keputusan konsumen " untuk memahami cara konsumen berinteraksi dengan perusahaan selama keputusan-keputusan pembelian mereka. Media sosial adalah satu-satunya bentuk pemasaran yang dapat menyentuh konsumen pada setiap tahap keputusan, dari ketika mereka merenungkan merek dan produk yang tepat, sampai periode setelah pembelian.
Fakta bahwa media sosial
dapat mempengaruhi pelanggan pada setiap tahap perjalanan keputusan tidak berarti
bahwa otomatis demikian terjadi. Tergantung dari perusahaan dan industri
tertentu, beberapa titik
pendekatan bisa jadi lebih menguntungkan secara kompetitif
dibandingkan yang lain. Terlebih lagi, dari
penelitian dengan puluhan perusahaan yang beradaptasi
dengan lingkungan pemasaran baru, ditemukan bahwa strategi media sosial yang paling kuat berfokus pada sejumlah tanggapan pemasaran
yang terkait
erat dengan poin pendekatan pribadi di sepanjang perjalanan keputusan konsumen. Sepuluh tanggapan terpenting, mulai dari menyediakan layanan pelanggan
untuk mengembangkan komunitas online (lihat grafik). Salah satu dari sepuluh
itu—memantau apa yang orang katakan tentang merek perusahaan—adalah hal sangat penting dan bisa kita lihat sebagai fungsi inti dari media
sosial. Sembilan yang lain, yang diselenggarakan dalam tiga kelompok
dalam grafik, mendukung upaya untuk
menggunakan media sosial sebagai tanggapan atas komentar konsumen, untuk memperkuat aktivitas dan sentimen
positif
dan mempengaruhi
perubahan perilaku
dan pola
pikir konsumen.
Memantau
Gatorade, minuman para
olahragawan yang diproduksi oleh PepsiCo, telah dengan rajin menciptakan produk mereka
menjadi "merek dengan partisipasi terbesar di dunia."
Ini telah diciptakan oleh “war room” berbasis
di Chicago dalam departemen pemasaran perusahaan yang memantau pergerakan komentar media sosial atas merek mereka secara real time. Ada kursi-kursi di mana anggota tim dapat melacak secara visual data-data online yang
terbangun dan dashboard (termasuk istilah yang terkait
dengan merek, atlet yang disponsori,
dan pesaing) dan yang menjalankan analisis sentimen sekitar peluncuran dan kampanye produk mereka. Sejak penciptaan “ruang perang” itu,
lalu lintas properti
online Gatorade, jumlah interaksi pengunjung dan ‘virus’ yang
tersebar dari kampanye merek itu meningkat dua kali lipat.
Pemantauan merek seperti itu—mengetahui apa yang dikatakan pelanggan secara online tentang produk dan jasa kita—harus menjadi fungsi standar sosial-media yang harus dikelola terus-menerus. Bahkan tanpa melibatkan konsumen langsung, perusahaan dapat mengumpulkan wawasan dari program pemantauan yang efektif yang menginformasikan segala sesuatu tentang desain produk yang dipasarkan dan memberikan peringatan awal atas publisitas yang berpotensi negatif.
Merespon
Penentuan percakapan yang bisa direspon di tingkat pribadi adalah bentuk lain dari peran penting media sosial dalam pemasaran. Merespon adalah bagian dari manajemen krisis.
Tahun lalu misalnya, sebuah
foto iseng
yang diposting online menyatakan bahwa McDonald menarik biaya layanan
tambahan bagi orang-orang afro-amerika. Postingan isend itu pertama
kali muncul di Twitter, di mana gambar itu beredar cepat sebelum satu minggu dan direspon kembali para pengguna Twitter dengan hastag
#seriouslymcdonalds. Itulah akhir pekan yang penuh
dengan kerja keras bagi tim media sosial McDonald. Sabtu di minggu
postingan itu beredar, direktur perusahaan media sosial itu mengeluarkan pernyataan melalui Twitter, menyatakan foto itu tipuan belaka dan meminta kepada
orang-orang kunci yang menyebarkan
postingan itu untuk "tolong biarkan pengikut Anda tahu." Selanjutnya, perusahaan memperkuat pesan itu sepanjang akhir pekan, bahkan menanggapi secara pribadi
sejumlah pengguna akun Twitter yang mem-follow
postingan tersebut. Hari Minggunya, jumlah orang yang percaya bahwa gambar itu asli menyusut dan harga saham McDonald naik 5 persen pada hari berikutnya.
Menanggapi dengan tujuan untuk mengatasi komentar negatif dan mengubah pengaruh komentar itu dengan yang positif menjadi hal yang semakin penting. Tanggung jawab untuk mengambil tindakan yang mungkin jatuh pada fungsi di luar pemasaran dan sebuah pesan akan berbeda tergantung pada situasinya. Dengan merespons dengan cepat, transparan dan jujur, perusahaan dapat secara positif mempengaruhi perilaku dan sentimen konsumen.
Memperluas
“Amplifikasi” meliputi merancang kegiatan pemasaran
perusahaan hingga memiliki motivator sosial yang tetap, yang memacu
keterlibatan dan sharing yang lebih luas. Konsep
inti kampanye harus mengundang pelanggan ke sebuah pengalaman yang memberi
kesempatan mereka memilih untuk memperluas, dengan bergabung dalam percakapan,
merek, produk, sesama pengguna, dan penggemar lainnya. Perusahaan harus memiliki program
berkelanjutan dalam berbagi konten baru dengan pelanggan dan memberikan
kesempatan mereka untuk berbagi kembali dengan yang lain.
Di tahap awal perjalanan
keputusan konsumen, saat konsumen mempertimbangkan merek dan produk untuk
menentukan pilihan yang mereka sukai, rujukan dan rekomendasi merupakan
perangkat yang kuat pada sosial-media. Contoh
sederhananya dilakukan oleh sebuah situs penawaran online seperti Groupon dan
Gilt Groupe, yang memberikan penghargaan tertentu kepada setiap pembeli pertama
yang mereka lihat. Rekomendasi langsung dari rekan-rekan terdekat menghasilkan
tingkat keterlibatan 30 kali lebih tinggi daripada iklan online tradisional.
Sekali konsumen memutuskan produk yang akan dibeli dan melakukan pembelian, perusahaan dapat menggunakan media sosial untuk memperkuat keterlibatan dan loyalitas mereka. Ketika Starbucks ingin meningkatkan kesadaran publik atas mereknya, perusahaan meluncurkan kompetisi yang menantang pengguna media sosial untuk menjadi yang pertama menge-tweet foto salah satu poster iklan baru perusahaan yang telah dipasang di enam kota besar di Amerika Serikat. Kompetisi itu menyediakan hadiah voucher senilai 20 dolar AS.
Pemasar juga dapat mendorong masyarakat yang ada di sekitar merek dan produk perusahaan, baik untuk memperkuat kepercayaan konsumen bahwa mereka membuat keputusan cerdas atau untuk memberikan bimbingan agar mendapatkan hasil maksimal dari pembelian yang mereka lakukan. Perusahaan perangkat lunak Intuit misalnya, meluncurkan fórum layanan pelanggan Quicken dan QuickBooks, perangkat lunak keuangan personal sehingga pengguna bisa saling membantu dalam mengatasi masalah seputar produk. Hasilnya? Pengguna Intuit menjawab sekitar 80 persen dari pertanyaan yang biasanya harus dijawab karyawan perusahaan. Dalam hal ini perusahaan telah mempekerjakan komentar pengguna untuk membuat puluhan perubahan yang berarti pada perangkat lunaknya.
Mengendalikan
Media sosial bisa digunakan
secara proaktif untuk mengarahkan konsumen
pada perubahan perilaku jangka panjang. Di
tahap awal perjalanan keputusan konsumen, media sosial bisa berperan
meningkatkan kesadaran merek saat mengarahkan lalu lintas Web untuk konten
tentang produk dan layanan yang ada. Ketika
kelompok produk perawatan tubuh Old Spice memperkenalkan karakter produk Old
Spice Man kepada pemirsa, selama musim permainan Super Bowl US National
Football League tahun 2010 misalnya, ambisi perusahaan saat itu adalah
meningkatkan jangkauan dan relevansi produk itu bagi pria dan wanita. Penjualan year-on-year produk perusahaan itu melonjak 27 persen dalam waktu enam
bulan saja.
Pemasar juga dapat menggunakan media sosial untuk menghasilkan buzz melalui peluncuran produk, seperti yang dilakukan Ford saat meluncurkan kendaraan Fiesta-nya di Amerika Serikat. Contoh lain, media sosial memainkan peran penting untuk kesuksesan “Small Business Saturday”, promosi belanja AS yang dibuat oleh American Express di akhir pekan segera setelah Thanksgiving.
Media sosial juga dapat meminta masukan konsumen setelah pembelian sebuah produk. Intuit misalnya, memiliki forum komunitasnya. Starbucks menggunakan MyStarbucksIdea.com.
Pengetahuan Saja Tidak Cukup
Meskipun menawarkan banyak keuntungan dalam mempengaruhi
konsumen, media sosial baru menyumbang kurang dari 1 persen dari rata-rata anggaran
pemasaran, praktisnya dalam pengalaman sejumlah perusahaan. Kendala utamanya adalah persepsi bahwa laba atas investasi (ROI)
dari inisiatif seperti ini tidak pasti.
Tanpa persepsi yang jelas tentang nilai yang bisa diciptakan media sosial, tak mengherankan bahwa begitu banyak CEO dan eksekutif senior lain merasa tidak nyaman ketika perusahaan mereka beranjak melampaui sekadar "eksperimen", dengan strategi media sosial. Untuk melakukannya—dan kemudian memastikan bahwa media sosial melengkapi strategi pemasaran yang lebih luas—perusahaan jelas harus mengkoordinasikan data, peralatan, teknologi, dan bakat pada beberapa fungsi di perusahaan.
Di media sosial istilah,investasi relatif besar, dan eksekutif senior perusahaan ingin lebih dari bukti yang bersifat anekdot bahwa strategi itu membuahkan hasil. Sebagai langkah awal, perhatikan hipotesis berikut:
- Apakah seluruh kegiatan media sosial meningkatkan persepsi layanan umum tentang merek dan perbaikan yang harus tercermin dalam volume postingan positif yang meningkat.
- Apakah sharing sosial ini efektif, klik bertambah dan lalu lintas online menghasilkan pesan-pesan pencarian yang meningkat.
- Jika kedua asumsi ini benar, kegiatan sosial-media seharusnya membantu mendorong penjualan yang ideal, pada tingkat yang bahkan lebih tinggi dari apa yang perusahaan dapat capai dengan nilai rata-rata kotor (GRP) pengeluaran iklan.
Demikian, perusahaan menguji pilihannya. Di banyak
kasus, aktivitas sosial-media tidak hanya meningkatkan penjualan tetapi juga memiliki nilai ROI lebih tinggi daripada pemasaran
tradisional. *** (Heronimus Maryono)






