Facebook sedang dan
terus membuat sebuah revolusi sosial dewasa ini. Dan revolusi itu hampir
niscaya merasuk pada sendi-sendi penting perusahaan di mana pun.
Di bagian terdahulu (1), kita seperti terbelalak melihat kenyataan mulai banyak perusahaan melesat kemajuannya ketika memanfaatkan sarana media sosial sebagai sarana strategi bisnisnya. Meski demikian, ada lebih banyak jumlah perusahaan--dan dengan demikian para direkturnya--yang mengakui bahwa mereka tak cukup menguasai teknologi sosial media tersebut karena lebih suka beranjak pada pakem-pakem konvensional dalam menjalankan bisnis mereka. Para direktur perusahaan yang tak mau ketinggalan dengan kesempatan emas pemanfaatan sosial media dapat mengikuti 7 langkah berikut:
Langkah 1: Strategi
Membangun dan mengembangkan jejaring media sosial antara karyawan Anda dan pelanggan. Produk dan pelayanan yang baik tidak lagi cukup di dunia yang “datar” ini, di mana pesaing baru bermunculan setiap hari dari seluruh dunia untuk mencuri pelanggan dan prospeknya. Sukses saat ini tergantung juga pada kebutuhan akan fans yang memuji Anda dan menceritakan kepada teman-teman mereka dan calon penggemar lainnya produk-produk Anda, serta karyawan yang berpikir bahwa perusahaan dan budaya perusahaan adalah tempat bekerja terbaik. Pencapaian itu membutuhkan jaringan sosial yang dinamis dan selaras dengan bisnis Anda.
Tindakan praktis: Mintalah tim manajemen Anda untuk menyusun presentasi di depan dewan direksi yang menguraikan ide-ide mereka dalam menciptakan dan membina pelanggan, karyawan dan mitra jaringan sosial, yang dapat membantu mengurangi risiko dan menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek dan panjang.
Membangun dan mengembangkan jejaring media sosial antara karyawan Anda dan pelanggan. Produk dan pelayanan yang baik tidak lagi cukup di dunia yang “datar” ini, di mana pesaing baru bermunculan setiap hari dari seluruh dunia untuk mencuri pelanggan dan prospeknya. Sukses saat ini tergantung juga pada kebutuhan akan fans yang memuji Anda dan menceritakan kepada teman-teman mereka dan calon penggemar lainnya produk-produk Anda, serta karyawan yang berpikir bahwa perusahaan dan budaya perusahaan adalah tempat bekerja terbaik. Pencapaian itu membutuhkan jaringan sosial yang dinamis dan selaras dengan bisnis Anda.
Tindakan praktis: Mintalah tim manajemen Anda untuk menyusun presentasi di depan dewan direksi yang menguraikan ide-ide mereka dalam menciptakan dan membina pelanggan, karyawan dan mitra jaringan sosial, yang dapat membantu mengurangi risiko dan menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek dan panjang.
Langkah
2: Orang
Merekrut direksi perusahaan yang memahami teknologi saat ini. Karena kita bergerak dari era industri dan informasi ke era sosial di mana setiap orang menggunakan perangkat mobile yang canggih untuk berhubungan dengan orang lain, direksi perlu merangkul teknologi sosial dan data serta analisis yang mereka hasilkan. Menurut Deloitte's 2011 Board Practices Report, 9% dari dewan mengatakan memiliki keahlian TI dan 1% atau kurang memiliki anggota yang dulu mantan direktur TI. Tanpa keahlian dan pengalaman, direksi akan memiliki keterampilan yang ketinggalan jaman, tidak peduli seberapa mahir merek mengerti tentang teori Sarbanes-Oxley.
Tindakan praktis: menyeimbangkan keterampilan dewan Anda dan merekrut direktur perusahaan yang memiliki kompetensi strategis, teknologi know-how dan keahlian ‘data besar’ yang berasal dari operasi dalam dunia jejaring sosial dan mobile. Direksi perlu memahami lebih dari sekadar teknologi inti untuk membantu perusahaan mereka mengurangi risiko yang terkait dengan larinya pelanggan (customer churn), ketidaknyamanan karyawan dan aktivisme pemegang saham.
Merekrut direksi perusahaan yang memahami teknologi saat ini. Karena kita bergerak dari era industri dan informasi ke era sosial di mana setiap orang menggunakan perangkat mobile yang canggih untuk berhubungan dengan orang lain, direksi perlu merangkul teknologi sosial dan data serta analisis yang mereka hasilkan. Menurut Deloitte's 2011 Board Practices Report, 9% dari dewan mengatakan memiliki keahlian TI dan 1% atau kurang memiliki anggota yang dulu mantan direktur TI. Tanpa keahlian dan pengalaman, direksi akan memiliki keterampilan yang ketinggalan jaman, tidak peduli seberapa mahir merek mengerti tentang teori Sarbanes-Oxley.
Tindakan praktis: menyeimbangkan keterampilan dewan Anda dan merekrut direktur perusahaan yang memiliki kompetensi strategis, teknologi know-how dan keahlian ‘data besar’ yang berasal dari operasi dalam dunia jejaring sosial dan mobile. Direksi perlu memahami lebih dari sekadar teknologi inti untuk membantu perusahaan mereka mengurangi risiko yang terkait dengan larinya pelanggan (customer churn), ketidaknyamanan karyawan dan aktivisme pemegang saham.
Langkah
3: Proses
Melaksanakan secara terbuka, proses kolaboratif untuk tumbuh dan berinovasi. Setiap produk dan layanan yang pernah dibuat adalah hasil dari permintaan pelanggan atau kreativitas karyawan. Namun saat ini, inovasi terbuka yang dimungkinkan oleh teknologi sosial adalah pendekatan yang jauh lebih efektif untuk menangkap pengetahuan pelanggan, karyawan dan mitra, yang keahliannya ada di mana-mana. Dengan membangun keahlian "crowd-sourcing" sebagai dewan, risiko pengembangan dapat dikurangi agar perusahaan belajar memanfaatkan energi yang diberdayakan ekosistem perusahaan yang saling terhubung.
Tindakan praktis: Mencari tahu bagaimana tim manajemen perusahaan memanfaatkan kekuatan orang banyak dan teknologi kolaboratif apa yang mereka gunakan untuk mendapatkan wawasan dari orang-orang yang dilayani perusahaan dan sebaliknya, termasuk di dalamnya pelanggan, karyawan dan mitra bisnis.
Melaksanakan secara terbuka, proses kolaboratif untuk tumbuh dan berinovasi. Setiap produk dan layanan yang pernah dibuat adalah hasil dari permintaan pelanggan atau kreativitas karyawan. Namun saat ini, inovasi terbuka yang dimungkinkan oleh teknologi sosial adalah pendekatan yang jauh lebih efektif untuk menangkap pengetahuan pelanggan, karyawan dan mitra, yang keahliannya ada di mana-mana. Dengan membangun keahlian "crowd-sourcing" sebagai dewan, risiko pengembangan dapat dikurangi agar perusahaan belajar memanfaatkan energi yang diberdayakan ekosistem perusahaan yang saling terhubung.
Tindakan praktis: Mencari tahu bagaimana tim manajemen perusahaan memanfaatkan kekuatan orang banyak dan teknologi kolaboratif apa yang mereka gunakan untuk mendapatkan wawasan dari orang-orang yang dilayani perusahaan dan sebaliknya, termasuk di dalamnya pelanggan, karyawan dan mitra bisnis.
Langkah 4: Teknologi
Mengharuskan direksi dan eksekutif merangkul teknologi saat ini. Facebook menggunakan internet untuk mengumpulkan basis pelanggan yang sangat besar dengan biaya rendah. Apple membangun salah satu perusahaan paling berharga di dunia dengan menekankan teknologi mobile dan mengelola data “awan”. Anggota dewan direksi tidak akan dapat menghargai nilai teknologi ini kecuali mereka menggunakannya, jika sebaliknya mereka akan menciptakan risiko tanpa tahu sebabnya. Ketidaktahuan akan hal ini merupakan ketidaknyamanan tersendiri.
Tindakan praktis: Melengkapi dewan dan tim eksekutif dengan alat monitor jejaring sosial, perangkat pintar dan teknologi kolaboratif, sehingga mereka mengalami pemakaian teknologi ini secara langsung.
Langkah 5: Keuangan
Mengukur dan mengelola apa yang penting dalam hal keuangan untuk memastikan keberhasilan. Semakin banyak disadari, matrik keuangan tidak cukup untuk membantu dewan direksi memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam bisnis mereka dan di mana nilai atau risiko berada. Saat ini, dalam dunia Facebook, nilai perusahaan (E) semakin sama dengan jumlah jaringan dan ukuran masing-masing jaringan (Massa) dikali wawasan yang dipertukarkan antara anggota jaringan (Konten) dan kecepatan pertukaran ini yang diaktifkan oleh teknologi (kuadrat). Maka Einstein benar dalam hal ini, bahkan jika dia bukan seorang ekonom: E = MC2.
Tindakan praktis: Dewan direksi perlu punya indikator kinerja kunci yang baru, termasuk sentimen pelanggan, keterlibatan karyawan, interaksi mitra, ukuran jaringan dan emosi investor. Akan mustahil menutup mata pada metrik dan wawasan akan hal ini, setelah metrik keuangan tidak menggambarkan secara penuh potensi risiko atau keuntungan yang mungkin terjadi.
Langkah 6: Nilai
Membuat bisnis menjadi personal. Lagi pula, inilah artinya era media sosial. Dulu, karyawan menjadi setia pada perusahaan, karena gaji bulanan terus berdatangan setiap akhir bulan. Pelanggan juga setia, terutama ketika mereka memiliki pilihan terbatas pada produk dan jasa. Era itu kini sudah lewat. Saat ini karyawan diberdayakan dan saling berhubungan dan konsumen berkomentar secara online pada segudang produk dan jasa. Bisnis adalah pribadi dalam dunia sosial saat ini, dan saran-saran dari rekan dan teman dihargai lebih dibanding dari para pemimpin perusahaan dalam pengambilan keputusan seseorang.
Tindakan praktis: Carilah pemimpin yang merangkul keterampilan kepemimpinan baru saat ini yang melibatkan kompetensi emosional (EQ) dan sosial (SQ). Keterampilan lama PQ (perintah dan kontrol) dan IQ (daya intelektual) tidak lagi memadai.
Langkah 7: Rewards
Menerapkan sistem pengenalan perusahaan yang memotivasi seluruh stakeholders. Apple telah menunjukkan kekuatan menciptakan jaringan peserta untuk membantu, memasarkan dan menjual produk dan layanan baru lebih cepat dan lebih baik daripada jika bekerja sendirian. Pada App Store, Anda akan menemukan lebih dari satu miliar aplikasi dijual oleh pengembang independen, yang berbagi pendapatan mereka dengan Apple.
Tindakan praktis: Yoda dari Star Wars berkata, "Jangan mencoba-coba, cukup lakukan atau jangan lakukan itu…" Jika Anda ingin dewan direksi melayani investor dengan memberikan imbal hasil yang baik pada modal yang mereka berikan, tinjaulah kompensasi dan sistem penghargaan yang baru untuk pelanggan dan karyawan. Tanyakan para eksekutif untuk meninjau pendekatan Apple dan melihat apakah masuk akal bagi perusahaan mempertimbangkan kekuatan media sosial dalam perusahaan.
Setelah sepuluh tahun terakhir, berinvestasi di media sosial dan inovasi terbuka dalam perusahaan yang saat ini mengelola 15.000 jaringan sosial untuk 350 merek, bisa dimengerti mengapa Facebook bisa membangun sebuah perusahaan dengan hampir satu miliar pelanggan dalam waktu kurang dari satu dekade. Kebenaran yang sederhana dan yang menyedihkan adalah bahwa banyak direktur perusahaan tidak menghargai hubungan mereka dan dengan demikian mereka diabaikan atau underinvested dalam keinginan para stakeholder untuk berhubungan, berkomunikasi dan berkolaborasi. Ini menjelaskan mengapa Apple menjadi perusahaan yang sangat bernilai: orang-orang di seluruh dunia ingin pengetahuan dan hubungan mereka menjadi makin mobile seperti mereka.
Tidak peduli apakah perusahaan punya tujuan mencari profit atau tidak, atau organisasi pemerintah, semua direksi perusahaan perlu memahami risiko bertahan pada dunia sosial, yang mobile atau yang beroperasi di “awan”. Lebih penting lagi, perusahaan seperti Facebook dan Apple sedang mengatur dasar untuk tata kelola perusahaan yang lebih besar dan keterampilan dewan perusahaan kita perlu bersaing ketika 1,2 miliar pelanggan di dunia terhubung. Jika dewan direksi kita ingin mengurangi risiko dan memberikan nilai pada pemegang saham perusahaan, mereka membutuhkan keterampilan yang tidak hanya yang mencukupi, tapi juga yang diperlukan. Tidak ada waktu yang sia-sia bagi dunia saat ini yang makin sosial, mobile dan dan ber-“awan”.***(Heronimus Maryono)
Diterjemahkan
dan disadur bebas untuk Forum Manajemen Prasetiya Mulya, edisi Maret-April
2012, dari Siete
pasos para un consejo de administración de éxito en la era Facebook, di www.wharton.universia.net,
unduhan 25 Februari 2012.
0 comments:
Post a Comment
Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda