Majalah Financial Times Goldman Sachsmenganugerahi dua ekonom muda dari MIT sebuah penghargaan untuk buku mereka, Poor Economics: A Radical Rethinking ofthe Way to Fight Global Poverty, sebagai Buku Bisnis Terbaik 2011. Buku hasil penelitian sosial itu tiba-tiba banyak dilirik para penentu keputusan di perusahaan. Adakah cara lain mengatasi kemiskinan global?
Pada tulisan sebelumnya kita diajak kedua pengarang buku inovatif itu untuk menyadari betapa kemiskinan itu merupakan masalah yang kompleks. Begitu kompleksnya sehingga tak satu cara pun bisa diklaim sebagai satu-satunya cara mengatasi kemiskinan yang berlaku untuk semua di manapun. Maka definisi kemiskinan itu begitu relatif dan bahkan tak satupun dari kita mampu menentukan satu rumusan untuk semua. Dengan begitu, cara mengatasi kemiskinan pun ada begitu banyak cara dan jalan. Bagi Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, cara yang bagi mereka radikal untuk mengatasi kemiskinan, salah satunya, adalah melakukan percobaan-percobaan bagai seorang medis menjalankan proses penemuan sebuah obat untuk suatu penyakit.
Parameter Kemiskinan
Perihal parameter kemiskinan, Banerjee tidak menganjurkan menggunakan nilai tukar dolar. Itu sebuah
perangkat yang membingungkan; maka, kalau kita menyebut nilai 32 rupee, kita
harus tahu benar apa artinya itu. Masalah nilai tukar dólar itu adalah tidak
memperhatikan perbedaan-perbedaan nilai. Nilai tukar paling aktual dari dólar ke rupee
yang bisa kita amati perbedaannya adalah mendekati 19 rupee per dólar. Itulah nilai
pertukaran yang tepat, dan bukan 48 atau 49 rupee per dólar (menurut bursa nilai
tukar sekarang ini). Inilah hubungan yang Bank Dunia gunakan dalam
estimasi-estimasi Paritas Daya Beli. Jadi, menurut konversi itu 32 rupee ekivalen
dengan 1,70 dólar AS. Itu adalah nilai tepatnya, dan bukan 0,65 dólar AS per
hari sebagaimana ditentukan Badan Perencanaan Pembangunan India. Berkaitan
dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kemiskinan, bursa nilai tukar dólar
tidaklah penting. Tarif bus di sini seharga 3 rupee. Di AS harganya akan
sampai 2 dólar AS. Tepatnya, mengerti kenyataan bahwa barang-barang di India
lebih murah daripada di AS. Sebaliknya, jumlah yang mendapatkan barang-barang
itu akan sangat distortif di sini.
Di sisi lain, Duflo
tidak tertarik sama sekali untuk mengukur kemiskinan. “Orang lain bisa jadi
tertarik melakukannya,” katanya. Orang-orang di Bank Dunia, misalnya. Mereka mendedikasikan dengan getol pada
parameter tingkat kemiskinan. India punya tradisi panjang yang luar biasa dalam
hal itu. Akhirnya, sebenarnya yang penting bukan mengukur tingkat kemiskinan,
tetapi mencoba mengerti apa yang bisa kita lakukan dengan kenyataan tersebut.
Dengan kata lain, bicara soal sebuah debat demokratis yang seluruh dunia
harusnya berpartisipasi.
Orang Miskin Bukan Mesin
Sebagian besar
politik pendanaan dan, umumnya, politik sosial, menurut Banerjee,
mengabaikan kehendak orang miskin. Orang miskin mereka anggap sebagai orang
yang putus asa, dalam artian memperlakukan mereka dengan cukup memberikan
sesuatu yang bisa mereka terima secara langsung. Orang-orang miskin, di sisi lain,
sedang mencoba menjalani sebuah hidup yang layak di tengah desakan-desakan yang
para donatur jejalkan itu. Bila
mereka diberitahu agar memakan sejenis makanan tertentu setiap hari karena itu
lebih menyehatkan—misalnya, beras setiap hari—mereka menghindari untuk
melakukan itu. Maka tepatnya, menyelidiki kenyataan-kenyataan hidup mereka dan
melihat dengan cara apa mereka ingin menjalani kehidupan.
Kita mengatakan kepada mereka agar merebus air
selama 20 menit, tetapi kita tidak mengerti kenyataan hidup yang mereka alami.
Dua puluh menit adalah waktu yang sangat lama untuk seorang perempuan yang
harus melakukan banyak pekerjaan di rumah. Maka perlu ditemukan apakah yang
menjadi prioritas mereka. Kita menyuruh mereka melakukan apa yang kita minta
dan kita tidak mengerti mengapa mereka tidak melakukan itu. Mereka tidak
melakukan itu karena kita tidak mampu mengerti mengapa mereka melakukan itu
atau memilih hal itu. Bila kita ingin melakukan sesuatu untuk mereka,
kita harus berhasil membuat permintaan kita semenarik mungkin. Orang-orang miskin itu bukan mesin.
Kita harus memilah “masalah” ini dalam
bagian-bagian kecil, yang dapat kita atasi dengan cara sendiri. Bagi sebagian
orang, itu satu-satunya masalah yang solusinya harus juga tunggal. Fokus perhatian
seperti ini banyak membuat mereka justru merasa tertekan di hadapan
rintangan-rintangan yang besar. Yang benar itu mengatakan bahwa itu bukan
masalah raksasa, melainkan serangkaian masalah yang perlu diatasi dengan
berbagai cara. Dengan cara itu, akan ada kemenangan dan pencapaian yang
progresif dalam perjuangan memberantas kemiskinan.
Tiga Musuh Perlawanan Kemiskinan
Bagi kedua ekonom itu, musuh besar perjuangan melawan kemiskinan itu ada
tiga hal: ideologi, ketidaktahuan dan ketidakpedulian, dan mereka yang mewakili tiga masalah itu
adalah para spesialis, pekerja di bidang bantuan dan pemegang kebijakan
lokal. Dalam konteks India, kesulitan-kesulitan utama disebabkan oleh Pemerintah
dan para pekerja sosial. India, menurut Duflo, umumnya,
menerima sedikit bantuan, maka tidak bisa menyalahkan para pekerja di sektor
itu. Jumlah bantuan yang datang sangat kecil, dan sebagian besar uang yang
didedikasikan untuk membrantas kemiskinan dibelanjakan Pemerintah. Maka, tidak
banyak pekerja profesional di bidang bantuan ini di India. Tetapi ada banyak
ONG (Organisasi Non Pemerintah) di India yang bekerja luar biasa. Ada sebuah
perbedaan sangat besar antara tempat-tempat yang dibangun untuk politik,
seperti New Delhi, dan penduduk desa. Para petani mengerjakan pekerjaan dengan
baik, dan mereka punya satu persepsi yang jauh lebih jelas dari apa yang
terjadi sebelumnya di desa. Pengetahuan mereka, namun demikian, tidak selalu
dimanfaatkan. Ada banyak negara—seperti Afrika, misalnya—yang menerima bantuan,
tetapi menghadapi masalah yang sama di tingkat dasar.
Sayangnya, bantuan Pemerintah untuk proyek-proyek yang terprogram dan
teruji justru hanya sedikit. Di India misalnya, menurut Banerjee seharusnya lebih banyak yang didedikasikan
untuk masalah besar ini. Tetapi, bahkan dalam apa yang sudah dibelanjakan,
sedikit saja uang yang mengalir untuk program-program inovatif yang dapat
diuji, diidentifikasi dan diimplementasikan secara hati-hati. Sejumlah besar
uang dan dana dari Pemerintah justru dikeluarkan untuk program-program yang
tidak bisa dibuktikan. Alih-alih membelanjakan uang yang diterima dengan
kriteria, bagian besar dari uang itu dibelanjakan dalam program-program yang
salah. Dalam penelitian Duflo dan Banerjee, sedikit saja uang yang ditujukan
untuk program-program pemberantasan kemiskinan yang dianggap penting.
Abdul Latif Jamil Poverty Action Laboratory
dan Gerakan di AS
Pada tahun 2003, Banerjee
dan Duflo mendirikan Laboratorium untuk Aksi Melawan Kemiskinan (J-PAL) dengan
tujuan mendorong dan mendanai penelitian tentang cara baru melakukan kegiatan
ekonomi yang disebut ‘eksperimen acak kontrol’. Ini memberikan
kesempatan bagi para peneliti baru, bekerja sama dengan mitra lokal, menerapkan percobaan skala besar yang memungkinkan mereka menguji teori mereka. Pada
tahun 2010, peneliti J-PAL telah menyelesaikan atau terlibat dalam 240 percobaan di 40 negara. Berbagai organisasi, peneliti dan pembuat kebijakan politik menganut ide pengujian acak. Banyak yang mengakhiri dengan berbagi premis dasar yang telah lama
diyakini Banerjee da Duflo: tetap mungkin mencapai kemajuan yang berarti di daerah-daerah dengan masalah besar di seluruh dunia,
melalui serangkaian langkah-langkah kecil.
Masing-masing dari
percobaan mereka itu dibuat sangat baik, diuji dan
diimplementasikan dengan hati-hati dan bijak.
Bicara soal aksi lain, yang ditunjukkan oleh orang-orang yang menamakan
diri the Occupy,
yang memulai protesnya di Wall Street dan menyebar ke seluruh dunia, dua ekonom
itu justru tak meyakini gerakan mereka ada hubungannya dengan gerakan melawan
kemiskinan dunia. Bagi Duflo, sekarang ini, para pemrotes " the Occupy
Wall Street " adalah sebuah jawaban yang sangat obyektif pada
pertanyaan-pertanyaan masalah intern di AS, pada pertumbuhan kesenjangan negara
dalam 15 tahun terakhir, pada ketidakpedulian dan pada jawaban yang tidak tepat
pada krisis ekonomi AS sampai sekarang ini. Kemiskinan dunia diyakininya tidak
menjadi prioritas gerakan saat ini, maka Duflo tak yakin kalau protes-protes
itu akan punya pengaruh pada resolusi untuk masalah-masalah yang berkaitan
dengan kemiskinan di lingkup global ini.
Bagi Banerjee, gerakan-gerakan itu punya tujuan karena reaksi populis dan tidak
bertanggung jawab dalam manajemen politik di Barat, yang bisa jadi membawa
gagasan tentang anti pasar bebas dan lain-lain. Para pemrotes itu bisa berubah
menjadi sejenis Tea Party, yang tentu akan jadi buruk. Namun, saat ini, kita
bicara hanya tentang orang-orang yang bereaksi pada masalah-masalah utama
negara-negara the OECD [Organisation for Economic Co-operation and
Development]. Di beberapa negara tersebut, kesenjangan semakin besar dan sikap
resmi pada situasi ini sedikit penting.
Terlepas dari semua itu, studi terakhir menunjukkan kemiskinan semakin drastis terjadi di AS
sepanjang dekade belakangan ini, di
samping krisis ekonomi. Di sinilah tantangan melawan kemiskinan dunia muncul.
Lambatnya pertumbuhan ekonomi di Barat adalah masalah besar bagi negara-negara
yang sedang berkembang seperti India, Bangladesh dan Pakistan, yang tergantung
dari export pada pasar-pasar. Semua harus menghadapi keterbatasan karena krisis
itu. Sudah terbukti juga bahwa orang sedang memperhatikan sebuah kreativitas
yang sekarang ditujukan pada penemuan keseimbangan dalam lingkup ekonomi
negara-negara barat. Pada akhirnya, kita memerlukan pekerja-pekerja profesional
di seluruh dunia yang bisa berpikir netral untuk membrantas kemiskinan. (Heronimus Maryono)
* Artikel diterjemahkan dan diolah dari hasil wawancara redaksi portal manajemen Wharton, Knowledge@Wharton dengan Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, Las recetas para acabar con la pobreza de los autores de "Economía de los pobres"di http://www.wharton.universia.net.
