Friday, July 12, 2013

POOR ECONOMICS: Cara Lain Mengatasi Kemiskinan Global (2)

Majalah  Financial Times Goldman Sachsmenganugerahi dua ekonom muda dari MIT sebuah penghargaan untuk buku mereka, Poor Economics: A Radical Rethinking ofthe Way to Fight Global Poverty, sebagai Buku Bisnis Terbaik 2011. Buku hasil penelitian sosial itu tiba-tiba banyak dilirik para penentu keputusan di perusahaan. Adakah cara lain mengatasi kemiskinan global?

Pada tulisan sebelumnya kita diajak kedua pengarang buku inovatif itu untuk menyadari betapa kemiskinan itu merupakan masalah yang kompleks. Begitu kompleksnya sehingga tak satu cara pun bisa diklaim sebagai satu-satunya cara mengatasi kemiskinan yang berlaku untuk semua di manapun. Maka definisi kemiskinan itu begitu relatif dan bahkan tak satupun dari kita mampu menentukan satu rumusan untuk semua. Dengan begitu, cara mengatasi kemiskinan pun ada begitu banyak cara dan jalan. Bagi Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, cara yang bagi mereka radikal untuk mengatasi kemiskinan, salah satunya, adalah melakukan percobaan-percobaan bagai seorang medis menjalankan proses penemuan sebuah obat untuk suatu penyakit.

Parameter Kemiskinan

Perihal parameter kemiskinan, Banerjee tidak menganjurkan menggunakan nilai tukar dolar. Itu sebuah perangkat yang membingungkan; maka, kalau kita menyebut nilai 32 rupee, kita harus tahu benar apa artinya itu. Masalah nilai tukar dólar itu adalah tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan nilai.  Nilai tukar paling aktual dari dólar ke rupee yang bisa kita amati perbedaannya adalah mendekati 19 rupee per dólar. Itulah nilai pertukaran yang tepat, dan bukan 48 atau 49 rupee per dólar (menurut bursa nilai tukar sekarang ini). Inilah hubungan yang Bank Dunia gunakan dalam estimasi-estimasi Paritas Daya Beli. Jadi, menurut konversi itu 32 rupee ekivalen dengan 1,70 dólar AS. Itu adalah nilai tepatnya, dan bukan 0,65 dólar AS per hari sebagaimana ditentukan Badan Perencanaan Pembangunan India. Berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kemiskinan, bursa nilai tukar dólar tidaklah penting. Tarif bus di sini seharga 3 rupee. Di AS harganya akan sampai 2 dólar AS. Tepatnya, mengerti kenyataan bahwa barang-barang di India lebih murah daripada di AS. Sebaliknya, jumlah yang mendapatkan barang-barang itu akan sangat distortif di sini.   

Di sisi lain, Duflo tidak tertarik sama sekali untuk mengukur kemiskinan. “Orang lain bisa jadi tertarik melakukannya,” katanya. Orang-orang di Bank Dunia, misalnya. Mereka mendedikasikan dengan getol pada parameter tingkat kemiskinan. India punya tradisi panjang yang luar biasa dalam hal itu. Akhirnya, sebenarnya yang penting bukan mengukur tingkat kemiskinan, tetapi mencoba mengerti apa yang bisa kita lakukan dengan kenyataan tersebut. Dengan kata lain, bicara soal sebuah debat demokratis yang seluruh dunia harusnya berpartisipasi.

Orang Miskin Bukan Mesin

Sebagian besar politik pendanaan dan, umumnya, politik sosial, menurut Banerjee, mengabaikan kehendak orang miskin. Orang miskin mereka anggap sebagai orang yang putus asa, dalam artian memperlakukan mereka dengan cukup memberikan sesuatu yang bisa mereka terima secara langsung. Orang-orang miskin, di sisi lain, sedang mencoba menjalani sebuah hidup yang layak di tengah desakan-desakan yang para donatur jejalkan itu. Bila mereka diberitahu agar memakan sejenis makanan tertentu setiap hari karena itu lebih menyehatkan—misalnya, beras setiap hari—mereka menghindari untuk melakukan itu. Maka tepatnya, menyelidiki kenyataan-kenyataan hidup mereka dan melihat dengan cara apa mereka ingin menjalani kehidupan.

Kita mengatakan kepada mereka agar merebus air selama 20 menit, tetapi kita tidak mengerti kenyataan hidup yang mereka alami. Dua puluh menit adalah waktu yang sangat lama untuk seorang perempuan yang harus melakukan banyak pekerjaan di rumah. Maka perlu ditemukan apakah yang menjadi prioritas mereka. Kita menyuruh mereka melakukan apa yang kita minta dan kita tidak mengerti mengapa mereka tidak melakukan itu. Mereka tidak melakukan itu karena kita tidak mampu mengerti mengapa mereka melakukan itu atau memilih hal itu. Bila kita ingin melakukan sesuatu untuk mereka, kita harus berhasil membuat permintaan kita semenarik mungkin. Orang-orang miskin itu bukan mesin.

Kita harus memilah “masalah” ini dalam bagian-bagian kecil, yang dapat kita atasi dengan cara sendiri. Bagi sebagian orang, itu satu-satunya masalah yang solusinya harus juga tunggal. Fokus perhatian seperti ini banyak membuat mereka justru merasa tertekan di hadapan rintangan-rintangan yang besar. Yang benar itu mengatakan bahwa itu bukan masalah raksasa, melainkan serangkaian masalah yang perlu diatasi dengan berbagai cara. Dengan cara itu, akan ada kemenangan dan pencapaian yang progresif dalam perjuangan memberantas kemiskinan.    

Tiga Musuh Perlawanan Kemiskinan

Bagi kedua ekonom itu, musuh besar perjuangan melawan kemiskinan itu ada tiga hal:  ideologi, ketidaktahuan dan ketidakpedulian, dan mereka yang mewakili tiga masalah itu  adalah para spesialis, pekerja di bidang bantuan dan pemegang kebijakan lokal. Dalam konteks India, kesulitan-kesulitan utama disebabkan oleh Pemerintah dan para pekerja sosial. India, menurut Duflo, umumnya, menerima sedikit bantuan, maka tidak bisa menyalahkan para pekerja di sektor itu. Jumlah bantuan yang datang sangat kecil, dan sebagian besar uang yang didedikasikan untuk membrantas kemiskinan dibelanjakan Pemerintah. Maka, tidak banyak pekerja profesional di bidang bantuan ini di India. Tetapi ada banyak ONG (Organisasi Non Pemerintah) di India yang bekerja luar biasa. Ada sebuah perbedaan sangat besar antara tempat-tempat yang dibangun untuk politik, seperti New Delhi, dan penduduk desa. Para petani mengerjakan pekerjaan dengan baik, dan mereka punya satu persepsi yang jauh lebih jelas dari apa yang terjadi sebelumnya di desa. Pengetahuan mereka, namun demikian, tidak selalu dimanfaatkan. Ada banyak negara—seperti Afrika, misalnya—yang menerima bantuan, tetapi menghadapi masalah yang sama di tingkat dasar.

Sayangnya, bantuan Pemerintah untuk proyek-proyek yang terprogram dan teruji justru hanya sedikit. Di India misalnya, menurut Banerjee seharusnya lebih banyak yang didedikasikan untuk masalah besar ini. Tetapi, bahkan dalam apa yang sudah dibelanjakan, sedikit saja uang yang mengalir untuk program-program inovatif yang dapat diuji, diidentifikasi dan diimplementasikan secara hati-hati. Sejumlah besar uang dan dana dari Pemerintah justru dikeluarkan untuk program-program yang tidak bisa dibuktikan. Alih-alih membelanjakan uang yang diterima dengan kriteria, bagian besar dari uang itu dibelanjakan dalam program-program yang salah. Dalam penelitian Duflo dan Banerjee, sedikit saja uang yang ditujukan untuk program-program pemberantasan kemiskinan yang dianggap penting.

Abdul Latif Jamil Poverty Action Laboratory dan Gerakan di AS

Pada tahun 2003, Banerjee dan Duflo mendirikan Laboratorium untuk Aksi Melawan Kemiskinan (J-PAL) dengan tujuan mendorong dan mendanai penelitian tentang cara baru melakukan kegiatan ekonomi yang disebut ‘eksperimen acak kontrol’. Ini memberikan kesempatan bagi para peneliti baru, bekerja sama dengan mitra lokal, menerapkan percobaan skala besar yang memungkinkan mereka menguji teori mereka. Pada tahun 2010,  peneliti J-PAL  telah menyelesaikan atau terlibat dalam 240 percobaan di 40 negara. Berbagai organisasi, peneliti dan pembuat kebijakan politik menganut  ide pengujian acak. Banyak yang mengakhiri dengan berbagi premis dasar yang telah lama diyakini Banerjee da Duflo: tetap mungkin mencapai kemajuan yang berarti di daerah-daerah dengan masalah besar di seluruh dunia, melalui serangkaian langkah-langkah kecil. Masing-masing dari percobaan mereka itu dibuat sangat baik, diuji dan diimplementasikan dengan hati-hati dan bijak.

Bicara soal aksi lain, yang ditunjukkan oleh orang-orang yang menamakan diri the Occupy, yang memulai protesnya di Wall Street dan menyebar ke seluruh dunia, dua ekonom itu justru tak meyakini gerakan mereka ada hubungannya dengan gerakan melawan kemiskinan dunia. Bagi Duflo, sekarang ini, para pemrotes " the Occupy Wall Street " adalah sebuah jawaban yang sangat obyektif pada pertanyaan-pertanyaan masalah intern di AS, pada pertumbuhan kesenjangan negara dalam 15 tahun terakhir, pada ketidakpedulian dan pada jawaban yang tidak tepat pada krisis ekonomi AS sampai sekarang ini. Kemiskinan dunia diyakininya tidak menjadi prioritas gerakan saat ini, maka Duflo tak yakin kalau protes-protes itu akan punya pengaruh pada resolusi untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan kemiskinan di lingkup global ini.

Bagi Banerjee, gerakan-gerakan itu punya tujuan karena reaksi populis dan tidak bertanggung jawab dalam manajemen politik di Barat, yang bisa jadi membawa gagasan tentang anti pasar bebas dan lain-lain. Para pemrotes itu bisa berubah menjadi sejenis Tea Party, yang tentu akan jadi buruk. Namun, saat ini, kita bicara hanya tentang orang-orang yang bereaksi pada masalah-masalah utama negara-negara the OECD [Organisation for Economic Co-operation and Development]. Di beberapa negara tersebut, kesenjangan semakin besar dan sikap resmi pada situasi ini sedikit penting.


Terlepas dari semua itu, studi terakhir menunjukkan kemiskinan semakin drastis terjadi di AS sepanjang dekade  belakangan ini, di samping krisis ekonomi. Di sinilah tantangan melawan kemiskinan dunia muncul. Lambatnya pertumbuhan ekonomi di Barat adalah masalah besar bagi negara-negara yang sedang berkembang seperti India, Bangladesh dan Pakistan, yang tergantung dari export pada pasar-pasar. Semua harus menghadapi keterbatasan karena krisis itu. Sudah terbukti juga bahwa orang sedang memperhatikan sebuah kreativitas yang sekarang ditujukan pada penemuan keseimbangan dalam lingkup ekonomi negara-negara barat. Pada akhirnya, kita memerlukan pekerja-pekerja profesional di seluruh dunia yang bisa berpikir netral untuk membrantas kemiskinan. (Heronimus Maryono)

* Artikel diterjemahkan dan diolah dari hasil wawancara redaksi portal manajemen Wharton, Knowledge@Wharton dengan Abhijit Banerjee dan Esther DufloLas recetas para acabar con la pobreza de los autores de "Economía de los pobres"di http://www.wharton.universia.net.

POOR ECONOMICS: Cara Lain Mengatasi Kemiskinan Global


Majalah  Financial Times Goldman Sachs menganugerahi dua ekonom muda dari MIT sebuah penghargaan untuk buku mereka, Poor Economics: A Radical Rethinking ofthe Way to Fight Global Poverty, sebagai Buku Bisnis Terbaik 2011. Buku hasil penelitian sosial itu tiba-tiba banyak dilirik para penentu keputusan di perusahaan. Adakah cara lain mengatasi kemiskinan global?

Mengapa seorang maroko yang tidak punya cukup uang untuk makan bisa membeli sebuah televisi? Mengapa anak-anak di daerah miskin punya kesulitan untuk belajar, termasuk bila mereka telah bersekolah? Mengapa orang-orang yang paling miskin di propinsi Maharashtra di India menghabiskan 7% dari anggaran belanja mereka untuk makanan dan membeli gula?

Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, dua ekonom dari MIT (Massachusetts Institute of Technology), Cambridge, mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit tadi dalam investigasi mereka. Sebuah buku yang mereka tulis, Poor Economics: ARadical Rethinking of the Way to Fight Global Poverty, mengurai secara detail tema besar tentang kemiskinan dan alternatif baru mengatasi kemiskinan dunia.

Sebuah Strategi Radikal

Berbeda dari ekonom-ekonom lain yang berkonsentrasi pada pertanyaan-pertanyaan makro, seperti bantuan pada yang memerlukan, mereka membahas tema kemiskinan dengan cara yang sangat mirip dengan bagaimana para peneliti medis membuat penemuan penanganan sebuah penyakit: melalui percobaan-percobaan klinis. Duflo yang berbicara tentang tema itu pada wawancara TED Talks Februari 2010 menjelaskan, bahwa efek-efek bantuan itu umumnya sulit diukur, tetapi adalah “mungkin mengetahui apa saja dari bantuan-bantuan itu yang membantu dan apa saja yang tidak, melalui solusi yang dipilih lewat eksperimen acak”.

Dalam metode yang diterapkan, para peneliti medis memasukkan proyek-proyek sosial pada percobaan-percobaan ilmiah mereka yang teliti dalam penggunaan obat-obatan. Demikian, politik-politik manajemen terlihat bebas diperkirakan, kata Duflo, ketika jelas “apa yang berfungsi dan apa yang tidak dan mengapa”. Tidak ada solusi yang sifatnya mujizat, tetapi solusi khusus yang terukur—seperti, misalnya, memasukkan makanan sebagai cara mendorong imunisasi, atau tempat-tempat tidur subsidi yang berkelambu untuk mengurangi penyakit malaria—bisa memiliki pengaruh yang berarti dalam mengurangi kemiskinan, demikian observasi dari Banerjee dan Duflo.

Sebenarnya, Banerjee dan Duflo tidak pernah berharap “Poor Economics” menjadi akhirnya sebuah buku bisnis yang dinilai baik. “Kami tak pernah tahu persis secara ilmiah kalau buku kami ini merupakan sebuah buku bisnis”, kata Duflo. Namun perhatian publik ekonomi merebak ketika buku itu diberi penghargaan sebagai Buku Bisnis Terbaik 2011 versi majalah  Financial Times Goldman Sachs.

Bagi Duflo, penghargaan itu memang membuatnya sangat puas, namun juga mengejutkan. “Kami tak mengerti bagaimana buku kami bisa dipertimbangkan sebagai buku bisnis kalau tujuannya sebenarnya adalah menemukan media dan memikirkan usulan-usulan yang berkaitan dengan kemiskinan di dunia. Tetapi kami merasa puas ketika tahu bahwa beberapa pengusaha dan orang-orang dari kalangan bisnis tertarik pada penelitian kami.”

Cara Terbaik Menghadapi Kemiskinan?

Menurut Abhijit Banerjee, tesis utama buku mereka adalah bahwa tidak ada cara yang satu-satunya dalam menghadapi kemiskinan. Artinya, pertanyaan di atas pada dirinya sendiri salah. Tidak ada satu tindakan yang tunggal yang mampu mengatasi masalah kemiskinan. Yang ada, mungkin, ratusan cara yang bisa diadopsi, yang setiap cara akan punya sebuah pengaruh, yang dengan cara demikian kita akan dapat menentukan cara yang tepat.

Tak ada bukti bahwa cara tertertu bisa lebih penting dari yang lain. Maka, “resep universal untuk semua masalah kemiskinan, untuk saya hanyalah sebuah ilusi.” Namun ilusi ini merupakan ilusi yang menantang, karena membawa kita pada sebuah keyakinan bahwa kemiskinan bisa diatasi dengan satu cara saja. Namun demikian, data-data tidak mendukung pemikiran seperti itu.

Sejumlah Hal Penting

Duflo dan Banerjee meyakini bahwa dalam berbagai cara memberantas kemiskinan, ada beberapa hal yang fundamental. Tidak dibicarakan di sini bahwa hal-hal itu yang paling penting, tetapi sejauh para penulis tahu sampai sekarang, itu yang paling efektif. Namun, itu tidak berarti bahwa di masa depan tidak ada ukuran lain yang jauh lebih efektif.

Pengetahuan yang kita paparkan sekarang menunjukkan kalau ada satu wilayah abu-abu yang kita tidak tahu dengan baik bagaimana menanganinya. Tetapi, ada hal-hal yang kita tahu dan yang bisa berlaku di sektor-sektor lain. Mendidik anak-anak, misalnya, yang adalah salah satu dari hal tersebut, menyeimbangkan pendidikan yang bermutu sejak usia dini. Pemikiran dari sektor kesehatan juga punya kemungkinan pengaruh sosial dan politik terhadap penduduk-penduduk miskin. Dalam kasus ini menyangkut kebutuhan-kebutuhan yang terukur seperti akses terbaik dalam hal kesehatan, seperti menemukan cara memasukkan zat besi, vitamin dan lain-lain ke dalam makanan yang dikonsumsi orang-orang miskin, yang hasilnya akan positif dari sudut pandang medis. Menyuplai penduduk miskin sebuah aset, seekor sapi, misalnya, dan kemudian membantu mereka dalam memelihara sapi itu juga merupakan hal yang baik. Hal-hal tersebut, menurut pendapat kami, adalah sejumlah cara yang efektif yang bisa dijalankan kalau kita ingin mengakhiri kemiskinan.

Dalam sebuah presentasi konferensi di Goa, India, Banerjee menekankan pentingnya mutu pendidikan, kurikulum dan lain-lain. Untuk kasus orang-orang miskin, pendidikan anak-anak biasanya dianggap sebagai paspor tunggal untuk memberantas kemiskinan, tapi apakah penting di sini bicara soal mutu pendidikan? Tentu saja. Kalau tidak tahu membaca,  atau tidak memiliki pengetahuan dasar tentang matematika, di umur 13-14 tahun—dan banyak jumlahnya pelajar-pelajar yang tidak memiliki kemampuan ini—semua usaha yang akan dilakukan untuk memberantas kemiskinan bisa sia-sia saja.

Demikian juga, kalau anak-anak masuk dalam pendidikan yang tidak bermutu, sebenarnya itu bisa dimasukan dalam sebuah tindakan kriminal. Sekolah dengan situasi tak seorang pun yang berbicara dengan para murid, kelas jalan terus meski mereka tidak mengerti apa-apa. Tak ada yang lebih jelek dari pendidikan ini. Kita tidak akan percaya bahwa kita sedang mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang baik bila demikian.

Bagi Duflo, meskipun tidak benar mengatakan tidak pergi sekolah lebih baik daripada pergi ke sekolah yang jelek, kenyataan pendidikan yang diwarnai dengan ketidaktahuan dan ketertinggalan adalah sebuah penderitaan yang sebenarnya.

Definisi Kemiskinan, Sebuah Kesewenangan

Banerjee berpendapat, tak ada cara tunggal mendefinisikan kemiskinan yang bisa memuaskan semua. Definisi kemiskinan itu  kesewenangan. Ketika kemiskinan itu didefinisikan, kita perlu memutuskan yang perlu diuraikan dengan kemiskinan itu.  Kalau Anda mencoba memasukkan sekelompok orang yang putus asa yang memerlukan bantuan langsung, itu hanyalah satu hal. Kalau Anda ingin menjelaskan tipe sponsor dana hidup apa yang tidak bisa diterima, dan yang negara perlukan untuk, dengan cara tertentu, mengatasi masalah, situasinya berbeda-beda.

Tidak ada definisi yang independen dari pertanyaan tentang apa kemiskinan itu. Kalau pertanyaannya dari sudut pandang politis, maka: “bagaimana seharusnya saya menangani bantuan darurat?”  Definisinya akan mengikuti garis yang sama. Sangat berbeda, misalnya, kalau kita menetapkan satu tujuan di 15 tahun ke depan. Garis kemiskinan bagi orang-orang yang sungguh miskin harus lebih rendah daripada tujuan kita membagikan ke semua setidaknya sejumlah “X” setelah 15 tahun. Semua tergantung pada pertanyaan politis yang kita coba jawab.

Menurut Duflo, secara umum ada banyak orang miskin, maka mereka merupakan sebuah pasar. Ada beberapa bentuk perusahaan sosial yang telah melakukan itu dengan baik di aspek ini, dan mereka ada di situ agar kita semua bisa melihat. Banyak orang yang terinspirasi C.K Prahalad mengatakan sangat mungkin mendapatkan uang dengan membantu orang miskin. Namun demikian, dalam hal ini kita perlu sangat berhati-hati. Kita tidak mengatakan kalau kesempatan itu tidak ada. Kadang, benar bahwa ada sebuah pasar dan bisa mungkin mengolahnya dengan cara kreatif. Namun demikian, ada juga banyak hal yang orang miskin perlukan dan pasar tidak bisa memberikannya. Salah bila menganggap pasar bisa memberikan semua pada orang miskin. Itu jelas gagasan yang salah. (Bersambung di sini)

* Artikel diterjemahkan dan diolah dari hasil wawancara redaksi portal manajemen Wharton, Knowledge@Wharton dengan Abhijit Banerjee dan Esther DufloLas recetas para acabar con la pobreza de los autores de "Economía de los pobres" di http://www.wharton.universia.net

Tuesday, July 2, 2013

Book Review: Jiwa Kewirausahaan di Perusahaan

Penulis   :  Robert D. Hisrich, Claudine Kearney
Penerbit   : McGraw-Hill, Agustus 2011
Halaman   : 288 halaman

"Sebagaimana organisasi, industri dan konsumen menjadi lebih dinamis sekarang ini, kewirausahaan perusahaan (corporate entrepreneurship) juga menjadi semakin penting. Sementara kewirausahaan sendiri secara tradisional didefinisikan sebagai fenomena sektor swasta, kewirausahaan perusahaan dan sosial telah berkembang di beberapa domain yang berbeda seperti sektor nor profit, sektor profit, dan sektor publik ", tulis Robert D.Hisrich, direktur Garvin Profesor Global Entrepreneurship dan direktur Walker Center for Global Entrepreneurship di Thunderbird School of Global Management.

Bersama seorang peneliti tamu dalam program kewirausahaan di Thunderbird School of Global Management, Claudine Kearney, Hisrich menulis buku tentang perubahan organisasi dan peluangnya, Corporate Entrepreneurship. How to Create a ThrivingEntrepreneurial Spirit Throughout Your Company (Kewirausahaan Perusahaan: Bagaimana mengembangkan Roh Wirausaha Melalui Perusahaan Anda).

Dalam buku ini, para penulis meyakinkan dengan penjelasan-penjelasan yang lugas mengapa kewirausahaan perusahaan itu sangat penting untuk mengembangkan sebuah organisasi yang kompetitif di pasar global yang terus berkembang. Di samping itu buku ini juga memberikan strategi untuk menciptakan budaya kewirausahaan dalam setiap organisasi, dan bagaimana mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang pasar.

Individu yang Nyleneh dan Inovasi

Robert Hisrich dan Claudine Kearney mengakui bahwa ketika organisasi dan karyawan dalam sebuah perusahaan gagal berinovasi, tingkat kompetitif perusahaan itu secara otomatis akan menurun sangat cepat. Dalam ekonomi global yang hiper-kompetitif seperti sekarang ini, inovasi menjadi penting untuk keberhasilan perusahaan. Kegagalan dalam berinovasi bisa berakibat pada ambruknya bisnis dan rusaknya merek dengan waktu hampir semalam saja.

Para penulis menawarkan solusi untuk menghadapi daya saing global melalui visi mereka tentang kewirausahaan perusahaan. Para penulis menunjukkan bahwa dalam setiap perusahaan, biasanya ada orang-orang yang nyleneh¸tidak konvensional, dan kreatif yang bisa sangat mengembangkan inovasi-inovasi perusahaan dan mencari solusi-solusi kreatif. Alih-alih mengucilkan orang-orang yang inovatif, mereka harus didorong untuk selalu mencari ide-ide segar dan pasar baru untuk produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan.

Robert Hisrich dan Claudine Kearney sadar bahwa dalam praktiknya, belum banyak organisasi mengerti tentang konsep kewirausahaan perusahaan ini. Oleh karena itu, buku ini secara menarik dan terinci menguraikan apa latar belakang dan alasan mengapa begitu penting konsep  kewirausahaan perusahaan tersebut. Di dalam buku ini, para penulis menunjukkan bagaimana mengidentifikasi inovator dalam organisasi, dan berbagi teknik untuk mengembangkan budaya kewirausahaan perusahaan.

Dengan memiliki budaya lokal yang tepat, penulis memberikan strategi untuk mengungkap dan mengorganisir usaha-usaha yang mengarah pada kewirausahaan perusahaan. Dengan perencanaan dan organisasi yang dikembangkan, penulis menawarkan teknik dalam pendanaan dan pelaksanaan usaha-usaha tersebut yang menghasilkan, bersama dengan ide-ide untuk kompensasi dan penghargaan bagi para pengusaha dan inovator dalam perusahaan. Para penulis juga berbagi ide untuk mengelola politik internal dari usaha-usaha itu dan bagaimana membangun perusahaan yang merambah ke DNA organisasi.

Budaya Kewirausahaan yang Inovatif

Bagi saya, kekuatan buku ini terletak pada bagaimana Robert D. Hisrich dan Claudine Kearney menggabungkan teori dan argumen tentang bagaimana membangun budaya kewirausahaan perusahaan, dengan cara dan strategi mempraktikan inovasi yang dihasilkan secara efektif. Para penulis memberikan wawasan berharga tentang pentingnya kewirausahaan perusahaan, dan berbagi teknik untuk memastikan transisi yang sukses bagi perusahaan yang berorientasi pada profit. Buku yang cukup tebal ini menawarkan langkah demi langkah rancangan perencanaan, pelaksanaan dan bagaimana mengevaluasi inisiatif-inisiatif kewirausahaan internal. Konsep-konsep yang diurai dalam buku didukung oleh contoh-contoh kongkrit dalam dunia perusahaan yang sudah berhasil menerapkan corporate entrepreneurship, dan yang terlah mengubah organisasi mereka menjadi pemimpin dalam inovasi.

Bagi siapapun yang ingin mendalami konsep tentang ide dan bagaimana  membangun budaya organisasi secara lebih baik, buku ini bisa menjadi pilihan yang baik. Para pemimpin bisnis yang mencari sebuah konsep revolusioner yang akan mengubah organisasi menjadi pembangkit jiwa-jiwa inovatif, tak boleh begitu saja melewatkan buku ini. Dengan membacanya, siapapun yang berperan penting dalam perusahaan, akan terbantu bagaimana mengembangkan organisasi yang tak lekang jaman dan kokoh di pasar global yang terus berubah dengan cepat ini.* (Heronimus Maryono)

Versi pra edit Book Review yang dimuat di Forum Manajemen Prasetiya Mulya, edisi Mei-Juni 2013.