Friday, July 12, 2013

POOR ECONOMICS: Cara Lain Mengatasi Kemiskinan Global (2)

Majalah  Financial Times Goldman Sachsmenganugerahi dua ekonom muda dari MIT sebuah penghargaan untuk buku mereka, Poor Economics: A Radical Rethinking ofthe Way to Fight Global Poverty, sebagai Buku Bisnis Terbaik 2011. Buku hasil penelitian sosial itu tiba-tiba banyak dilirik para penentu keputusan di perusahaan. Adakah cara lain mengatasi kemiskinan global?

Pada tulisan sebelumnya kita diajak kedua pengarang buku inovatif itu untuk menyadari betapa kemiskinan itu merupakan masalah yang kompleks. Begitu kompleksnya sehingga tak satu cara pun bisa diklaim sebagai satu-satunya cara mengatasi kemiskinan yang berlaku untuk semua di manapun. Maka definisi kemiskinan itu begitu relatif dan bahkan tak satupun dari kita mampu menentukan satu rumusan untuk semua. Dengan begitu, cara mengatasi kemiskinan pun ada begitu banyak cara dan jalan. Bagi Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, cara yang bagi mereka radikal untuk mengatasi kemiskinan, salah satunya, adalah melakukan percobaan-percobaan bagai seorang medis menjalankan proses penemuan sebuah obat untuk suatu penyakit.

Parameter Kemiskinan

Perihal parameter kemiskinan, Banerjee tidak menganjurkan menggunakan nilai tukar dolar. Itu sebuah perangkat yang membingungkan; maka, kalau kita menyebut nilai 32 rupee, kita harus tahu benar apa artinya itu. Masalah nilai tukar dólar itu adalah tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan nilai.  Nilai tukar paling aktual dari dólar ke rupee yang bisa kita amati perbedaannya adalah mendekati 19 rupee per dólar. Itulah nilai pertukaran yang tepat, dan bukan 48 atau 49 rupee per dólar (menurut bursa nilai tukar sekarang ini). Inilah hubungan yang Bank Dunia gunakan dalam estimasi-estimasi Paritas Daya Beli. Jadi, menurut konversi itu 32 rupee ekivalen dengan 1,70 dólar AS. Itu adalah nilai tepatnya, dan bukan 0,65 dólar AS per hari sebagaimana ditentukan Badan Perencanaan Pembangunan India. Berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kemiskinan, bursa nilai tukar dólar tidaklah penting. Tarif bus di sini seharga 3 rupee. Di AS harganya akan sampai 2 dólar AS. Tepatnya, mengerti kenyataan bahwa barang-barang di India lebih murah daripada di AS. Sebaliknya, jumlah yang mendapatkan barang-barang itu akan sangat distortif di sini.   

Di sisi lain, Duflo tidak tertarik sama sekali untuk mengukur kemiskinan. “Orang lain bisa jadi tertarik melakukannya,” katanya. Orang-orang di Bank Dunia, misalnya. Mereka mendedikasikan dengan getol pada parameter tingkat kemiskinan. India punya tradisi panjang yang luar biasa dalam hal itu. Akhirnya, sebenarnya yang penting bukan mengukur tingkat kemiskinan, tetapi mencoba mengerti apa yang bisa kita lakukan dengan kenyataan tersebut. Dengan kata lain, bicara soal sebuah debat demokratis yang seluruh dunia harusnya berpartisipasi.

Orang Miskin Bukan Mesin

Sebagian besar politik pendanaan dan, umumnya, politik sosial, menurut Banerjee, mengabaikan kehendak orang miskin. Orang miskin mereka anggap sebagai orang yang putus asa, dalam artian memperlakukan mereka dengan cukup memberikan sesuatu yang bisa mereka terima secara langsung. Orang-orang miskin, di sisi lain, sedang mencoba menjalani sebuah hidup yang layak di tengah desakan-desakan yang para donatur jejalkan itu. Bila mereka diberitahu agar memakan sejenis makanan tertentu setiap hari karena itu lebih menyehatkan—misalnya, beras setiap hari—mereka menghindari untuk melakukan itu. Maka tepatnya, menyelidiki kenyataan-kenyataan hidup mereka dan melihat dengan cara apa mereka ingin menjalani kehidupan.

Kita mengatakan kepada mereka agar merebus air selama 20 menit, tetapi kita tidak mengerti kenyataan hidup yang mereka alami. Dua puluh menit adalah waktu yang sangat lama untuk seorang perempuan yang harus melakukan banyak pekerjaan di rumah. Maka perlu ditemukan apakah yang menjadi prioritas mereka. Kita menyuruh mereka melakukan apa yang kita minta dan kita tidak mengerti mengapa mereka tidak melakukan itu. Mereka tidak melakukan itu karena kita tidak mampu mengerti mengapa mereka melakukan itu atau memilih hal itu. Bila kita ingin melakukan sesuatu untuk mereka, kita harus berhasil membuat permintaan kita semenarik mungkin. Orang-orang miskin itu bukan mesin.

Kita harus memilah “masalah” ini dalam bagian-bagian kecil, yang dapat kita atasi dengan cara sendiri. Bagi sebagian orang, itu satu-satunya masalah yang solusinya harus juga tunggal. Fokus perhatian seperti ini banyak membuat mereka justru merasa tertekan di hadapan rintangan-rintangan yang besar. Yang benar itu mengatakan bahwa itu bukan masalah raksasa, melainkan serangkaian masalah yang perlu diatasi dengan berbagai cara. Dengan cara itu, akan ada kemenangan dan pencapaian yang progresif dalam perjuangan memberantas kemiskinan.    

Tiga Musuh Perlawanan Kemiskinan

Bagi kedua ekonom itu, musuh besar perjuangan melawan kemiskinan itu ada tiga hal:  ideologi, ketidaktahuan dan ketidakpedulian, dan mereka yang mewakili tiga masalah itu  adalah para spesialis, pekerja di bidang bantuan dan pemegang kebijakan lokal. Dalam konteks India, kesulitan-kesulitan utama disebabkan oleh Pemerintah dan para pekerja sosial. India, menurut Duflo, umumnya, menerima sedikit bantuan, maka tidak bisa menyalahkan para pekerja di sektor itu. Jumlah bantuan yang datang sangat kecil, dan sebagian besar uang yang didedikasikan untuk membrantas kemiskinan dibelanjakan Pemerintah. Maka, tidak banyak pekerja profesional di bidang bantuan ini di India. Tetapi ada banyak ONG (Organisasi Non Pemerintah) di India yang bekerja luar biasa. Ada sebuah perbedaan sangat besar antara tempat-tempat yang dibangun untuk politik, seperti New Delhi, dan penduduk desa. Para petani mengerjakan pekerjaan dengan baik, dan mereka punya satu persepsi yang jauh lebih jelas dari apa yang terjadi sebelumnya di desa. Pengetahuan mereka, namun demikian, tidak selalu dimanfaatkan. Ada banyak negara—seperti Afrika, misalnya—yang menerima bantuan, tetapi menghadapi masalah yang sama di tingkat dasar.

Sayangnya, bantuan Pemerintah untuk proyek-proyek yang terprogram dan teruji justru hanya sedikit. Di India misalnya, menurut Banerjee seharusnya lebih banyak yang didedikasikan untuk masalah besar ini. Tetapi, bahkan dalam apa yang sudah dibelanjakan, sedikit saja uang yang mengalir untuk program-program inovatif yang dapat diuji, diidentifikasi dan diimplementasikan secara hati-hati. Sejumlah besar uang dan dana dari Pemerintah justru dikeluarkan untuk program-program yang tidak bisa dibuktikan. Alih-alih membelanjakan uang yang diterima dengan kriteria, bagian besar dari uang itu dibelanjakan dalam program-program yang salah. Dalam penelitian Duflo dan Banerjee, sedikit saja uang yang ditujukan untuk program-program pemberantasan kemiskinan yang dianggap penting.

Abdul Latif Jamil Poverty Action Laboratory dan Gerakan di AS

Pada tahun 2003, Banerjee dan Duflo mendirikan Laboratorium untuk Aksi Melawan Kemiskinan (J-PAL) dengan tujuan mendorong dan mendanai penelitian tentang cara baru melakukan kegiatan ekonomi yang disebut ‘eksperimen acak kontrol’. Ini memberikan kesempatan bagi para peneliti baru, bekerja sama dengan mitra lokal, menerapkan percobaan skala besar yang memungkinkan mereka menguji teori mereka. Pada tahun 2010,  peneliti J-PAL  telah menyelesaikan atau terlibat dalam 240 percobaan di 40 negara. Berbagai organisasi, peneliti dan pembuat kebijakan politik menganut  ide pengujian acak. Banyak yang mengakhiri dengan berbagi premis dasar yang telah lama diyakini Banerjee da Duflo: tetap mungkin mencapai kemajuan yang berarti di daerah-daerah dengan masalah besar di seluruh dunia, melalui serangkaian langkah-langkah kecil. Masing-masing dari percobaan mereka itu dibuat sangat baik, diuji dan diimplementasikan dengan hati-hati dan bijak.

Bicara soal aksi lain, yang ditunjukkan oleh orang-orang yang menamakan diri the Occupy, yang memulai protesnya di Wall Street dan menyebar ke seluruh dunia, dua ekonom itu justru tak meyakini gerakan mereka ada hubungannya dengan gerakan melawan kemiskinan dunia. Bagi Duflo, sekarang ini, para pemrotes " the Occupy Wall Street " adalah sebuah jawaban yang sangat obyektif pada pertanyaan-pertanyaan masalah intern di AS, pada pertumbuhan kesenjangan negara dalam 15 tahun terakhir, pada ketidakpedulian dan pada jawaban yang tidak tepat pada krisis ekonomi AS sampai sekarang ini. Kemiskinan dunia diyakininya tidak menjadi prioritas gerakan saat ini, maka Duflo tak yakin kalau protes-protes itu akan punya pengaruh pada resolusi untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan kemiskinan di lingkup global ini.

Bagi Banerjee, gerakan-gerakan itu punya tujuan karena reaksi populis dan tidak bertanggung jawab dalam manajemen politik di Barat, yang bisa jadi membawa gagasan tentang anti pasar bebas dan lain-lain. Para pemrotes itu bisa berubah menjadi sejenis Tea Party, yang tentu akan jadi buruk. Namun, saat ini, kita bicara hanya tentang orang-orang yang bereaksi pada masalah-masalah utama negara-negara the OECD [Organisation for Economic Co-operation and Development]. Di beberapa negara tersebut, kesenjangan semakin besar dan sikap resmi pada situasi ini sedikit penting.


Terlepas dari semua itu, studi terakhir menunjukkan kemiskinan semakin drastis terjadi di AS sepanjang dekade  belakangan ini, di samping krisis ekonomi. Di sinilah tantangan melawan kemiskinan dunia muncul. Lambatnya pertumbuhan ekonomi di Barat adalah masalah besar bagi negara-negara yang sedang berkembang seperti India, Bangladesh dan Pakistan, yang tergantung dari export pada pasar-pasar. Semua harus menghadapi keterbatasan karena krisis itu. Sudah terbukti juga bahwa orang sedang memperhatikan sebuah kreativitas yang sekarang ditujukan pada penemuan keseimbangan dalam lingkup ekonomi negara-negara barat. Pada akhirnya, kita memerlukan pekerja-pekerja profesional di seluruh dunia yang bisa berpikir netral untuk membrantas kemiskinan. (Heronimus Maryono)

* Artikel diterjemahkan dan diolah dari hasil wawancara redaksi portal manajemen Wharton, Knowledge@Wharton dengan Abhijit Banerjee dan Esther DufloLas recetas para acabar con la pobreza de los autores de "Economía de los pobres"di http://www.wharton.universia.net.

0 comments:

Post a Comment

Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda