Survei tahunan McKinsey yang dilakukan baru-baru ini—tentang cara organisasi menggunakan perangkat sosial dan teknologi—makin menguatkan keyakinan umum bahwa perangkat sosial media merupakan hal
tak terhindarkan dalam organisasi. Sosial media dan segala
perangkatnya yang berkembang tiada henti mengubah proses bisnis dan meningkatkan kinerja sebuah organisasi.
Di bagian lalu (2), terungkap dari survei bahwa perusahaan-perusahaan yang kreatif dan berjejaring, terbukti tinggi performansinya. Di saat yang sama, performansi terbantu peningkatannya berkat usaha yang baik dari perusahaan-perusahaan untuk menyesuaikan diri dan meningkatkan dalam pengetahuannya menggunakan perangkat media sosial dalam strategi bisnisnya.
Korporat
Berjejaring: Tak Diam dalam
Posisi Nyaman
Berhubungan dengan perubahan dalam perusahaan, analisa McKinsey menemukan
hal yang mengejutkan. Sejumlah
organisasi membuat transisi dari satu jenis perusahaan ke jenis perusahaan lain. Sekitar setengah dari
perusahaan berjejaring internal
dan eksternal merosot kembali dalam kategori organisasi
berkembang, yakni, mereka yang tidak memelihara manfaat penggunakan teknologi sosial sebagaimana yang telah mereka capai sebelumnya. Kurang
dari 15 persen perusahaan dalam setiap kategori yang diberikan naik ke tingkat
berikutnya—dengan kata lain, dari sebuah perusahaan yang berkembang dalam jaringan atau dari suatu perusahaan yang secara
internal maupun eksternal berjejaring
ke yang sepenuhnya berjejaring
(infografis 6). Tampaknya
lebih mudah sebuah perusahaan kehilangan manfaat dari teknologi
sosial daripada menjadi perusahaan yang lebih berjejaring.
Itu menunjukkan bahwa upaya yang signifikan diperlukan untuk
mencapai keuntungan pada skala yang
lebih besar dalam pengelolaan perangkat sosial yang digunakan. McKinsey juga menemukan indikasi awal bahwa
jika persentase karyawan yang menggunakan teknologi sosial dalam hari-hari kerja
mereka menurun, maka perusahaan akan lebih
cenderung mengarah pada kejatuhan.
Mengubah proses
Jejaring sosial dan blog, khususnya, digunakan paling banyak dalam proses eksternal yang terfokus pada pengumpulkan pemikiran-pemikiran kompetitif dan
upaya dukungan pada sektor pemasaran.
Responden mengharapkan teknologi sosial memodifikasi banyak proses bisnis saat ini pada organisasi-organisasi mereka. Selain itu, banyak yang percaya bahwa proses yang sepenuhnya baru bisa muncul jika hambatan penggunaan teknologi sosial—misalnya hambatan faktor budaya—bisa
hilang (infografis 8). Responden yang berafiliasi
dengan organisasi sepenuhnya berjejaring adalah yang paling mungkin percaya bahwa proses perubahan
yang lebih besar akan terjadi dalam organisasi mereka sendiri.
Dengan
jumlah lebih besar pada responden dalam kelompok lain berpikir bahwa teknologi
sosial akan memimpin perusahaan mereka mengadopsi proses bisnis yang sama
sekali baru saat ini dan bahkan lebih agresif jika semua kendala telah
dihapus. Pandangan optimis ini mungkin mencerminkan kenyataan bahwa
responden melihat tingkat manfaat paling besar di seluruh jajaran perusahaan.
Mereka mengungkapkan bahwa dengan semakin berkurangnya kendala pada teknologi sosial di perusahaan, semakin tipis batas-batas hubungan antara karyawan, vendor, dan pelanggan; karyawan di perusahaan akan lebih dapat
mengorganisir diri dan pengambilan keputusan berbasis data akan meningkat kepentingannya.*** (Heronimus Maryono)
Diterjemahkan dan
disadur bebas untuk Forum Manajemen Prasetiya Mulya, edisi Maret-April 2012,
dari tulisan Jacques Bughin , How social technologies are extending the
organization, www.mckinseyquarterly.com.




0 comments:
Post a Comment
Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda