Thursday, June 13, 2013

Pekerjaan Tanpa Boss: Bisa atau.... (Bag.1)

Kantor tanpa seorang pimpinan merupakan tendensi baru masa depan atau sebuah ide utopis? Padahal campur tangan orang lain dalam gerak hidup manusia merupakan sifat alami.  

Beberapa artikel terbaru di media ekonomi-bisnis mengungkap dengan pujian sejumlah tempat kerja yang tak punya seorang pun pimpinan dan tanpa sebutan jabatan dalam pekerjaannya, di mana para pekerja memutuskan sendiri proyek-proyek yang akan dikerjakan, siapa yang meminta dan mengontrak mereka. Tak hanya itu, di kantor itu setiap pekerja menentukan sendiri gaji, kenaikan gaji dan waktu-waktu liburnya.

Reaksi-reaksi atas ide seperti itu memang masih beragam. Yang mendukung kantor tanpa pemimpin mencatat bahwa keputusan-keputusan tertentu yang bisa dibuat akan memakan waktu lebih lama ketika tidak ada hirarki. Selain itu, sifat alami manusia umumnya menunjukkan bahwa seseorang cenderung akan maju memimpin sebuah kelompok dan, bahkan tanpa jabatan apapun, berperan sebagai pemimpin tidak selalu dalam cara-cara yang positif. Tapi, pendapat lain yang pro dengan itu mengatakan bahwa organisasi datar semacam itu memungkinkan karyawan bekerja lebih kreatif, lebih produktif dan lebih mandiri, dan merasa lebih bertanggungjawab dan memiliki dengan keberhasilan-keberhasilan perusahaan.

Sebuah kantor tanpa pemimpin "adalah cara pikir yang sangat demokratis dalam pekerjaan," kata dosen manajemen Wharton, Adam Cobb. "Setiap orang ambil bagian dalam keputusan, sehingga tidak diarahkan dari atas. Idenya adalah bahwa orang yang melakukan pekerjaan yang sebenarnya kemungkinan memiliki pengertian yang lebih baik tentang bagaimana pekerjaan itu dilakukan daripada apa yang bisa dilakukan oleh pimpinannya. Ini masalah mendistribusikan keahlian di tempat yang seharusnya. "

Tekanan Rekan Sekerja

Di sisi lain, Cobb berpendapat, kantor tanpa bos atau manajer yang mengawasi alur kerja bisa jadi artinya bencana. Dia mengutip sebuah makalah akademis beberapa tahun lalu yang menganalisa nasib sebuah perusahaan kecil, yang pemiliknya memutuskan untuk mencoba dan mencegah kebangkrutannya dengan membiarkan karyawan menjalankan perusahaan. "Seiring waktu, para pekerja menjadi lebih tertindas daripada saat bos ada di sana," kata Cobb. "Semua orang ingn menjadi pengontrol, terus mengecek sesama karyawan, bahkan mengusulkan untuk melacak dengan jeli kapan orang datang bekerja dan saat pergi."

Padahal, menurut Cobb, para pemimpin itu berperan penting, setidaknya: "Mereka adalah musuh bersama. Para karyawan mengakui lawan mereka. Ketika karyawan dibiarkan bertanggung jawab bebas atas dirinya sendiri, sulit mengatakan apakah mereka bekerja sama atau menjadi musuh yang melawan Anda ".

Di era tahun 80an dan 90an, kata Mattew bidwell, seorang dosen manajemen di Wharton university, pernah dilakukan beberapa eksperimen tentang pendelegasian tanggungjawab di tingkat horizontal melalui kelompok yang mengelola diri mereka sendiri. "Sebagian merasa menemukan sistem baru yang lebih memaksa, karena alih-alih punya satu manajer—yang bisa diabaikan—, ada banyak rekan sekerja yang mengawasi. Tekanan dari rekan-rekan sekerja ini justru terasa berat ".

Observasi-observasi semacam ini membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana peran pemimpin di perusahaan-perusahaan abad 21, sebab pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan pesatnya perkembangan teknologi telah mengubah banyak bentuk di mana para pekerja menghidupi pekerjaannya: mereka sekarang bisa berkomunikasi dengan cara yang sangat cepat, dengan kemudahan yang canggih dan tanpa harus hadir di tempat yang sama dan di kepulauan yang sama dengan yang diajak berkomunikasi.

"Ada banyak cara untuk menjadi pemimpin," catat dosen manajemen Wharton, Nancy Rothbard, yang baru-baru ini telah meneliti perusahaan yang pemimpinnya berusia di kisaran 26 tahun dan karyawan-karyawannya di usia 25 tahunan. "Saya tidak percaya ada pemimpin yang suka memerintah dan gaya kontrol manajemen yang ketat, karena kebanyakan mereka tidak merasa punya  kredibilitas untuk itu," katanya. Dalam situasi seperti itu, "manajer yang bertindak  sebagai pelatih" biasanya menjadi model yang  lebih pas daripadada model "manajer diktator."

Tantangan besar sebuah perusahaan tanpa pemimpin adalah cara bagaimana keputusan dibuat. "Kecepatan pengambilan keputusan sering lebih lambat jika Anda memerlukan konsensus," demikian pendapat Nancy. Jika keputusan merupakan hal yang sudah jelas, berbagi nilai-nilai bersama akan membantu kelompok sampai pada kesimpulan yang tepat, jika tidak, akhirnya satu orang yang harus turun tangan dan memutuskan.

Para pemimpin memainkan peran lain yang  kemungkinan sulit dilakukan oleh sebuah kelompok.  Mereka sering bertanggung jawab menetapkan misi perusahaan, menyajikan wajah perusahaan ke dunia luar, terutama ketika datang ke IPO atau bentuk lain dari peningkatan modal, dan mereka membantu mencegah apa yang disebut ekonom sebagai "penunggang bebas"—karyawan yang iri dengan tanggung jawab pemimpin dan perlu dipantau. Tekanan sosial dari rekan sekerja bisa jadi akan mencegah hal ini, tapi peran peminpin tidak mungkin tergantikan dalam organisasi.

Sebuah kantor tanpa pemimpin juga memunculkan pertanyaan berikut: bagaimana dengan mereka yang sifatnya introver ketika dinamika kelompok memerlukan orang untuk maju dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. "Salah satu keuntungan dari hierarki adalah memberi fasilitas koordinasi yang efisien," kata pengajar ilmu manajemen di Wharton University, Adam Grant. "Ketika orang tahu siapa yang bertanggung jawab, jauh lebih mudah menetapkan peran dan tugas yang didelegasikan.  Di kantor yang bebas pemimpin, orang sering menghadapi ketidakpastian tentang siapa yang memiliki otoritas, status atau tanggung jawab untuk suatu proyek tertentu dsb."

Sebuah riset menunjukkan bahwa dalam menanggapi ketidakpastian, "orang cenderung mengekspresikan sifat-sifat kepribadian alami mereka," tambah Grant. "Ini menimbulkan risiko; orang yang ekstrovert akan tertarik ke arah yang dominan dan tegas, dan yang introvert beralih ke hal yang lebih tenang, peran yang lebih pendiam. Kerugiannya, organisasi tanpa pemimpin yang tidak bisa mengelola norma-normanya secara hati-hati, kemungkinan akan kehilangan sumbangan ide-ide berharga dan kontribusi yang bisa diberikan oleh orang-orang yang introvert. " Pengaruh orang-orang yang ekstrovert pada mereka yang introvert “tergantung dari bagaimana sebuah keputusan diambil di perusahaan,” kata Cobb. “Kalau subyek tertentu yang bicara lebih tinggi adalah yang dominan, maka sebuah hierarki de facto akan terbangun secara cepat. Kalau proses keputusan membutuhkan pemungutan suara, tidak akan timbul masalah yang parah.”


Cobb menyebutkan atribut penting lain untuk kantor yang tanpa pemimpin agar bisa berfungsi baik: karyawan yang memiliki motivasi kuat, sebuah kualitas  yang biasanya sulit ditemukan dalam proses perekrutan karyawan. Itu sangat tergantung dari jawaban yang Anda berikan pada pertanyaan: "Apakah Anda termotivasi oleh faktor ekstrinsik atau oleh apa yang Anda lakukan?" kata Cobb. "Apakah Anda bangga dengan sikap rajin Anda dalam pekerjaan, atau pekerjaan itu Anda lakukan hanya karena Anda dibayar?" (Bersambung)

Diterjemahkan bebas oleh Heronimus Maryono dari Oficina sin jefe: ¿UtopĂ­a o caos? di http://www.wharton.universia.net

0 comments:

Post a Comment

Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda