Kantor
tanpa seorang pimpinan merupakan tendensi baru masa depan atau sebuah ide
utopis? Padahal campur tangan orang
lain dalam gerak hidup manusia merupakan sifat alami.
Beberapa
artikel terbaru di media ekonomi-bisnis mengungkap dengan pujian sejumlah
tempat kerja yang tak punya seorang pun pimpinan dan tanpa sebutan jabatan
dalam pekerjaannya, di mana para pekerja memutuskan sendiri proyek-proyek yang
akan dikerjakan, siapa yang meminta dan mengontrak mereka. Tak hanya itu, di
kantor itu setiap pekerja menentukan sendiri gaji, kenaikan gaji dan
waktu-waktu liburnya.
Reaksi-reaksi atas ide seperti itu memang masih beragam. Yang
mendukung kantor tanpa pemimpin mencatat bahwa
keputusan-keputusan tertentu yang bisa dibuat akan memakan waktu lebih lama
ketika tidak ada hirarki. Selain itu, sifat alami manusia umumnya menunjukkan
bahwa seseorang cenderung akan maju memimpin sebuah kelompok dan, bahkan tanpa
jabatan apapun, berperan sebagai pemimpin tidak selalu dalam cara-cara yang
positif. Tapi, pendapat lain yang pro dengan itu mengatakan bahwa organisasi
datar semacam itu memungkinkan karyawan bekerja lebih kreatif, lebih produktif
dan lebih mandiri, dan merasa lebih bertanggungjawab dan memiliki dengan keberhasilan-keberhasilan
perusahaan.
Sebuah kantor tanpa pemimpin "adalah cara pikir
yang sangat demokratis dalam pekerjaan," kata dosen manajemen Wharton,
Adam Cobb. "Setiap orang ambil bagian dalam keputusan, sehingga tidak
diarahkan dari atas. Idenya adalah bahwa orang yang melakukan pekerjaan yang
sebenarnya kemungkinan memiliki pengertian yang lebih baik tentang bagaimana pekerjaan
itu dilakukan daripada apa yang bisa dilakukan oleh pimpinannya. Ini masalah
mendistribusikan keahlian di tempat yang seharusnya. "
Tekanan
Rekan Sekerja
Di sisi lain,
Cobb berpendapat, kantor tanpa bos atau manajer yang mengawasi alur kerja bisa
jadi artinya bencana. Dia mengutip sebuah makalah akademis beberapa tahun lalu
yang menganalisa nasib sebuah perusahaan kecil, yang pemiliknya memutuskan
untuk mencoba dan mencegah kebangkrutannya dengan membiarkan karyawan
menjalankan perusahaan. "Seiring waktu, para pekerja menjadi lebih
tertindas daripada saat bos ada di sana," kata Cobb. "Semua orang ingn
menjadi pengontrol, terus mengecek sesama karyawan, bahkan mengusulkan untuk
melacak dengan jeli kapan orang datang bekerja dan saat pergi."
Padahal, menurut Cobb, para pemimpin itu berperan
penting, setidaknya: "Mereka adalah musuh bersama. Para karyawan mengakui
lawan mereka. Ketika karyawan dibiarkan bertanggung jawab bebas atas dirinya
sendiri, sulit mengatakan apakah mereka bekerja sama atau menjadi musuh yang
melawan Anda ".
Di era tahun 80an dan 90an, kata Mattew bidwell,
seorang dosen manajemen di Wharton university, pernah dilakukan beberapa
eksperimen tentang pendelegasian tanggungjawab di tingkat horizontal melalui
kelompok yang mengelola diri mereka sendiri. "Sebagian merasa menemukan
sistem baru yang lebih memaksa, karena alih-alih punya satu manajer—yang bisa
diabaikan—, ada banyak rekan sekerja yang mengawasi. Tekanan dari rekan-rekan
sekerja ini justru terasa berat ".
Observasi-observasi semacam ini membawa kita pada
pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana peran pemimpin di perusahaan-perusahaan
abad 21, sebab pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan pesatnya perkembangan
teknologi telah mengubah banyak bentuk di mana para pekerja menghidupi
pekerjaannya: mereka sekarang bisa berkomunikasi dengan cara yang sangat cepat,
dengan kemudahan yang canggih dan tanpa harus hadir di tempat yang sama dan di
kepulauan yang sama dengan yang diajak berkomunikasi.
"Ada banyak
cara untuk menjadi pemimpin," catat dosen manajemen Wharton, Nancy
Rothbard, yang baru-baru ini telah meneliti perusahaan yang pemimpinnya berusia
di kisaran 26 tahun dan karyawan-karyawannya di usia 25 tahunan. "Saya
tidak percaya ada pemimpin yang suka memerintah dan gaya kontrol manajemen yang
ketat, karena kebanyakan mereka tidak merasa punya kredibilitas untuk itu," katanya. Dalam
situasi seperti itu, "manajer yang bertindak sebagai pelatih" biasanya menjadi model
yang lebih pas daripadada model "manajer
diktator."
Tantangan besar
sebuah perusahaan tanpa pemimpin adalah cara bagaimana keputusan dibuat. "Kecepatan
pengambilan keputusan sering lebih lambat jika Anda memerlukan konsensus,"
demikian pendapat Nancy. Jika keputusan merupakan hal yang sudah jelas, berbagi
nilai-nilai bersama akan membantu kelompok sampai pada kesimpulan yang tepat,
jika tidak, akhirnya satu orang yang harus turun tangan dan memutuskan.
Para pemimpin memainkan peran lain yang kemungkinan sulit dilakukan oleh sebuah
kelompok. Mereka sering bertanggung
jawab menetapkan misi perusahaan, menyajikan wajah perusahaan ke dunia luar,
terutama ketika datang ke IPO atau bentuk lain dari peningkatan modal, dan
mereka membantu mencegah apa yang disebut ekonom sebagai "penunggang
bebas"—karyawan yang iri dengan tanggung jawab pemimpin dan perlu
dipantau. Tekanan sosial dari rekan sekerja bisa jadi akan mencegah hal ini,
tapi peran peminpin tidak mungkin tergantikan dalam organisasi.
Sebuah kantor tanpa pemimpin juga memunculkan
pertanyaan berikut: bagaimana dengan mereka yang sifatnya introver ketika
dinamika kelompok memerlukan orang untuk maju dan berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan. "Salah satu keuntungan dari hierarki adalah memberi
fasilitas koordinasi yang efisien," kata pengajar ilmu manajemen di
Wharton University, Adam Grant. "Ketika orang tahu siapa yang bertanggung
jawab, jauh lebih mudah menetapkan peran dan tugas yang didelegasikan. Di kantor yang bebas pemimpin, orang sering
menghadapi ketidakpastian tentang siapa yang memiliki otoritas, status atau
tanggung jawab untuk suatu proyek tertentu dsb."
Sebuah
riset menunjukkan bahwa dalam menanggapi ketidakpastian, "orang cenderung
mengekspresikan sifat-sifat kepribadian alami mereka," tambah Grant.
"Ini menimbulkan risiko; orang yang ekstrovert akan tertarik ke arah yang
dominan dan tegas, dan yang introvert beralih ke hal yang lebih tenang, peran
yang lebih pendiam. Kerugiannya, organisasi tanpa pemimpin yang tidak bisa mengelola
norma-normanya secara hati-hati, kemungkinan akan kehilangan sumbangan ide-ide
berharga dan kontribusi yang bisa diberikan oleh orang-orang yang introvert.
" Pengaruh orang-orang yang ekstrovert pada mereka yang introvert
“tergantung dari bagaimana sebuah keputusan diambil di perusahaan,” kata Cobb. “Kalau subyek tertentu yang bicara lebih tinggi adalah
yang dominan, maka sebuah hierarki de facto
akan terbangun secara cepat. Kalau proses keputusan membutuhkan pemungutan suara, tidak
akan timbul masalah yang parah.”
Cobb
menyebutkan atribut penting lain untuk kantor yang tanpa pemimpin agar bisa
berfungsi baik: karyawan yang memiliki motivasi kuat, sebuah kualitas yang biasanya sulit ditemukan dalam proses
perekrutan karyawan. Itu sangat tergantung dari jawaban yang Anda berikan pada
pertanyaan: "Apakah Anda termotivasi oleh faktor ekstrinsik atau oleh apa
yang Anda lakukan?" kata Cobb. "Apakah Anda bangga dengan
sikap rajin Anda dalam pekerjaan, atau pekerjaan itu Anda lakukan hanya karena
Anda dibayar?" (Bersambung)
Diterjemahkan bebas oleh Heronimus Maryono dari Oficina sin jefe: ¿UtopĂa o caos? di http://www.wharton.universia.net.
0 comments:
Post a Comment
Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda