Dalam
apa yang disebut "the
patent trial of the century ", sidang paten abad ini, dewan
juri federal di California beberapa waktu lalu memutuskan memenangkan Apple
dalam gugatan pelanggaran paten terhadap Samsung. Selain kerugian Apple senilai
lebih dari 1 miliar dolar AS dalam kerusakan, juri juga menemukan bahwa Samsung telah melanggar
penggunaan iPhone dan desain paten saat menciptakan ponsel Galaxy S II dan
Fascinate.
Setelah vonis itu, Apple meminta
agar delapan model ponsel Samsung dilarang penjualannya di AS. Sidang mengenai hal itu telah dijadwalkan
bulan Desember 2012. Samsung akan mengajukan banding atas vonis tersebut.
Banyak pengamat percaya bahwa vonis Jumat itu akan bisa membuka pintu untuk
Apple menggugat perusahaan-perusahaan lain—termasuk Google, yang membuat sistem
operasi Android yang digunakan di ponsel dan tablet Samsung.
Pemenang
yang Sebenarnya?
Menurut David Hsu, dosen
manajemen Wharton, Apple-lah pemenang dalam kasus ini, dan pembuat perangkat
sistem Android adalah orang-orang yang akan berebut dan mencoba mencari tahu di
bidang apa mereka akan harus retrofit,
atau bahkan mendesain ulang produk mereka . Tentu saja, Google adalah salah
satu perusahaan yang mengintai di balik ‘pertarungan’ itu—tidak diserang secara
langsung, tapi semakin dekat [pada dampak langsungnya].
Interpretasi David tentang mengapa
kepemimpinan Apple begitu bersikeras mengejar kasus ini sampai akhir adalah
karena mereka merasa yakin bahwa elemen desain dalam hubungannya dengan
unsur-unsur fungsional produk mereka, benar-benar menciptakan pengalaman tersendiri
dalam diri pengguna, dan mereka ingin melindungi itu. Akibatnya, pihak-pihak seperti
Samsung, HTC, Motorola Mobility (miliki Google) dan pembuat handset besar lainnya dengan platform Android adalah pihak-pihak yang
akan mencoba mencari tahu langkah berikutnya dan diam-diam bersiap juga
‘berperang’.
Bagi Hsu, mungkin benar bahwa kasus
ini akan membuka lanskap persaingan melampaui sekadar hal fungsional. Mungkin ini
momentum tepat bagi semua untuk menengok ke belakang dan menganalisis paten-paten
yang ada di bawah sengketa. Sejumlah pihak dalam kasus itu berada di posisi
desain, sehingga tidak melindungi inovasi fungsi, melainkan kemasannya. Dan
beberapa pihak lain tidak masuk ke inti dari sistem operasi, tetapi ke beberapa
aspek yang lebih berorientasi ke desain, seperti fitur-fitur [di mana laman
yang dilihat pada sistem operasi Apple IOS "bounce
back" di tempatnya saat pengguna mencapai bagian
atas atau bawah] atau pengaturan ikon di kisi-kisinya.
Hsu menafsirkan
itu sebagai penguatan atas desain terkait sebuah paten. Sebelum itu, sudah
merupakan masalah misalnya, jika Anda seorang desainer furnitur menciptakan desain
produk inovatif, lalu tidak menghentikan pesaing yang datang dan memasarkan kursi
"yang mirip Eames ", sekalipun mereka jelas itu bukan produk asli.
Kasus Apple vs Samsung menunjukkan bahwa tampaknya perlu ada suatu perluasan
perlindungan elemen desain. Jadi, perlu adanya perluasan lanskap untuk bagaimana perusahaan-perusahaan—termasuk
perusahaan elektronik atau desain fashion—melindungi
upaya kreatif dan kekayaan intelektual mereka.
Untuk para
kompetitor langsung di ruang handset,
implikasinya akan bermain dalam hal perolehan hak paten, seperti yang telah
kita lihat selama lebih dari dua tahun terakhir ini. Telah ada banyak
kepentingan mencoba mendapatkan "portofolio paten" yang ada di
sekitar smartphone. Jelas, smartphone akan menjadi pisau Swiss Army
abad ke-21—dari yang sudah ada, dan menjadi lebih dari itu. Alhasil, ada semacam
pengambilan lahan berbagai jenis unsur paten dalam kekayaan intelektual yang
mendasari platform tersebut.
Jadi,
kasus ini akan memperluas lanskap sebuah kompetisi. Ini dapat membuka sedikit lebih
terbuka lanskap itu. Nokia dan Microsoft jelas memiliki sistem operasi sendiri
untuk hardware smartphone, dan mereka
mungkin semacam menunggu di tepi untuk itu. Tapi cukup jelas di sini bahwa
kompetisi yang dominan, setidaknya sekarang, Android versus sistem operasi
Apple. Jadi karena itulah kasus itu sampai dijuluki sebagai "pengadilan paten
abad ini”, karena dua produsen besar akan berhadap-hadapan dalam ‘pertarungan’
ini.
Momentum
untuk Nokia dan Microsoft?
Menanggapi masalah Samsung yang
menggeser pasar ponsel Apple beberapa bulan ini, dan terkait dengan tergusurnya
popularitas Nokia dan Microsoft oleh dua raksasa pasar gadget itu, menurut Hsu, kasus
Apple vs Samsung ini tidak akan mengonfigurasi ulang secara radikal lanskap
persaingan. Apa pasal? Karena pada jenis platform ini—yang berorientasi
pada ruang kompetisi, ada kecenderungan titik kritis. Dan harus ada cukup massa
pengguna yang kritis, sebuah komunitas pengembang dan dukungan dari perusahaan
untuk benar-benar mengaktifkan massa yang kritis, karena orang sekarang ini tidak
selalu hanya melihat fungsi: mereka mencoba mengantisipasi fungsi berjalan
sebagai mana mereka putuskan, untuk mengadopsi satu platform atau yang lain.
Bagi Hsu,
akan ada keharusan redesign sebagai
akibat dari kasus ini, tidak hanya di pasar smartphone,
tetapi juga di pasar tablet, di mana sistem operasinya secara alami berbagi
kode umum—apa yang kita akan lihat apakah sesuatu itu, mungkin lebih dari upaya
kreatif atau inovatif oleh produsen dari platform Android, agar bisa membedakan
diri.
Ini
artinya, dari peristiwa itu, menurut Hsu, ada kesempatan untuk Microsoft dan
Nokia mengambil keuntungan. Berhasil tidaknya mereka mengambil momentum itu,
semua tergantung dari mereka.
Dampaknya bagi Inovasi
Argumentasi dari kedua pihak dalam
kasus tersebut sebagai berikut. Di satu sisi, perusahaan seperti Apple, yang
menghabiskan bertahun-tahun datang dengan desain sempurna yang menarik bagi pengguna,
berusaha melindungi dan berusaha memblokade setiap upaya untuk menjiplak desain
mereka. Ini lebih dari sekadar nilai simbolis dari apa yang Apple lakukan,
meskipun hakim mendesak para CEO Samsung dan Apple mencoba menyelesaikan itu
secara kekeluargaan. Apple menolak sama sekali upaya perundingan yang demikian,
karena mereka ingin menegaskan dan memberi sinyal ke pasar
yang lebih luas tentang usaha mereka melindungi hak perusahaan.
Hsu berpikir
bahwa kita sedang menginjak garis sedikit dalam hal berapa banyak perlindungan
yang seharusnya kita (sebagai masyarakat) berikan kepada para inovator—dan kita
harus berpikir tentang inovasi yang artinya sangat luas, tidak hanya dalam
pengertian teknis, tapi juga ke arti desain—seimbang terhadap ekonomi pasar
bebas, di mana ada persaingan sehat yang dapat mengamati sinyal pasar, cobalah
untuk membangun di atas apa yang telah dilakukan dan pada dasarnya membuka
nilai lebih bagi konsumen.
Sebelum kasus
sekarang ini, bagi Hsu, paten-paten desain kala itu dianggap tidak cukup
efektif, tidak benar-benar bisa diaplikasikan. Paten-paten utilitas selalu
menjadi dominasi di banyak perusahaan, di mana mereka benar-benar mencoba
menjadi ofensif dan defensif dalam ruang paten. Inilah yang memberikan alasan
bagi perusahaan dan manajer agar mulai berpikir tentang desain sebagai dasar
perlindungan.
Dampak bagi Masyarakat dan Industri Kreatif
Peristiwa
itu menjadi aksi penyeimbang pasar. Iya tidaknya paten tertentu diperkuat
dengan peristiwa itu, jalan ini memberikan sinyal kuat ke seluruh pasar bahwa
hal ini perlu jadi perhatian karena ini hanyalah puncak gunung es. Ini baru
bicara salah satu sidang perkara. Apple dan Samsung punya kurang lebih 19 sampai
20 sidang perkara di seluruh dunia, setidaknya itu yang dijadwalkan. Tentu
saja, keputusan vonis terakhir belakangan ini akan berdampak pada bagaimana
Samsung harus menciptakan kembali produk mereka, serta orang lain yang
menggunakan sistem Android. Namun demikian, tetap saja akan ada banding atas keputusan
yang akan muncul, serta penilaian juri yang beragam lain, yang di dunia sangat
bervariasi tergantung situasi dan kondisi wilayah tertentu. Ini bukan awal,
tapi juga bukan akhir dari perang paten abad ini!
Menurut Hsu,
kasus ini justru akan menjadi ujian yang menarik bagi industri kreatif, bukan
hanya di pasar elektronik atau teknologi
informasi, tetapi juga untuk desain, fashion,
desain produk, industri desain—yang semua sekarang ini cenderung
konvergen dan semakin berbeda satu sama lain. Apple telah menunjukkan berulang kali bahwa pengguna
tidak hanya peduli tentang tenaga kuda teknis baku produk, tetapi juga
bagaimana mereka berinteraksi dengan itu. Maka, implikasi kasus ini bagi
komunitas desain dan perlindungannya menjadi sangat luas, hak paten itu tidak
hanya berkutat di ruang teknis. *** (Bersambung)
Versi pra edit artikel di Forum Manajemen Prasetiya Mulya, edisi Januari-Ferbuari 2013. Diolah Heronimus Maryono dari wawancara El Caso Apple-Samsung: Implicaciones para las patentes y para la innovacion, di http://www.wharton.universia.net.
0 comments:
Post a Comment
Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda