Thursday, June 13, 2013

Apple vs Samsung: Perang Inovasi Tiada Ujung (Bag.1)

Dalam apa yang disebut "the patent trial of the century ", sidang paten abad ini, dewan juri federal di California beberapa waktu lalu memutuskan memenangkan Apple dalam gugatan pelanggaran paten terhadap Samsung. Selain kerugian Apple senilai lebih dari 1 miliar dolar AS dalam kerusakan, juri juga  menemukan bahwa Samsung telah melanggar penggunaan iPhone dan desain paten saat menciptakan ponsel Galaxy S II dan Fascinate.

Setelah vonis itu, Apple meminta agar delapan model ponsel Samsung dilarang penjualannya di AS.  Sidang mengenai hal itu telah dijadwalkan bulan Desember 2012. Samsung akan mengajukan banding atas vonis tersebut. Banyak pengamat percaya bahwa vonis Jumat itu akan bisa membuka pintu untuk Apple menggugat perusahaan-perusahaan lain—termasuk Google, yang membuat sistem operasi Android yang digunakan di ponsel dan tablet Samsung.

Pemenang yang Sebenarnya?

Menurut David Hsu, dosen manajemen Wharton, Apple-lah pemenang dalam kasus ini, dan pembuat perangkat sistem Android adalah orang-orang yang akan berebut dan mencoba mencari tahu di bidang apa mereka akan harus retrofit, atau bahkan mendesain ulang produk mereka . Tentu saja, Google adalah salah satu perusahaan yang mengintai di balik ‘pertarungan’ itu—tidak diserang secara langsung, tapi semakin dekat [pada dampak langsungnya].

Interpretasi David tentang mengapa kepemimpinan Apple begitu bersikeras mengejar kasus ini sampai akhir adalah karena mereka merasa yakin bahwa elemen desain dalam hubungannya dengan unsur-unsur fungsional produk mereka, benar-benar menciptakan pengalaman tersendiri dalam diri pengguna, dan mereka ingin melindungi itu. Akibatnya, pihak-pihak seperti Samsung, HTC, Motorola Mobility (miliki Google) dan pembuat handset besar lainnya dengan platform Android adalah pihak-pihak yang akan mencoba mencari tahu langkah berikutnya dan diam-diam bersiap juga ‘berperang’.

Bagi Hsu, mungkin benar bahwa kasus ini akan membuka lanskap persaingan melampaui sekadar hal fungsional. Mungkin ini momentum tepat bagi semua untuk menengok ke belakang dan menganalisis paten-paten yang ada di bawah sengketa. Sejumlah pihak dalam kasus itu berada di posisi desain, sehingga tidak melindungi inovasi fungsi, melainkan kemasannya. Dan beberapa pihak lain tidak masuk ke inti dari sistem operasi, tetapi ke beberapa aspek yang lebih berorientasi ke desain, seperti fitur-fitur [di mana laman yang dilihat pada sistem operasi Apple IOS "bounce back"  di tempatnya saat pengguna mencapai bagian atas atau bawah] atau pengaturan ikon di kisi-kisinya.

Hsu menafsirkan itu sebagai penguatan atas desain terkait sebuah paten. Sebelum itu, sudah merupakan masalah misalnya, jika Anda seorang desainer furnitur menciptakan desain produk inovatif, lalu tidak menghentikan pesaing yang datang dan memasarkan kursi "yang mirip Eames ", sekalipun mereka jelas itu bukan produk asli. Kasus Apple vs Samsung menunjukkan bahwa tampaknya perlu ada suatu perluasan perlindungan elemen desain. Jadi, perlu adanya perluasan  lanskap untuk bagaimana perusahaan-perusahaan—termasuk perusahaan elektronik atau desain fashion—melindungi upaya kreatif dan kekayaan intelektual mereka.

Untuk para kompetitor langsung di ruang handset, implikasinya akan bermain dalam hal perolehan hak paten, seperti yang telah kita lihat selama lebih dari dua tahun terakhir ini. Telah ada banyak kepentingan mencoba mendapatkan "portofolio paten" yang ada di sekitar smartphone. Jelas, smartphone akan menjadi pisau Swiss Army abad ke-21—dari yang sudah ada, dan menjadi lebih dari itu. Alhasil, ada semacam pengambilan lahan berbagai jenis unsur paten dalam kekayaan intelektual yang mendasari platform tersebut.

Jadi, kasus ini akan memperluas lanskap sebuah kompetisi. Ini dapat membuka sedikit lebih terbuka lanskap itu. Nokia dan Microsoft jelas memiliki sistem operasi sendiri untuk hardware smartphone, dan mereka mungkin semacam menunggu di tepi untuk itu. Tapi cukup jelas di sini bahwa kompetisi yang dominan, setidaknya sekarang, Android versus sistem operasi Apple. Jadi karena itulah kasus itu sampai dijuluki sebagai "pengadilan paten abad ini”, karena dua produsen besar akan berhadap-hadapan dalam ‘pertarungan’ ini.

Momentum untuk Nokia dan Microsoft?

Menanggapi masalah Samsung yang menggeser pasar ponsel Apple beberapa bulan ini, dan terkait dengan tergusurnya popularitas Nokia dan Microsoft oleh dua raksasa pasar gadget  itu, menurut Hsu, kasus Apple vs Samsung ini tidak akan mengonfigurasi ulang secara radikal lanskap persaingan. Apa pasal? Karena pada jenis platform ini—yang berorientasi pada ruang kompetisi, ada kecenderungan titik kritis. Dan harus ada cukup massa pengguna yang kritis, sebuah komunitas pengembang dan dukungan dari perusahaan untuk benar-benar mengaktifkan massa yang kritis, karena orang sekarang ini tidak selalu hanya melihat fungsi: mereka mencoba mengantisipasi fungsi berjalan sebagai mana mereka putuskan, untuk mengadopsi satu platform atau yang lain.

Bagi Hsu, akan ada keharusan redesign sebagai akibat dari kasus ini, tidak hanya di pasar smartphone, tetapi juga di pasar tablet, di mana sistem operasinya secara alami berbagi kode umum—apa yang kita akan lihat apakah sesuatu itu, mungkin lebih dari upaya kreatif atau inovatif oleh produsen dari platform Android, agar bisa membedakan diri.

Ini artinya, dari peristiwa itu, menurut Hsu, ada kesempatan untuk Microsoft dan Nokia mengambil keuntungan. Berhasil tidaknya mereka mengambil momentum itu, semua tergantung dari mereka.

Dampaknya bagi Inovasi

Argumentasi dari kedua pihak dalam kasus tersebut sebagai berikut. Di satu sisi, perusahaan seperti Apple, yang menghabiskan bertahun-tahun datang dengan desain sempurna yang menarik bagi pengguna, berusaha melindungi dan berusaha memblokade setiap upaya untuk menjiplak desain mereka. Ini lebih dari sekadar nilai simbolis dari apa yang Apple lakukan, meskipun hakim mendesak para CEO Samsung dan Apple mencoba menyelesaikan itu secara kekeluargaan. Apple menolak sama sekali upaya perundingan yang demikian, karena mereka ingin menegaskan dan memberi sinyal ke   pasar yang lebih luas tentang usaha mereka melindungi hak perusahaan.

Memang benar, demikian menurut Hsu, bahwa tim Samsung mencoba membuat argumen yang harus benar-benar menjadikan kasus itu sekadar kasus casing ponsel, tentang sudut-sudut membulat pada bentuk persegi panjang dan jarak antara ikon di grid yang perlu dilindungi di ponsel mereka. Kita harus ingat, bahwa ada perbedaan antara desain paten dan utilitas paten. Utilitas paten terkait dengan fungsi telepon, desain paten hanya tentang elemen non-fungsional. Unsur-unsur ini muncul sebagai satu paket untuk konsumen.

Hsu berpikir bahwa kita sedang menginjak garis sedikit dalam hal berapa banyak perlindungan yang seharusnya kita (sebagai masyarakat) berikan kepada para inovator—dan kita harus berpikir tentang inovasi yang artinya sangat luas, tidak hanya dalam pengertian teknis, tapi juga ke arti desain—seimbang terhadap ekonomi pasar bebas, di mana ada persaingan sehat yang dapat mengamati sinyal pasar, cobalah untuk membangun di atas apa yang telah dilakukan dan pada dasarnya membuka nilai lebih bagi konsumen.

Sebelum kasus sekarang ini, bagi Hsu, paten-paten desain kala itu dianggap tidak cukup efektif, tidak benar-benar bisa diaplikasikan. Paten-paten utilitas selalu menjadi dominasi di banyak perusahaan, di mana mereka benar-benar mencoba menjadi ofensif dan defensif dalam ruang paten. Inilah yang memberikan alasan bagi perusahaan dan manajer agar mulai berpikir tentang desain sebagai dasar perlindungan.

Dampak bagi Masyarakat dan Industri Kreatif

Peristiwa itu menjadi aksi penyeimbang pasar. Iya tidaknya paten tertentu diperkuat dengan peristiwa itu, jalan ini memberikan sinyal kuat ke seluruh pasar bahwa hal ini perlu jadi perhatian karena ini hanyalah puncak gunung es. Ini baru bicara salah satu sidang perkara. Apple dan Samsung punya kurang lebih 19 sampai 20 sidang perkara di seluruh dunia, setidaknya itu yang dijadwalkan. Tentu saja, keputusan vonis terakhir belakangan ini akan berdampak pada bagaimana Samsung harus menciptakan kembali produk mereka, serta orang lain yang menggunakan sistem Android. Namun demikian, tetap saja akan ada banding atas keputusan yang akan muncul, serta penilaian juri yang beragam lain, yang di dunia sangat bervariasi tergantung situasi dan kondisi wilayah tertentu. Ini bukan awal, tapi juga bukan akhir dari perang paten abad ini!


Menurut Hsu, kasus ini justru akan menjadi ujian yang menarik bagi industri kreatif, bukan hanya  di pasar elektronik atau teknologi informasi, tetapi juga untuk desain, fashion, desain produk, industri   desain—yang semua sekarang ini cenderung konvergen dan semakin berbeda satu sama lain. Apple  telah menunjukkan berulang kali bahwa pengguna tidak hanya peduli tentang tenaga kuda teknis baku produk, tetapi juga bagaimana mereka berinteraksi dengan itu. Maka, implikasi kasus ini bagi komunitas desain dan perlindungannya menjadi sangat luas, hak paten itu tidak hanya berkutat di ruang teknis. *** (Bersambung)

Versi pra edit artikel di Forum Manajemen Prasetiya Mulya, edisi Januari-Ferbuari 2013. Diolah Heronimus Maryono dari wawancara El Caso Apple-Samsung: Implicaciones para las patentes y para la innovacion, di http://www.wharton.universia.net

0 comments:

Post a Comment

Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda