Thursday, June 13, 2013

Skandal LIBOR: Apa Sih yang 'Sebenernya' Terjadi? (Bag.2-Selesai)

Perubahan Kecil, Keuntungan Mayor

Yang terpenting dari pinjaman konsumen adalah penggunaan LIBOR untuk pendapatan tetap kontrak derivatif, kata Roussanov. Yang paling umum adalah suku bunga swap, di mana satu dari bagiannya adalah membayar dengan rutin ke pihak lain, sedangkan pihak kedua melakukan pembayaran mengambang ke pihak pertama berbasis LIBOR.  Swap berguna antara lain untuk  mengelola paparan investor terhadap perubahan tingkat suku bunga.

Dengan swap, masing-masing pihak bertaruh berdasarkan pada hubungan suku bunga tetap dan mengambang. Jika LIBOR tidak menjadi nilai yang seharusnya, beberapa pedagang akan untung dari yang seharusnya, orang lain yang kurang. Pada akhir 2011, nilai kontrak swap yang beredar mendekati  sekitar 18 triliun dolar AS, katat Roussanov.

Penyidik pemerintah juga mencari bukti keterlibatan beberapa bank yang bermain dengan LIBOR untuk meningkatkan keuntungan pada kontrak tertentu, sebab perubahan sangat kecil dalam LIBOR bisa bernilai jutaan dolar pada posisi-posisi yang besar.

Di sebagian besar waktu, harga LIBOR bergerak secara bersamaan dengan tingkat suku bunga lain yang lebih mudah untuk diverifikasi, yang artinya menunjukkan LIBOR memang akurat mencerminkan naik turunnya suku bunga yang berlaku. Tapi kadang-kadang keterkaitan ini berubah, hal mana bisa membuat kita bertanya-tanya. Awal tahun 2007, kesenjangan antara tingkat LIBOR dan suku bungan pasar—suku bunga seperti Fed Fund—mulai melebar, suatu perkembangan yang mengkhawatirkan yang lalu memburuk pada tahun 2008, kata Siegel. "Saya terkejut oleh kenaikan tingkat suku bunga yang meninggi itu, yang tentu berimbas pada  peminjam."

Menurut catatan Siegel, tingkat suku bunga LIBOR naik setelah Lehman Brothers bangkrut tahun 2007, sedemikian rupa sehingga mencerminkan kekhawatiran tentang kesehatan keuangan antar bank, yang mempunyai hubungan pinjaman satu sama lain, sementara itu volume pinjaman menurun drastis. Setelah itu prosesnya berbalik, LIBOR jatuh ke titik persentase bawah, sebanding dengan hutang pada Departemen Keuangan AS, membalikkan hubungan yang biasa terjadi.

"Para analis menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan," kenang Herring. Meski tingkat suku bunga lain relative lebih rendah dari LIBOR—yang memberi tanda pada para pemimjam bahwa bank-bank tertentu relatif aman, suku bunga lain yang diatur oleh pasar, seperti  Overnight Index Swap Rate, menunjukkan hal yang justru sebaliknya. Di tengah krisis keuangan terburuk sejak Depresi Besar, dengan pasar kredit yang beku, kala itu terasa tidak mungkin  percaya bahwa bank-bank itu saling memberikan kreditnya satu sama lain dengan suku bunga yang yang wajar. "Ini mungkin adalah contoh yang baik dari Hukum Goodhart: kita selalu memberikan prioritas pada tingkat suku bunga yang politis tujuannya, yang artinya kiat perlu menyiapkan insentif untuk memanipulasinya," catatan Herring.
Setelah Lehman, peneliti mulai menggali ke dalam sistem aturan LIBOR. 

"Kecurigaan muncul pada beberapa bank yang mengalami kesulitan pendanaan sendiri di pasar mencoba untuk menyamarkan kesulitan mereka, dengan mengutip tingkat suku bunga yang jauh lebih rendah dari kewajiban mereka membayar, dengan demikian akan memperoleh pinjaman dari para debitur," kata Herring.

Selain dari usaha pencitraan itu, peneliti mulai mencurigai motif lain. "Saat menganalisa tuduhan bahwa sejumlah bank mengecilkan tarif mereka, para penyidik menemukan email yang menunjukkan bahwa setidaknya satu bank berusaha memanipulasi LIBOR untuk meningkatkan labanya pada tanggal refinansiasi hutang-hutang mereka, dalam likuidasi transaksi berjangka eurodolar dan swap yang berdasarkan LIBOR."Goldstein menunjukkan bahwa sejumlah bank memiliki segala macam kontrak yang bergantung pada LIBOR, dan menurunkan tingkat suku bunga yang dapat meningkatkan keuntungan mereka." Memanipulasi nilai untuk meningkatkan penghasilan jelas-jelas adalah penipuan.

Mencari Jalan Lain

Membanjirnya berita baru-baru ini yang menunjukkan bahwa sejumlah bank terbesar dunia memanipulasi tingkat LIBOR, dan bahwa regulator finansial sebenarnya tahu dengan apa yang terjadi tetapi sedikit bertindak, kemungkinan besar juga karena punya motif ingin menopang kepercayaan pada bank-bank di tengah krisis keuangan global saat ini. "Ada semacam ironi aneh dalam semua ini," kata Zandi, yang mencatat bahwa sepertinya saat itu benar-benar penting meningkatkan kepercayaan bank selama krisis. "Ini benar-benar memalukan, namun, di sisi lain, [laju pemangkasan] mungkin telah membantu mencegah krisis yang lebih buruk."

"Saya tak bisa melihat alasan mengapa mereka menolerir manipulasi tingkat suku bunga untuk keuntungan bank tertentu pada transaksi tertentu," kata Herring terkair dengan para regulator keuangan. "Kekhawatiran mereka terkait dengan kepercayaan secara keseluruhan dalam sistem perbankan saat  krisis, bagaimanapun, membuat masuk akal bahwa regulator senang melihat penurunan LIBOR dan mungkin menjadikan mereka tidak tergoda untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat menyelidik."

Menurut Schwarz, para regulator punya banyak hal lain yang membuat mereka berpikir tentang apa yag terjadi saat itu dan "mungkin juga tidak berpikir bahwa ini adalah masalah yang paling mendesak diatasi. Apalagi, regulator tidak memiliki alat yang mudah untuk mengatasi masalah  ini. Sulit membayangkan jika para regulator dari AS bisa melakukan tindakan serta merta (real time) untuk menangani kasus ini, sedangkan tingkat suku bunga itu diproduksi di London. "
Namun demikian, bagaimanapun, kasus ini bukan tidak merusak, sehingga tidak bisa tidak harus disebut sebagai pelanggaran. Peminjam seperti pemilik rumah, misalnya, memang akan diuntungkan jika LIBOR artifisial rendah, karena berimbas pada pembayaran mereka yang di bawah dari yang seharusnya. Tapi, bila itu terjadi artinya mengorbankan kreditur dan pemegang saham mereka. "Kalau mereka membayar dengan tingkat suku bunga yang salah, itu jelas tidak adil untuk pihak manapun," kata Siegel.

Karena perubahan dalam LIBOR juga mengatur pengembalian berbagai jenis investasi, jelas bahwa dana pensiun, reksadana, kota dan investor-investor lain kemungkinan besar juga dirugikan. Serangkaian tuntutan hukum telah diajukan oleh para investor dan, meskipun kasus ini  mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun dalam penyelesaiannya, beberapa analis memprediksi bank-bank besar itu akan membayar miliaran dolar karena kerugian-kerugian itu, yang ujung-ujungnya tidak akan menyenangkan para pemegang saham mereka.

Resiko lain lain, kata Herring, adalah kepercayaan masyarakat pada bank-bank besar itu. Industri perbankan telah berusaha menghambat regulasi yang lebih jujur menyusul krisis keuangan, ini akan berakibat ketidakpercayaan publik justru bisa memperparah. Selain skandal LIBOR, masyarakat juga telah dibombardir dengan berita tentang kerugian jutaan dolar AS para multi-milioner dalam negosiasi dengan JPMorgan Chase, di samping tuduhan bahwa para penasehat keuangan bank mengarahkan para investor untuk menginvestasikan reksa dana tipe house-brand (di mana perusahaan yang mengomersilkan dana adalah juga miliknya), yang performansinya  lebih buruk daripada reksadana para pesaingnya. Bagi para kritikus perbankan, kasus LIBOR hanyalah salah satu bukti bahwa bank memang tidak bisa lagi dipercaya dan perlu pengawasan ketat dan pembatasan.
LIBOR, bahkan, bisa menjadi faktor penting dalam kampanye presiden AS, seperti Partai Republik Mitt Romney yang ingin mencabut reformasi hukum Dodd-Frank yang telah disahkan, dengan dukungan Presiden Obama, setelah krisis. Dalam kenyataannya, ada sedikit saja dalam reformasi Dodd-Frank yang berlaku untuk kasus LIBOR, kata Schwarz. Ia berharap skandal LIBOR memperkuat mereka untuk menerapkan peraturan secara lebih ketat. "Ini tampaknya memiliki efek yang lebih kuat di Inggris daripada di Amerika," katanya. "Karena LIBOR diproduksi di London, maka regulasi yang paling penting ada di Inggris. Untuk saat ini, regulator Inggris tidak memiliki otoritas pengawas langsung atas LIBOR, tapi saya berharap itu akan berubah."

Regulasi pasar keuangan itu seringkali memang hal yang sangat peka dan rumit, tambah Goldstein. "Ketika bankir tidak punya larangan-larangan pada aksi-aksinya, maka pasti mereka melakukan apa pun yang melayani kepentingan mereka. Bila mereka ingin Anda tidak melakukan aturan tertentu, dan tidak menempatkan sistem risiko, jelas pasti justru ada lebih banyak regulasi dan batasan-batasan. Namun tidak harus bersikap ekstrim yang sebaliknya dengan menyerahkan sepenuhnya control keuangan kepadan pemerintah.”

Memilih Patokan Lain

Di masa datang, pertanyaan kunci muncul. Apakah dengan demikian LIBOR harus diganti dengan patokan lain yang tidak rentan dimanipulasi. Walaupun demikian, LIBOR sudah begitu tertanam dalam sistem keuangan dunia, sehingga tidak mungkin menghilangkan penggunaannya dalam semalam. Selain itu, kata Herring, LIBOR tergolong unik sehubungan dengan berbagai persyaratan yang ditawarkan, dari sehari sampai satu tahun.

Herring mencatat bahwa yang bertanggung jawab memperhatikan tingkat suku bunga seharusnya bertanya kepada bank-bank yang bersangkutan pada tingkat bunga mana mereka mau meminjamkan dananya, daripada membayangkanya saja. "Ini akan mengurangi insentif untuk memanipulasi." Alternatif lain, ia menambahkan, menggunakan tarif transaksi yang sebenarnya, seperti yang pada tingkat suku bunga Overnight Index Swap, nilai tagihan AS Treasury, atau sesuatu yang lain. Tingkat suku bunga ini akan lebih sulit dimanipulasi, namun saat ini belum menawarkan berbagai aplikasi sepertil pada LIBOR.

"Mengingat skandal ini, saya pikir kita harus mempertimbangkan kembali bagaimana seluruh  instrumen utang itu adalah tetap," kata Zandi. "Mengapa tidak mendasari harga dari sesuatu seperti tingkat suku bunga Federal Funds, atau suku bunga cadangan, atau sesuatu yang kita tahu pasti adalah akurat?"
Schwarz, yang pernah bekerja di meja pasar uang Federal Reserve Bank New York, yakin akan  adanya pilihan lain jika yang berperan di pasar sepakat bahwa LIBOR terlalu tercemar untuk diselamatkan. "Yang paling jelas adalah dengan menggunakan tingkat yang didasarkan pada transaksi aktual," katanya. "Itu sudah diterapkan pada suku bunga dasar efektif  Federal, yang diterbitkan oleh Federal Reserve Bank New York. Ini bahkan dilakukan untuk transaksi eurodollar berbasis di New York, disebut NYFR. Saya tak bisa melihat alasan mengapa hal ini tidak bisa diatur dengan cukup cepat. "*** (Heronimus Maryono)


Diterjemahkan dari El escándalo del LIBOR: ¿Qué sucedió y qué se puede esperar?, di http://www.wharton.universia.net/

0 comments:

Post a Comment

Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda