Perubahan Kecil,
Keuntungan Mayor
Yang
terpenting dari pinjaman konsumen adalah penggunaan LIBOR untuk pendapatan
tetap kontrak derivatif, kata Roussanov. Yang paling umum adalah suku bunga swap, di mana satu dari bagiannya adalah
membayar dengan rutin ke pihak lain, sedangkan pihak kedua melakukan pembayaran
mengambang ke pihak pertama berbasis LIBOR. Swap
berguna antara lain untuk mengelola
paparan investor terhadap perubahan tingkat suku bunga.
Dengan
swap, masing-masing pihak bertaruh
berdasarkan pada hubungan suku bunga tetap dan mengambang. Jika LIBOR tidak
menjadi nilai yang seharusnya, beberapa pedagang akan untung dari yang
seharusnya, orang lain yang kurang. Pada akhir 2011, nilai kontrak swap yang beredar mendekati sekitar 18 triliun dolar AS, katat Roussanov.
Penyidik
pemerintah juga mencari bukti keterlibatan beberapa bank yang bermain dengan
LIBOR untuk meningkatkan keuntungan pada kontrak tertentu, sebab perubahan
sangat kecil dalam LIBOR bisa bernilai jutaan dolar pada posisi-posisi yang
besar.
Di
sebagian besar waktu, harga LIBOR bergerak secara bersamaan dengan tingkat suku
bunga lain yang lebih mudah untuk diverifikasi, yang artinya menunjukkan LIBOR
memang akurat mencerminkan naik turunnya suku bunga yang berlaku. Tapi
kadang-kadang keterkaitan ini berubah, hal mana bisa membuat kita
bertanya-tanya. Awal tahun 2007, kesenjangan antara tingkat LIBOR dan suku
bungan pasar—suku bunga seperti Fed Fund—mulai melebar, suatu perkembangan yang
mengkhawatirkan yang lalu memburuk pada tahun 2008, kata Siegel. "Saya
terkejut oleh kenaikan tingkat suku bunga yang meninggi itu, yang tentu
berimbas pada peminjam."
Menurut
catatan Siegel, tingkat suku bunga LIBOR naik setelah Lehman Brothers bangkrut
tahun 2007, sedemikian rupa sehingga mencerminkan kekhawatiran tentang
kesehatan keuangan antar bank, yang mempunyai hubungan pinjaman satu sama lain,
sementara itu volume pinjaman menurun drastis. Setelah itu prosesnya berbalik,
LIBOR jatuh ke titik persentase bawah, sebanding dengan hutang pada Departemen
Keuangan AS, membalikkan hubungan yang biasa terjadi.
"Para
analis menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan," kenang Herring. Meski
tingkat suku bunga lain relative lebih rendah dari LIBOR—yang memberi tanda pada
para pemimjam bahwa bank-bank tertentu relatif aman, suku bunga lain yang diatur
oleh pasar, seperti Overnight Index Swap
Rate, menunjukkan hal yang justru sebaliknya. Di tengah krisis keuangan terburuk
sejak Depresi Besar, dengan pasar kredit yang beku, kala itu terasa tidak
mungkin percaya bahwa bank-bank itu
saling memberikan kreditnya satu sama lain dengan suku bunga yang yang wajar.
"Ini mungkin adalah contoh yang baik dari Hukum Goodhart: kita selalu
memberikan prioritas pada tingkat suku bunga yang politis tujuannya, yang
artinya kiat perlu menyiapkan insentif untuk memanipulasinya," catatan
Herring.
Setelah
Lehman, peneliti mulai menggali ke dalam sistem aturan LIBOR.
"Kecurigaan muncul
pada beberapa bank yang mengalami kesulitan pendanaan sendiri di pasar mencoba
untuk menyamarkan kesulitan mereka, dengan mengutip tingkat suku bunga yang jauh
lebih rendah dari kewajiban mereka membayar, dengan demikian akan memperoleh pinjaman
dari para debitur," kata Herring.
Selain dari usaha pencitraan itu, peneliti
mulai mencurigai motif lain. "Saat menganalisa tuduhan bahwa sejumlah bank
mengecilkan tarif mereka, para penyidik menemukan email yang menunjukkan bahwa
setidaknya satu bank berusaha memanipulasi LIBOR untuk meningkatkan labanya
pada tanggal refinansiasi hutang-hutang mereka, dalam likuidasi transaksi
berjangka eurodolar dan swap yang berdasarkan
LIBOR."Goldstein menunjukkan bahwa sejumlah bank memiliki segala macam
kontrak yang bergantung pada LIBOR, dan menurunkan tingkat suku bunga yang dapat
meningkatkan keuntungan mereka." Memanipulasi nilai untuk meningkatkan
penghasilan jelas-jelas adalah penipuan.
Mencari Jalan Lain
Membanjirnya berita baru-baru ini yang menunjukkan
bahwa sejumlah bank terbesar dunia memanipulasi tingkat LIBOR, dan bahwa
regulator finansial sebenarnya tahu dengan apa yang terjadi tetapi sedikit
bertindak, kemungkinan besar juga karena punya motif ingin menopang kepercayaan
pada bank-bank di tengah krisis keuangan global saat ini. "Ada semacam
ironi aneh dalam semua ini," kata Zandi, yang mencatat bahwa sepertinya
saat itu benar-benar penting meningkatkan kepercayaan bank selama krisis.
"Ini benar-benar memalukan, namun, di sisi lain, [laju pemangkasan]
mungkin telah membantu mencegah krisis yang lebih buruk."
"Saya tak bisa melihat alasan mengapa
mereka menolerir manipulasi tingkat suku bunga untuk keuntungan bank tertentu pada
transaksi tertentu," kata Herring terkair dengan para regulator keuangan.
"Kekhawatiran mereka terkait dengan kepercayaan secara keseluruhan dalam
sistem perbankan saat krisis,
bagaimanapun, membuat masuk akal bahwa regulator senang melihat penurunan LIBOR
dan mungkin menjadikan mereka tidak tergoda untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang sangat menyelidik."
Menurut Schwarz, para regulator punya banyak
hal lain yang membuat mereka berpikir tentang apa yag terjadi saat itu dan
"mungkin juga tidak berpikir bahwa ini adalah masalah yang paling mendesak
diatasi. Apalagi, regulator tidak memiliki alat yang mudah untuk mengatasi masalah
ini. Sulit membayangkan jika para regulator
dari AS bisa melakukan tindakan serta merta (real time) untuk menangani kasus ini, sedangkan tingkat suku bunga
itu diproduksi di London. "
Namun demikian, bagaimanapun, kasus ini bukan
tidak merusak, sehingga tidak bisa tidak harus disebut sebagai pelanggaran.
Peminjam seperti pemilik rumah, misalnya, memang akan diuntungkan jika LIBOR
artifisial rendah, karena berimbas pada pembayaran mereka yang di bawah dari
yang seharusnya. Tapi, bila itu terjadi artinya mengorbankan kreditur dan
pemegang saham mereka. "Kalau mereka membayar dengan tingkat suku bunga yang
salah, itu jelas tidak adil untuk pihak manapun," kata Siegel.
Karena perubahan dalam LIBOR juga mengatur
pengembalian berbagai jenis investasi, jelas bahwa dana pensiun, reksadana,
kota dan investor-investor lain kemungkinan besar juga dirugikan. Serangkaian
tuntutan hukum telah diajukan oleh para investor dan, meskipun kasus ini mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun dalam
penyelesaiannya, beberapa analis memprediksi bank-bank besar itu akan membayar
miliaran dolar karena kerugian-kerugian itu, yang ujung-ujungnya tidak akan
menyenangkan para pemegang saham mereka.
Resiko
lain lain, kata Herring, adalah kepercayaan masyarakat pada bank-bank besar itu.
Industri perbankan telah berusaha menghambat regulasi yang lebih jujur menyusul
krisis keuangan, ini akan berakibat ketidakpercayaan publik justru bisa memperparah.
Selain skandal LIBOR, masyarakat juga telah dibombardir dengan berita tentang kerugian
jutaan dolar AS para multi-milioner dalam negosiasi dengan JPMorgan Chase, di
samping tuduhan bahwa para penasehat keuangan bank mengarahkan para investor untuk
menginvestasikan reksa dana tipe house-brand
(di mana perusahaan yang mengomersilkan dana adalah juga miliknya), yang performansinya
lebih buruk daripada reksadana para pesaingnya.
Bagi para kritikus perbankan, kasus LIBOR hanyalah salah satu bukti bahwa bank memang
tidak bisa lagi dipercaya dan perlu pengawasan ketat dan pembatasan.
LIBOR,
bahkan, bisa menjadi faktor penting dalam kampanye presiden AS, seperti Partai
Republik Mitt Romney yang ingin mencabut reformasi hukum Dodd-Frank yang telah disahkan,
dengan dukungan Presiden Obama, setelah krisis. Dalam kenyataannya, ada sedikit
saja dalam reformasi Dodd-Frank yang berlaku untuk kasus LIBOR, kata Schwarz.
Ia berharap skandal LIBOR memperkuat mereka untuk menerapkan peraturan secara
lebih ketat. "Ini tampaknya memiliki efek yang lebih kuat di Inggris
daripada di Amerika," katanya. "Karena LIBOR diproduksi di London, maka
regulasi yang paling penting ada di Inggris. Untuk saat ini, regulator Inggris
tidak memiliki otoritas pengawas langsung atas LIBOR, tapi saya berharap itu
akan berubah."
Regulasi
pasar keuangan itu seringkali memang hal yang sangat peka dan rumit, tambah
Goldstein. "Ketika bankir tidak punya larangan-larangan pada aksi-aksinya,
maka pasti mereka melakukan apa pun yang melayani kepentingan mereka. Bila mereka ingin Anda tidak melakukan aturan tertentu, dan tidak
menempatkan sistem risiko, jelas pasti justru ada lebih banyak regulasi dan
batasan-batasan. Namun tidak harus bersikap ekstrim yang sebaliknya dengan
menyerahkan sepenuhnya control keuangan kepadan pemerintah.”
Memilih Patokan Lain
Di masa datang, pertanyaan kunci muncul. Apakah
dengan demikian LIBOR harus diganti dengan patokan lain yang tidak rentan dimanipulasi.
Walaupun demikian, LIBOR sudah begitu tertanam dalam sistem keuangan dunia,
sehingga tidak mungkin menghilangkan penggunaannya dalam semalam. Selain itu,
kata Herring, LIBOR tergolong unik sehubungan dengan berbagai persyaratan yang
ditawarkan, dari sehari sampai satu tahun.
Herring mencatat bahwa yang bertanggung jawab
memperhatikan tingkat suku bunga seharusnya bertanya kepada bank-bank yang
bersangkutan pada tingkat bunga mana mereka mau meminjamkan dananya, daripada membayangkanya
saja. "Ini akan mengurangi insentif untuk memanipulasi." Alternatif
lain, ia menambahkan, menggunakan tarif transaksi yang sebenarnya, seperti yang
pada tingkat suku bunga Overnight Index Swap, nilai tagihan AS Treasury, atau
sesuatu yang lain. Tingkat suku bunga ini akan lebih sulit dimanipulasi, namun
saat ini belum menawarkan berbagai aplikasi sepertil pada LIBOR.
"Mengingat skandal ini, saya pikir kita
harus mempertimbangkan kembali bagaimana seluruh instrumen utang itu adalah tetap," kata
Zandi. "Mengapa tidak mendasari harga dari sesuatu seperti tingkat suku
bunga Federal Funds, atau suku bunga cadangan, atau sesuatu yang kita tahu
pasti adalah akurat?"
Schwarz, yang pernah bekerja di meja pasar uang
Federal Reserve Bank New York, yakin akan adanya pilihan lain jika yang berperan di
pasar sepakat bahwa LIBOR terlalu tercemar untuk diselamatkan. "Yang paling
jelas adalah dengan menggunakan tingkat yang didasarkan pada transaksi
aktual," katanya. "Itu sudah diterapkan pada suku bunga dasar
efektif Federal, yang diterbitkan oleh
Federal Reserve Bank New York. Ini bahkan dilakukan untuk transaksi eurodollar
berbasis di New York, disebut NYFR. Saya tak bisa melihat alasan mengapa hal
ini tidak bisa diatur dengan cukup cepat. "*** (Heronimus Maryono)
Diterjemahkan dari El escándalo
del LIBOR: ¿Qué sucedió y qué se puede esperar?, di http://www.wharton.universia.net/
0 comments:
Post a Comment
Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda