Thursday, June 14, 2012

Dewan Direksi Era Facebook (1)

Facebook sedang dan terus membuat sebuah revolusi sosial dewasa ini. Dan revolusi itu hampir niscaya merasuk pada sendi-sendi penting perusahaan di mana pun.

Sejak pengumuman penawarannya ke publik 1 Februari lalu, Facebook menjadi pusat perhatian. Pendapatan Silicon Valley 1 miliar dolar AS (per tahun) menakjubkan. Bersama dengan LinkedIn, GroupOn dan Twitter, Facebook lagi-lagi mengingatkan kita akan pengaruh dramatis dari revolusi-revolusi media sosial, mobile dan komputasi awan terhadap komunikasi pelanggan dan minat para pemegang saham. Barangkali sudah waktunya Dewan Direksi dan para direktur sebuah perusahaan mereinvensi diri untuk mengikuti strategi bisnis aktual saat ini.

Dewasa ini dunia bisnis terus berubah dan berkembang, sayangnya dewan direksi perusahaan umumnya tidak terus berpacu dengan perubahan-perubahan itu. Bagaimana kita bisa tahu? Dari banyak survey, dewan direksi umumnya tidak memantau dan mengukur bagaimana  organisasi mereka berjalan. Yang mereka pantau dan ukur umumnya hasil keuangan, kepatuhan dan risiko hukum. Dampak teknologi baru pada operasional perusahaan, termasuk komunikasi sosial antara karyawan dan pelanggan serta para pemegang saham, umumnya terabaikan. Tentang risiko apa dan mahalnya biaya yang bisa ditanggung karena tidak menggunakan teknologi-teknologi dewasa ini dalam berkomunikasi dan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan, juga tentang pentingnya memiliki wawasan yang perlu berkaitan dengan jejaring bisnis para pemangku kepentingan perusahaan, umumnya juga tak sering diperhatikan para direktur.

Yang mengherankan, para direktur sadar bahwa keputusan yang tepat dan kuat atas dasar pertimbangan informasi yang jelas dan detail merupakan hal sangat penting untuk mengurangi risiko dan menjamin kelangsungan hidup usaha mereka. Tentu saja ini ironis dengan kenyataan bahwa sebagian dari mereka tidak memiliki pegangan pada nilai operasional teknologi-teknologi yang ditawarkan saat ini, atau kritis akan adanya "data besar" di sekitar sentimen pelanggan, keterlibatan karyawan dan wawasan investor. Ternyata itu terjadi karena mereka masih menggunakan perangkat tata kelola perusahaan dan strategi yang dikembangkan di zaman yang baik media sosial maupun mobile belum ada. Bahkan, bisa dipastikan bahwa kebanyakan dari mereka tak sadar akan adanya "awan" (cloud computing) yang patut dipertimbangkan.

Singkatnya, banyak direksi perusahaan saat ini memiliki keterampilan yang “perlu” dalam hal keteraturan dan kinerja keuangan, tapi tidak memiliki keterampilan yang "cukup" dalam hal yang  strategis atau melek teknologi. Mengapa? Karena selama bertahun-tahun para direksi perusahaan yang cerdik percaya, bahwa perangkat teknologi yang perusahaan seperti Facebook dan Twitter tawarkan itu tidak penting. Dalam pandangan mereka, sarana komunikasi baru itu hanyalah untuk anak-anak, hanya sedikit memiliki nilai bisnis, atau jika ada, tak berpengaruh pada risiko strategis, operasional atau keuangan. Sejauh mana mereka salah?

Sekarang mungkin Anda adalah bagian dari mayoritas anggota dewan direksi yang tidak menggunakan media sosial. Mungkin Anda percaya forum Anda dan organisasi tidak memerlukan keterampilan baru untuk menggunakan teknologi baru karena perangkat-perangkat itu tidak berlaku untuk industri Anda. 
Atau mungkin, Anda percaya pelanggan Anda, karyawan dan pemegang saham tidak memiliki media sosial atau tidak mobile. Bila demikian, mari dikaji lebih dalam.

Ketika Anda membaca ini, ada kemungkinan pelanggan dan karyawan Anda sedang berbagi pengetahuan mereka tentang organisasi Anda dan produk, layanan, penelitian dan budaya perusahaan, dengan pelanggan dan karyawan di perusahaan lain. Jika Anda tidak percaya, periksa feedback karyawan pada Glassdoor.com atau toko online Amazon sebagai pembanding. Dan ingat, para direktur perusahaan sekaliber Kodak, Blockbuster dan Borders juga mulai akrap dengan perangkat-perangkat yang diperlukan itu, meski belum cukup memiliki keterampilan untuk bersaing dalam dunia jejaring sosial. Selanjutnya, bertanyalah pada mereka bagaimana dampak negatif dari kurangnya keahlian mereka dalam teknologi digital.

Kabar baiknya, bila Anda salah satu mayoritas pemimpin perusahaan yang merasa kurang siap menghadapi realitas teknologi saat ini—sebagaimana ditunjukkan di banyak survei terbaru—, langkah yang sebaliknya belum terlambat untuk dilakukan dalam tata kelola perusahaan dan dewan direksi Anda. Jika Anda tidak ingin perusahaan Anda bangkrut seperti Borders dan sejenisnya, Anda dan sesama direksi masih memiliki kesempatan untuk memperbarui keterampilan dan membangun sebuah dewan direksi dengan kinerja yang lebih baik. Tetapi untuk mencapai tujuan ini, direksi perusahaan perlu menambah kelengkapan teknologi dan pengetahuan strategis menurut Oxley Sarbanes dan keahlian pelaporan keuangan. Untuk memulainya, ada tujuh langkah alternatif yang bisa dipertimbangkan. (Bersambung)

0 comments:

Post a Comment

Silakan memberikan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini. Terima kasih atas partisipasi Anda